Movie Review: Peppermint (2018)

Halo halo, gimana weekendnya? Sudah ada asupan film terbaru kah yang ditonton?

Belum?

Kalau gitu yuk simak review film terbaru rekomendasi Mommy Kippo.

Baca juga: 5 Rekomendasi Film Terbaik Buat Kamu!

Attention!

SPOILER ALERT! Kalau yang gak suka nonton terus kena spoiler bisa skip postingan ini tapi jangan lupa baca postingan yang lain yaa! Haha. Tapi, kalau butuh referensi tentang film ini bisa baca dengan tenang sampai beres ya. Insha Allah gak akan terlalu banyak spoilernya. Haha.

Oiya! Ini bukan review expert yang akan menjelaskan detail sampai ke teknik pengambilan gambar dan review akting ya. Cuma review dari seorang penonton aja. Here we go!

Jadi ceritanya kemarin baru nonton film dan gatel banget pengen langsung review di blog. Haha. Film ini berjudul Peppermint. Kalau kalian pikir filmnya bakalan bergenre drama melankolis yang menye-menye, ini stereotipe banget sih, karena biasanya yang berbau bunga atau wewangian ini biasanya drama gitu. Kalau sempet kepikiran hal yang sama, kalian salah!

Justru film ini bergenre action. Padahal kalau lihat posternya udah ketahuan kalau filmnya pasti berdarah-darah. Tapi emang dari pas ada di folder movie Momi belum sempet cari tahu film ini tentang apa sampai adek kesayangan pengen nonton di rumah.

Film ini dimulai dengan adegan berantem di dalam mobil. Yang dilakukan oleh Riley North (Jennifer Garner) seorang wanita badass yang sedang memukuli seorang preman. Setelah menang dari pertempuran yang sengit, Riley kembali ke van-nya dan mengobati lukanya akibat berantem di mobil tadi. Ada hadiah kecil untuknya, hadiah itu membawa ingatannya kembali ke kejadian 5 tahun yang lalu. Kenangan akan anaknya dan pertengkaran kecil dengan Peg (Pell James) orang tua dari teman anaknya.

Keluarga North awalnya memiliki kehidupan yang bahagia dengan keluarga kecilnya, hingga suatu ketika Mickey (Chris Johnson) datang menemui Chris North (Jeff Hephner) dan mulai merencanakan perampokan bandar narkoba besar Gracia (Juan Pablo Raba). Rencana perampokan itu bertepatan dengan hari ulang tahun Carly North (Cailey Fleming).

Hari berganti malam, Riley yang baru saja pulang kerja mendapati rumahnya sepi tidak seperti yang diharapkannya. Pesta ulang tahun Carly gagal total. Seluruh teman Carly yang diundang tidak ada yang hadir. Mereka pergi kepesta Penelope anak dari Peg. Carlypun sedih. Untuk menyenangkan hati Carly, Riley dan Chris mengajak Carly ke Karnaval Natal. Melihat keluarganya begitu bahagia hanya dengan tindakan kecil, Chris memutuskan untuk menolak tawaran Mickey karena tidak sepadan dengan resikonya.

Sayang, malang tak bisa dihidar untung tak dapat diraih. Kabar perampokan itu sudah sampai ketelinga Gracia. Anak buah Gracia sudah mengintai keluarga North.

Keluarga North yang tengah merayakan hari ulang tahun Carly dengan bahagia tidak menyadari kalau bahaya sedang mengintai mereka. Ice cream Peppermint! Ice cream kesukaan Carly yang menjadi penutup kebahagian keluarga North malam itu. Anak buah Gracia sukses membunuh Chris beserta anaknya. Tapi tidak dengan Riley yang tertembak dikepala namun masih bisa diselamatkan. Rileypun koma.

Keadaan mulai berubah ketika Riley bangun dari koma. Ia mengingat semua penjahat yang membunuh keluarganya. Sayang, Gracia merupakan orang yang memiliki pengaruh cukup besar sehingga bisa menyogok siapapun untuk membebaskan anak buahnya. Hakim dan pengacara contohnya. Keadilan tidak berpihak pada Riley sehingga para penjahat itu lepas.

Riley tidak menerima keputusan itu. Ia menuntut keadilan. Ia mulai menyerang tersangka dan menyebabkan ia ditahan polisi. Riley yang tengah pingsan sehabis membenturkan kepalanya ke jeruji penjara, harus dibawa ke RS dengan ambulance, ketika akan dinaikkan ke ambulance, Riley terbangun dan kabur.

Setelah 5 tahun lamanya, Riley kembali untuk menuntut keadilan. Ia membalas dendamnya dengan membunuh semua orang yang berhubungan dengan Gracia dan kasusnya dulu. Anak buah Gracia yang bertugas menghabisi Chris digantungnya satu-satu diatas Bianglala. Hakim dan pengacara yang disuap Gracia tidak luput dari pembalasan dendamnya. Teror balas dendampun semakin menjadi-jadi.

***

Film ini mengingatkan kita pada Die Hard atau Rambo yang dimana pemeran utamanya tidak mudah mati mau melawan penjahat sebanyak apapun. Tapi yang unik pemeran utamanya adalah seorang wanita, musuhnya dibuat tidak berdaya. Film yang mengajarkan jangan macem-macem sama mamak, kalau udah niat kalian bakalan habis!! Haha.

Peppermint asyik juga ditonton sama keluarga. Alurnya cukup cepat tapi tetap bisa dinikmati. Walau banyak adegan kekerasannya, tapi melihat akting Jennifer Garner keren banget. Ia mampu berperan baik dari seorang istri dan ibu yang manis, jadi wanita badass dan bikin gempar dunia. Sangat keren! Sekali lagi jangan tertipu dengan judulnya ya yang lebih mirip film drama melankolis, Peppermint film action yang cukup menyegarkan dunia perfilman saat ini.

PS: all image source form Google.com

4 thoughts on “Movie Review: Peppermint (2018)

  1. Jennifer Garner sih emang badass banget. Waktu jadi Elektra juga seksi dan keren abis.

    Sering liat poster film ini di Popcorn soalnya sering ada di urutan rekomendasi film di baris kedua atau ketiga gitu. Pengen nonton tapi kok takutt liat adegan violence-nya setelah baca review-nya Mba hahaha

    Makasih yaaa sharing-nya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *