Because I’m Very Happy To Share My Story!

Why I started blogging?

Aloha.. SELAMAT HARI BLOGGER NASIONAL!! Uwu! Dalam memperingati Hari Blogger Nasional, dikesempatan kali ini Momi mau bercerita tentang kenapa pada akhirnya memutuskan untuk nge-blog. Karena ternyata blog itu banyak manfaatnya lho! Semoga bisa diambil hikmahnya yaaa! Haha.

Semua berawal sejak 2009, blog pertama Momi itu tumblr (bisa disebut blog gak ya? 😂) sebenernya kalau dirunut lagi kebelakang itu blog pertama banget blogspot, itupun kepaksa. Iya, kepaksa! Karena waktu itu, semester awal kuliah, dosen English for Bussiness memberikan tugas bikin blog untuk post tugas. Jadi bener-bener kepaksa, gatau deh ya blognya masih ada apa gak. Kembali ke tumblr, website curhat pertama Momi. Agak gaptek juga sih dulu, ga gitu ngerti pake tumblr kayak gimana. Dulu juga punya gara-gara punya gebetan yang mainan tumblr juga. Haha, gak faedah banget memang hidupku. Sampai akhirnya malah curhat dan bikin cerpen-cerpen di tumblr (sayang sekarang diblokir, jadi ga bisa baca-baca lagi tulisan zaman dulu. Huhu) bercerita tentang pengalaman hidupku yang absurd banget. Hingga suatu ketika tahun 2013 ketemulah pujangga kata, jatuh cinta. Emang dasar gak jodoh, yang terjadi hanyalah Momi kemakan kata-kata manisnya dan bikin galau berbulan-bulan. Lagi-lagi, tumblr isinya sampah curahan hati wanita patah hati.

Kemudian pada bulan Mei 2015 hadirlah penyelamat hati yang mengubah hidup Momi saat itu, Papi G! Pertemuan dengan Papi G ini cukup unik, hanya bermodal niat pengen punya jodoh, eh dijabah sama Allah! Bener-bener ajaib. Dikesempatan lain mau cerita lengkap deh ya! Disini Momi semakin percaya bahwa Allah adalah sebaik-baiknya perencana.

Semenjak patah hati, Momi kehilangan segalanya, selera, nafsu, kayaknya datar banget hidupnya. Pas ketemu Papi G, hidup Momi mulai berwarna kembali. Emang dasar manusia lagi bahagia, bawaannya makaaaannn muluuu… Terus lagi zamannya juga kan foto-foto di Instagram, hingga akhirnya keluarlah hashtag #irrajajan diakun instagram @irraoctavia (jangan lupa follow yhaa! Haha, promosi). Karena makan mulu, dan suka posting di Instagram. Temen-temen jadi ketagihan akan postingan makanan dan info-infonya berguna bagi yang bingung mau makan apa. Setiap posting selalu dicari #irrajajan nya. Disini Momi masih belum kepikiran nge-blog karena waktu itu cuma punya tumblr. Jadilah setiap posting di-share ke tumblr. Tapi pernah sih tulis beberapa review makanan di tumblr (dan lagi-lagi kesel karena tumblr di blokir pemerintah. Huh!?).

Hingga Juli 2016 Momi yang lagi gabut di kantor akhirnya memutuskan buat merangkum semua review #irrajajan diblog. Dibuatlah the new #irrajajan post di wordpress. Postingan pertama di blog itu tentang review Konro Bakar Marannu dan Nasi Goreng Merah. Ternyata, hobi baru ngeblog ini hanya bertahan 2 bulan sajaa saudara-saudara. Setelah sekitar 10 postingan kalau gak salah, September 2016 Momi kelupaan ngeblog lagi dan sempet vakum 2 tahun lamanya.

Kalau ditanya, apa sih yang bikin gak konsisten ngeblog? Jawabannya satu: MOOD! bener deh, kalau gak mood, mau punya bahan sebagus apapun yaudah aja wassalam. Bisa gak ngeblog selama bertahun-tahun. Tapi, kalau lagi semangat dan moodnya bagus, dalam sehari bisa nulis blog sampai 5 postingan. Itulah hebatnya mood.

Lalu, Agustus 2018 hadirlah penyemangat blog (hidupku harus penuh motivasi. Hihi), dialah Rani Mantriani yang mulai membangkitkan kembali gairah menulisku lagi. Kami sama-sama mahasiswa Pascasarjana Widyatama yang kendor di thesis. Kegiatan kampus yang memaksa mahasiswa lapuk harus setor muka membuat kami lebih sering berinteraksi dan saling memberi semangat untuk menyelesaikan thesis. Setelah saling tanya tentang kegiatan masing-masing, Momi dibuat ngiler sama Rani yang sering banget ikutan event blogger. Sampai akhirnya Rani mengenalkan Momi sama beberapa komunitas Blogger baik Bandung maupun luar Bandung. Salah satunya adalah Bandung Hijab Blogger (BHB). Selama ini, Momi nulis hanya sendirian aja. Suka-suka. Terus selalu berfikiran, blog? Siapa sih yang masih ngeblog? Terus kepikiran lagi, kalau blogger itu individual. Momi gatau kalau ternyata dibalik pemikiran awam tentang blog ini dibaliknya ada banyak komunitas yang mengaunginya. Setelah bergabung dengan BHB, Momi jadi makin semangat menulis dan mulai mengaktifkan blog lagi. Seperti kali ini, Momi menantang diri untuk mengikuti “Collaboration October Week 4” dengan tema Why I started Blogging.

Agustus lalu, pas awal-awal gabung BHB, Momi pasti selalu Japri Rani nanya istilah-istilah blogging kayak BW (Blog Walking), PA/DA, TLD, dll. Lucu banget deh kalau inget waktu itu. Sekarang kalau pas ngeblog udah gak pernah mikir, ini tulisan siapa yang baca ya? Soalnya ada BW tiap minggu. Sekarang udah gak pernah mikir lagi kalau blog itu individual, ada banyak komunitas yang menaungi blogger. Dan ternyata banyak sekali event yang melibatkan para blogger. Jadi, ngeblog sekarang bukan cuma curhat belaka, tapi bisa juga jadi kerjaan yang menghasilkan uang. Uwu..

Selain bisa menghasilkan uang dan jadi stress relief, blogging juga bisa dijadikan sarana untuk menyebarkan kebaikan. Seperti Bandung Hijab Blogger (BHB) bekerja sama dengan Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang peduli dengan bencana Palu, Donggala dan Sigi. Mengajak rekan-rekan semua untuk ikut berdonasi membantu saudara kita di Palu, Donggala dan Sigi.

Kita percaya bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang berguna bagi yang lain.

Blog ternyata tidak bekerja secara individu, seperti Momi yang kali ini berkolaborasi dengan Teh Tiwi sesama member BHB yang membuat postingan blog dengan tema “Why I started Blogging“. Kalian bisa baca postingan Teh Tiwi di sini.

Blogging bukan sekedar hobi, blog juga tidak hanya berisi curhatan hati insan yang sedang patah hati, blog bisa membangkitkan semangat seseorang, blog dapat dijadikan sarana untuk membantu dan menolong sesama, blog bisa menjadi stress relief. Jadi, kalau ditanya lagi, why I started (again) blogging? Jawabannya, because I love eating and very happy to share it!

Thank you for reading.

Best regards.

Momi Kippo!

Bubur Ayam Pelana, Rasa Yang Tak Pernah Berubah!

Siapa yang tiap pagi selalu nyabu?! Angkat tangannya!

Lho.. lho..

Maksudnya nyabu = nyarapan bubur yaaa! Hihi..

Menurut surveymomi, 100% manusia yang hidup di seluruh belahan dunia ini pasti pernah makan bubur. Ya gimana hasil surveynya gak 100%, wong dari bayi kita udah pasti makan bubur kan? Apalagi pas MP-Asi. Walau bentuknya beda-beda, ada bubur beras, bubur jagung, bubur buah/sayur yang bahasa kerennya puree, dan bubur ayam.

Di Indonesia ternyata ada fakta unik tentang makan bubur.

  1. Bubur biasanya merupakan makanan orang sakit, karena ternyata diluar sana ada yang gak suka makan bubur dan menyebut kalau bubur adalah makanan orang sakit.
  2. Waktu makan bubur biasanya pagi hari pas sarapan, tapi ternyata bubur enak juga lho dimakan malam-malam.
  3. Ternyata ada perdebatan mengenai cara makan bubur: team diaduk vs team gak diaduk!
  4. Team bubur kental vs team bubur encer.
  • Kalau udah bahas fakta-fakta unik tentang bubur saatnya kita bahas bubur legendaris yang rasanya tak pernah berubah sedari dulu yaitu, Bubur Ayam Pelana! Bagi pecinta bubur, pasti udah gak asing ya sama Bubur Ayam Pelana ini (atau masih asing?). Bubur yang sekitar tahun 2005-an sempat berada dipuncak kejayaannya, memiliki banyak cabang dimana-mana. Bubur Ayam Pelana ini udah ada dari zaman Mam Ella dan Pap Ihin (orang tua Momi.red) pacaran. Yang artinya ini bubur udah lama sekali, berpuluh-puluh tahun lalu. Kedai pertamanya itu tentu saja di jalan Pelana, Bandung. Jalan yang telah menghasilkan banyak makanan gerobak terkenal dan unik yang sampai saat ini masih bertahan, seperti Batagor Pelana, Martabak bungkus nasi, Sate Pelana dan tentunya Bubur Ayam Pelana.
  • Bubur Ayam Pelana Cabang Moh.Toha
  • Sebenernya apa sih yang bikin Bubur Ayam Pelana ini beda? Sekilas kalau kita lihat buburnya sih nampak seperti bubur ayam lain pada umumnya, hanya saja tekstur Bubur Ayam Pelana ini lebih encer dibandingkan dengan bubur ayam lainnya dan selalu panas! Mungkin karena bubur ini dipanasin terus diatas kompor dengan api kecil jadinya bubur ini panas banget. Berbeda dengan bubur ayam lainnya yang biasanya cuma panas-panas kuku aja.
  • Bapaknya sedang melayani pelanggan, bapak ini merupakan anak dari pemilik Bubur Ayam Pelana
  • Penampakan Bubur Ayam Pelana, walau meja tak indah rasanya indah sekali.
  • Toppingnya pun standar bubur yang isinya ada cakwe, potongan ayam dan bawang goreng kriuk. Bumbu standar dari abangnya cuma kecap asin aja. Oiya, di sini gak disediain kecap manis dan kerupuk bubur yang kuning, ini ciri khas Bubur Ayam Pelana. Kurang enak dong kalo gak pake kerupuk? Justru itu! Pihak Bubur Pelana tidak melupakan orang-orang yang makan bubur harus pake kerupuk. Mereka menyediakan emping melinjo, kerupuk kotak pink dan kerupuk mie yang bisa dibeli terpisah. Untuk yang baru pertama kali makan Bubur Pelana mungkin akan agak aneh ya makan bubur pake kerupuk begitu. Tapi setelah coba, pasti ketagihan!
  • Bubur Ayam 1/2 porsi+kerupuk mie
  • Rasanya? Yang pasti beda kalau dibandingkan dengan bubur ayam lainnya! Momi dulu gak suka makan Bubur Pelana ini karena buburnya encer, jadi bikin sedikit eneg. Apalagi dulu, waktu masih kecil hampir tiap minggu sehabis lari dari Tegalega pasti selalu mampir makan Bubur Pelana ini. Belum lagi pas kuliah Sebelum nganter Mam Ella ngantor, pasti suka sarapan bubur ini dulu. Yang pasti kurang suka aja, dulu Momi penikmat bubur tidak diaduk dan kental. Sampai akhirnya beberapa waktu lalu, Pap Ihin ngajak nostalgia sarapan Bubur Pelana (kangen almh Mam Ella katanya), mulai dari situ kok rasanya gak pernah berubah ya? Masih sama seperti dulu. Pas makan lahap sekali sampai habis 2 mangkok setengah porsi-an. Haha! Kangen kali ya udah lama gak makan. Semua rasanya tetap sama, teksturnya, citarasanya, yang berubah cuma perut Momi yang mulai bisa menikmati bubur encer dan diaduk! Khusus buat Bubur Ayam Pelana saja!
  • Kalau bubur lain yang pernah Momi makan biasanya selalu dibubuhi rasa Umami/MSG, Bubur Pelana justru konsisten dengan hanya menambahkan kecap asin saja dan sedikit merica, kalau mau pedas bisa tambah sambal cabe yang encer. Citarasa asin pedas siap disantap disemangkok bubur tanpa tambahan topping aneh-aneh.
  • Suasana kedai Bubur Ayam Pelana
  • Sekitar tahun 2005-an dulu, agak lupa tepatnya kapan. Bubur Pelana ini ada dipuncaknya, cabangnya ada di mana-mana. Dulu kalau mau makan Bubur Pelana malam-malam tinggal pergi ke jalan Burangrang, tapi harganya sedikit mahal ya! Haha. Sekarang, kalau mau makan bubur ini malam-malam suka bingung, cabang di Burangrang sepertinya udah tutup. Soalnya pernah cek diaplikasi ojek online kedainya tutup terus. Etapi ini belum valid ya! Nanti kalau pas ke Burangrang malem-malem Momi update lagi ya!
  • Update!! Ternyata Bubur Ayam Pelana Cab. Burangrang sudah gak ada. Gak bisa nyicip Bubur Pelana malem-malem deh.
    • Tips!
  • – Kalau mau makan di sini, lebih baik pesen 1/2 Porsi, foto yang Momi sertakan itu foto 1/2 porsi bubur. Kalau masih laper, bisa pesen 1/2 porsi lagi. Haha. Soalnya kata adekku, 1 porsi bubur itu cuma sementung mangkok yang sama sedangkan 1/2 porsinya sebanyak itu kan? 3/4 mangkok. Makanya kalau beli 1/2 porsi dua kali, bisa dapet 1 porsi bubur yang lebih banyak. Haha. 😈 #teamogahrugi
  • – Makan bubur ini harus sama partner yang makannya kalem. Pengalaman makan sama Adek dan Pap Ihin, malah buru-buru dan jadi kurang enak. Yaaaa buburnya kan panas banget, kalau wanita lidahnya kurang tahan sama panas. Haha.
    • Harga:
  • Untuk 1/2 Porsi bubur cuma Rp 7.000 aja, sedangkan harga untuk 1 Porsi Rp 14.000. Murah kan?
    • Lokasi:
  • Lokasi Bubur Ayam Pelana paling deket dari Momi itu di Jalan Moh Toha depan Rumah Makan Padang Istana Ayam Pop, sebrang kantor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebelah sananya dikit.
    • Jam operasional:
  • Buka dari jam 06.00 – habis (biasanya sekitar jam 10.00)
  • Nah, kalau kalian masuk team mana nih? Bubur diaduk atau bubur gak diaduk? Bubur kental atau bubur encer? Atau kayak Momi? Fleksible gimana buburnya? Komen di bawah ya kalian masuk team yang mana!!
  • Verdict: Bubur Ayam Pelana Cabang Moh. Toha ini dikelola langsung oleh anak yang punya Bubur Ayam Pelana. Makanya rasanya otentik banget! Dan dari dulu masih beliau!
  • Chiao!
  • UMAMI, Rahasia Kelezatan Masakan Keluarga Yang Aman Dikonsumsi

    Aloha!

    Makan siang sama apa nih hari ini? Kalo Momi sama Soto Betawi buatan sendiri dong! Enak banget!!

    Sambil menemani makan siang, Momi mau cerita ya tentang hobi baru, Masak. Jadi, semenjak menikah intensitas memasak itu jadi semakin sering. Lebih hemat dan enak kalau masak sendiri kan? Bisa disesuaikan dengan selera. Apalagi Papi G makannya banyak (tapi gak gendut-gendut, huhu). Kita sama-sama orang yang doyan makan enak! Sebisa mungkin Momi masak berbagai macam menu. Mulai dari yang simple tumis-oseng sampai yang ribet banget kayak bikin dimsum, soto lamongan, soto betawi, ayam taliwang dll. Ribet, soalnya kan sambil belajar masak. Kalau sekarang udah lumayan jago sih. Hihi.

    Sebagai ibu-ibu yang hobi barunya masak dan lagi belajar, pasti pernah dong ngerasain beberapa kali masakannya ‘aneh’? Entah kelebihan bumbu atau bahkan kurang bumbu, atau juga pernah ngerasa bumbu udah kerasa tapi ada something missing gitu. Gula garam udah sesuai tapi masih ada yang kurang, tapi apaaa gitu.. Ternyata, yang hilang adalah citarasa dasar ke-lima. Dialah UMAMI! Iya, rasa gurih-gurih itu yang hilang. Seperti yang kita tahu basic taste itu kan ada manis, asam, asin, pahit. Tapi apakah kalian tahu kalau ada basic taste ke-lima yang jadi pelengkap ke-empat rasa itu? Penyempurna masakan? Jadi, apa itu UMAMI? Yuk simak sejarahnya.

    Sejarah UMAMI

    Berawal dari citarasa khas Jepang yang menggunakan kuah dashi sebagai bahan utama untuk hampir setiap masakannya, terbuat dari Kombu (sejenis rumput laut), membuat Ilmuwan Jepang Kikunae Ikeda meneliti rasa dari Kombu tersebut yang menyebabkan sebuah masakan jadi terasa enak. Pada tahun 1908, Dr. Kikunae Ikeda menemukan komponen utama pada Kombu yang merupakan asam glutamat. Hingga akhirnya pada 1912 Dr. Kikunae Ikeda menghadiri The 8th International Congress of Applied Chemistry, Washington-USA dan mempresentasikan rasa UMAMI. Pada tahun 1985 UMAMI diakui sebagai citarasa dasar ke-lima oleh kalangan ilmuwan dunia.

    Source: ajinomoto.co.id

    Seiring berjalannya waktu, penemuan makanan dengan citarasa UMAMI ternyata ada diseluruh dunia. Di Indonesia, UMAMI bisa kita dapatkan dari tempe, terasi dan tauco. Dan ternyata, Air Susu Ibu (ASI) juga kaya akan rasa UMAMI. Jadi sebenernya dari bayi juga kita udah merasakan rasa UMAMI. Senyawa yang membentuk rasa UMAMI ini berasal dari asam glutamat, melalui serangkaian proses maka terciptalah Monosodium Glutamat (MSG).

    Glutamat merupakan kunci dari rasa UMAMI.

    Jadi, kalau masak gak pake MSG ya gak bisa ketemu tuh rasa UMAMI-nya.

    Lalu, yang selalu jadi isu disetiap tahunnya itu adalah, aman gak sih MSG? Apalagi sekarang itu keluar jargon ‘Generasi Mecin’ atau ‘ahh. **** sih! Soalnya kebanyakan mecin!’ yang mengibaratkan karena kebanyakan makan mecin anak jadi gak bisa berpikir dan bodoh. Ckck. Betapa hal-hal kayak gini tuh jadi kekhawatiran orang tua ya, apalagi kayak Momi yang baru punya anak satu. Sempet kemakan isu itu, sampai akhirnya 12 Oktober 2018 lalu Momi hadir di acara Blogger Gathering Eat Well Live Well with UMAMI di Kapulaga Indonesian Bistro.

    Acara ini diselenggarakan oleh Ajinomoto dan Dream.co.id yang dihadiri oleh para Mom Blogger kece di Kota Bandung. Acara dibuka oleh bapak Muhammad Fachrurozy selaku Public Relation Departemen Manager. Beliau memberikan kesempatan bagi para Mommies untuk mengikuti acara dan bertanya kepada ahlinya tentang manfaat MSG bagi keluarga.

    Acara utama adalah sharing session dengan Prof. Purwiyatno Hariyadi yang merupakan Ahli Teknologi Pangan IPB.

    Prof. Purwiyatno Hariyadi saat menjelaskan tentang sejarah UMAMI

    Beliau menjelaskan mengenai proses sejarah terciptanya rasa UMAMI. Dikarenakan beliau merupakan dosen Pangan IPB, bahan presentasi yang diberikan lengkap dengan bagaimana proses senyawa MSG diciptakan. Dalam sesi ini Prof. Purwiyatno menunjukkan jurnal ilmiah yang meneliti tentang MSG dari segi kesehatan. Sejak ditemukan, banyak pro dan kontra mengenai MSG ini hingga dipenelitian terbarunya (2018) jurnal kesehatan menyatakan bahwa MSG aman dikonsumsi. Baca sekali lagi ya Mommies. MSG itu AMAN DIKONSUMSI dalam jumlah yang wajar ya! Karena segala sesuatu kalau berlebihan pasti gak baik yaaa!

    Pernyataan dari ahli pangan ini didukung oleh penelitian ilmiah yang menghasilkan jurnal-jurnal di bidang kesehatan. Jadi, begitu ya Mommies jangan percaya apa kata broadcastbroadcast yang berbau hoax dan tanpa dasar ilmiahnya! #turnbackhoax

    Mbak Dhatu Rembulan sebagai guest speaker juga berbagi pengalaman tentang masa-masa MP-ASI anaknya. “Jangan takut untuk kasih rasa UMAMI pada MP-ASI anak, takarannya disesuaikan dengan kebutuhan anak. Sekali lagi, jangan berlebihan ya.” begitulah kira-kira pesan Mbak Dhatu Rembulan yang menjadikan rasa UMAMI sebagai obat dari Gerakan Tutup Mulut (GTM) anak.

    Mbak Dhatu Rembulan berbagi pengalaman

    Acara tidak hanya sampai disitu. Dilanjutkan dengan cooking class bersama Chef Deny Gumilang yang merupakan finalis Master Chef Indonesia, Chef Deny juga mengajar mata kuliah pastry and bakery di Prasetya Mulya lho! Dalam setiap masakannya, Chef Deny tidak lupa menambahkan rasa UMAMI. Tuh kan! Chef aja pake MSG biar makanannya UMAMI.

    Cooking class with Chef Deny

    Ada dua menu yang disajikan dicooking class kemarin, yaitu Mie Kocok Bandung dan Chicken Milanese Sambal Matah. Keduanya ditambah Ajinomoto supaya UMAMI.

    Mie Kocok Bandung by Chef Deny

    Chicken Milanese Sambal Matah

    Keseruan juga berlanjut di penghujung acara. Semua Mommies yang hadir ditantang untuk melakukan plating challenge dan dipilih 3 orang pemenang. Sayang, waktu itu Momi gak menang. Hiks.

    Karya Chef Deny
    Suasana plating challenge
    Hasil Karya Momi. Wajarlah gak menang. Hihi

    Acara ditutup dengan sesi foto bersama. Beneran deh selain seru banget acaranya, kita-kita nih para Mommies yang doyan masak di rumah jadi gak ragu lagi buat menambahkan MSG disetiap masakannya. Semua mitos dipatahkan langsung oleh Prof. Purwiyatno Ahli Pangan IPB lengkap sama jurnalnya.

    Foto bareng Moms Blogger yang kece-kece

    Kenapa Harus UMAMI?

    Kenapa harus UMAMI? Mommies, jangan takut, jangan ragu, jangan bimbang buat pakai MSG disetiap masakan. MSG terbukti aman untuk keluarga, dengan dosis yang pas ya! MSG selain bikin makanan jadi semakin enak, ternyata rasa UMAMI-nya ini dapat membantu meningkatkan kualitas hidup pasien manula di Rumah Sakit. UMAMI juga dapat meningkatkan citra Rumah Sakit. Ternyata penggunaan garam-gula untuk mendapatkan rasa UMAMI itu tidak tepat. Dengan penambahan MSG, UMAMI dapat membantu diet rendah garam. Ajinomoto (MSG) yang merupakan sumber UMAMI, mengandung 78% glutamat, 12% sodium dan 10% air. Ajinomoto terbuat dari tetesan tebu alami.

    Buat yang pengen tahu lebih jelas tentang rasa UMAMI Ajinomoto ini, bisa langsung ke webnya di sini. Pssstt… Bagi yang penasaran sama proses pembuatan UMAMI di Pabrik Ajinomoto ini, kita bisa live streaming loh lewat websitenya! Cus!

    Best regards,
    Momi Kippo

    Mie Instan Organik yang Sehat Terbuat Dari Sayuran!

    Hayooo! Siapa yang suka banget makan mie instan, angkat tangan!!

    Pasti semua orang suka kan makan mie instan, baik kuah maupun goreng? Rasanya yang enak, gurih-gurih, harga yang murah meriah, serta kemasan yang praktis dan ringkas yang bisa dibawa-bawa dan dimakan kapan saja dalam keadaan apapun yang membuat mie instan ini banyak disukai oleh khalayak ramai. Gak kebayang kalau gak ada mie instan ini, mau makan mie harus ngolah dulu dari tepung. Gak bisa makan kapanpun, harus tunggu Abang kang Bakso lewat. Apalagi anak kost diakhir bulan gini, mie instan adalah solusi dikala uang bulanan belum dikirim. Hihi. All hail mie instan!

    Tapi, tahukah kalian, bahwa makan mie instan dalam jangka panjang dan sering itu bisa menyebabkan kanker? Haduh.. jangan sampai deh. Momi tidak anti mie instan, apalagi favorit Momi itu mie instan goreng “niqmat mana yang kau dustakan?” Hihi. Bisa makan double, karena satu bungkus mana cukup, khaaan?? Cuma, semenjak hamil kemarin, Momi tuh selalu mual kalau mencium bau penyedap, selama 8 bulan hamilpun Momi gak pernah ke dapur sama sekali, karena gak kuat sama wangi yang terlalu tajam. Seperti bau bumbu mie instan gitu. Sampai akhirnya Momi melahirkan dalam keadaan premature beberapa waktu lalu yang menyebabkan Momi mulai berfikir untuk mengurangi asupan micin kedalam hidup Momi. Hal ini semata Momi ingin hidup yang lebih sehat lagi. Walau berhenti makan mie instan itu sesusah memulai diet, cuma mentok di niat aja. Tapi setidaknya kita berusaha untuk mulai menguranginya.

    Sebagai awam yang sedang berusaha hidup sehat, pasti ada kalanya merasa bosan ya makan sayur mayur mulu, walau itu sehat. Bosan, karena karbonya pasti akan berakhir dinasi, walau bisa ganti yang lain, tapi kan makanan pokok Indonesia itu nasi. Sempat ingin menyerah dan kangen banget sama mie instan, sampai akhirnya Momi liat salah satu online shop yang menjual makanan organik langganan Momi lagi memperkenalkan Mie sayuran ini. Mie yang terbuat dari sayuran, yang katanya rasanya mirip sama mie instan favorit Momi. Waduh! Penasarankan? Bagai oasis ditengah padang gurun, ketika lagi bosan makan nasi ada pengganti karbo yang sekaligus mengobati rasa rindu pada mie instan. Mantap!

    Dialah Veggie Noodle All Natural dari Ladang Lima, bagi kalian pecinta makanan organik pasti udah tahu kalau produsen cemilan-cemilan enak, organik, sehat dan rata-rata gluten free itu ya pasti Ladang Lima ini. Produknya banyak banget, bukan cuma mie instan aja, tapi ada snack cookies almond yang Momi suka banget, Blackmond dan masih banyak lagi. Untuk review cookiesnya di post selanjutnya yaa…

    Dilihat lihat dari bungkusnya, Veggie Noodle ini cocok banget bagi kalian yang punya alergi telur. Keunggulan Veggie Noodle itu:

    • Egg free
    • Source of fiber
    • Low fat
    • No preservative
    • No MSG
    • No Artificial color
  • Benar-benar terbuat dari bahan alami ya dan cocok banget buat kalian yang lagi diet.
  • Kalau dilihat dalamnya, ukuran mie ini pipih dan cukup besar ya. Porsinya pun lumayan banyak. Beratnya sekitar 150 gram. Bisa dimakan berdua. Momi gak kuat kalau harus makan Veggie Noodle ini sendirian, soalnya ngenyangin banget. Akhirnya Momi makan sambil memanggil bala bantuan, papi G!

    Foto pas matengnya gak ada, karen udah penasaran banget pengen nyobain mie sehat ini. Pas inget mau difoto, eh udah ludesss..

    Rasanya menurut Momi sangat unik. Karena Momi memilih Veggie Noodle yang terbuat dari Tomat, jadi rasa mie nya itu asem-asem tomat. Enak deh seger. Dan ya, porsinya jadi banyak sekali, karena mienya kan mengembang. Untuk bumbunya dikasih 2 bungkus, sepertinya memang sengaja disiapkan untuk 2 porsi gitu deh. Tapi, karena Momi belum terbiasa dengan makanan sehat ini, menurut Momi walau bumbunya dikasih 2 bungkus, rasanya masih kurang berasa. Yaa secara kan kalau makan mie instan bumbunya melimpah banget, gurih-gurih. Kalau makan Veggie Noodle ini, jangan harapkan rasanya akan sekuat bumbu mie instan. Mirip sih sedikit, cuma kurang kuat aja. Karena yang sehat itu biasanya bumbunya tidak berlebihan kan? Hihi.

    Untuk varian rasanya lumayan banyak. Momi beli rasa Bayam dan Bit juga, ada rasa lainnya juga tapi Momi lupa rasa apa saja. Kalian bisa cari aja di platform e-commerce kesayangan kalian, cari Ladang Lima dan lihat produk organik apa saja yang mereka jual. Untuk rasanya, dijamin enak-enak! Kesampingkan dulu ekspektasi makanan organik akan sama dengan makanan instan atau makanan organik itu gak enak. Kalau sudah, kalian akan meniqmati kekayaan rasa sehat yang sesungguhnya. Hihi.

    Ini bener-bener honest review Momi ya mengenai produk Ladang Lima yang Veggie Noodle ini. Masih ada sisa 2 bungkus lagi. Nanti malem mau bikin lagi ah bareng Papi G!

    Chiao!

    Roti Bakar Legendaris, Cari Rasa

    Malem-malem tuh enaknya ngemil yang manis-manis ya? Anget-anget gitu. Biasanya sih kalau udah begini pilihannya cuma dua, kalau gak Martabak yaaa Roti Bakar. Lagi gak pengen yang berminyak, akhirnya pilihan jatuh pada roti bakar. Hmm… karena lagi malam mingguan di luar, sekalian deh mampir ke roti bakar paling legendaris di Bandung, Cari Rasa. Lokasinya di Jalan Kosambi, sebelah Pasar Kosambi. Kita sampai jam 19.45, tapi antriannya sudah panjaaaang sekali. Emang sih, roti bakar ini idola banyak orang. Bagaimana tidak, setiap ditanya roti bakar yang enak, pasti jawabannya jatuh ke sini. Di deket rumah ada juga yang jualan roti bakar Cari Rasa ini, franchise kayaknya. Tapi, Momi maunya yang original, mumpung sekalian lewat.

    Setiap lewat selalu ramai. Pas Papi G turun, dia agak shock liat antriannya. Panjang bener.

    Working Mom vs Full Time Mommy, mana yang lebih baik?

    Sebagai orang tua tumbuh kembang anak merupakan hal yang paling diperhatikan, setiap perkembangkan dicatat dan direkam baik dalam memory maupun jurnal, rasa-rasanya setiap orang tua tidak ingin ketinggalan golden age anaknya. Sebisa mungkin dilakukan demi anak. Full Time Mommy (FTM) memiliki kesempatan besar itu. Tapi, bagaimana dengan Working Mom (WM)? Ibu yang harus bekerja baik karena kebutuhan keluarga atau karena tidak betah tinggal di rumah dan terbiasa aktif semenjak sebelum menikah? Lalu, mana yang lebih baik bagi seorang Ibu? Menjadi FTM atau WM?

    Berawal dari curhatan salah satu Mommy di grup Menyusui yang Momi ikuti, tentang keresahan hatinya yang menjadi WM tetapi memiliki anak yang masih membutuhkan perhatiannya membuat dirinya menjadi risau dan ingin melepas karir, tetapi dia juga sadar betul bahwa dia belum siap untuk hidup tanpa rutinitas yang biasa dia lakukan. Dari kegelisahan itu maka muncullah pembahasan mengenai lebih baik mana antara FTM atau WM. Momi mau berbagi rangkuman hasil diskusi semalam ya.

    Pada dasarnya, seorang ibu memiliki peran yang sangat penting dalam keluarga. Seperti yang sering disebut, Ibu adalah Madrasahnya anak, guru pertama bagi anak, apa yang anak lakukan, akan menjadi apa, bagaimana anak berperilaku dan karakter anak ditentukan oleh ibu. Betapa mulianya jadi seorang ibu. Tapi, apakah tanggung jawab dalam mengurus dan mengatur tumbuh kembang anak harus dibebankan pada Ibu saja? Tentu tidak jawabannya. Ayah memiliki peran yang tak kalah pentingnya, ibarat Ibu yang mengajari anak dan jadi Madrasah pertama, Ayah memiliki peran sebagai Kepala Sekolah. Seseorang yang mengarahkan dan menentukan akan kemana dan bagaimana strategi yang dipakai dalam membesarkan anak. Itulah makna sesungguhnya dari pernikahan, saling melengkapi satu sama lain. Apalagi dalam urusan anak.

    Source: pixabay

    Menurut Momi, menjadi WM ataupun FTM mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sebagai WM, pasti tidak perlu kesulitan dalam mengatur keuangan keluarga, semua pasti terpenuhi. Sedangkan menjadi FTM, harus lebih pintar lagi dalam mengatur keuangan keluarga, karena penghasilan hanya dari satu dompet kan! Karenanya harap sabar ibu-ibu, belanja skin care-nya nunggu diskon yaa! Walau begitu, jadi WM sebeneranya jadi bekerja dua kali, selain kerja 9-5 WM juga harus dilanjut kerja di rumah dengan tidak meninggalkan kewajibannya sebagai seorang istri. Sedangkan FTM, walaupun tidak memiliki jam kerja yang terikat dan tidak perlu bekerja dua kali, FTM tetap memiliki jam kerja, yaitu 24 jam!

    Source: Pixabay

    Pada hakikatnya wanita memang ditakdirkan untuk kembali ke dapur, ranjang dan sumur. Mengutip dari penyataan seorang teman yang memiliki arti sebagai berikut: Dapur, Ibu harus memastikan seluruh anggota keluarganya dalam kondisi yang kenyang sehingga dapat menjalani hari-hari dengan baik dan tenang. Ranjang, jangan langsung berpikiran kotor ya! Maksud ranjang disini adalah, ibu harus memastikan seluruh anggota keluarganya nyaman ketika tidur, kenyamanan ini yang senantiasa menjadikan keluarga lebih harmonis. Yang terakhir Sumur, artinya Ibu harus memperhatikan penampilan seluruh keluarganya, enak dilihat. Kurang lebih seperti itu. Rasanya teori itu paling cocok bagi para FTM ya, karena mereka sudah mendedikasikan hidupnya demi keluarga. Tidak terbebani dengan pikiran yang terbagi dua antara urusan rumah atau pekerjaan. Tapi, WM juga bisa kok menerapkan teori itu.

    Lalu, bagaimana dalam urusan mencari nafkah sambil mengasuh anak? Dalam agama, mencari nafkah bagi seorang wanita hukumnya tidak wajib. Uang yang dihasilkan dari seorang wanita termasuk ke dalam sedekah bagi keluarga. Tetapi, zaman sekarang rasanya tidak cukup apabila hanya suami saja yang bekerja, kebutuhan yang semakin tinggi, membuat banyak wanita yang memutuskan untuk bekerja. Keputusan ini yang harus dibayar oleh WM dengan kehilangan masa golden age anak, tidak 100% kehilangan, tapi jadi tidak maksimal. Dipenuhi rasa bersalah ketika meninggalkan anak sendirian dengan pengasuh, harus belajar mempercayai orang lain dalam merawat anak. Sedangkan menjadi FTM, bisa 100% mengikuti masa golden age anak tetapi mengorbankan gelar dan ijazah yang sudah dicari selama 4-5 tahun ditambah kesempatan-kesempatan lainnya. Belum lagi komentar nyinyir netizen-keluarga yang nambah-nambahin beban dengan bilang sayang gelar ini itu dan lainnya.

    WM atau FTM semua ada konsekuensinya ya! Baik atau tidaknya semua kembali ke kebijakan Mommy dan Daddy-nya anak-anak. Komunikasi dalam pernikahan merupakan hal yang krusial. Satu hal yang perlu digaris bawahi adalah Apapun pekerjaan seorang Ibu, WM ataupun FTM, Ibu harus tetap bahagia. Karena anak hanya memerlukan Ibu yang bahagia, dengan Ibu yang bahagia anakpun akan bahagia. Sesederhana itu.

    Source: Pixabay

    Best regards,

    Momi Kippo

    Niqmatnya Bebek Sinjay Madura ada di Bandung!!

    Siapa nih penggemar bebek?! Siapa juga penikmat makanan pedas? Ayo angkat tangannya!

    Bagi sebagian orang, mungkin ada yang gak suka makan bebek karena bebek ini makanan yang kalau salah mengolah malah jadinya zonk! Daging bebek yang lebih amis dan kenyal membuat sebagian dari kita tidak bisa sembarangan makan bebek di tempat yang bukan langganan.

    Zaman pacaran sama Papi G dan lagi sibuk-sibuknya ngurus persiapan pernikahan. Momi tuh sering banget kelaperan karena belum makan dari siang, calon manten lagi riweuh gak sempet makan. Fyi, tukang rias Momi tuh jauh banget tempatnya, daerah Rancaekek yang memakan waktu 2 jam perjalanan (pas beres pernikahan, 27 Agustus 2017, tepatnya tanggal 01 September 2017 periasnya pindah rumah ke Buah Batu. 😂 kadang hidup selucu itu). Setiap pulang dari tempat rias selalu bingung mau makan apa. Pengen yang seger gitu. Dan entah gimana ceritanya, setiap pulang dari tempat rias pasti selalu mampir ke tempat ini! Ke resto bebek yang udah langganan banget. Yang berasal dari Madura, namanya Bebek Sinjay. Bebek Sinjay sudah jadi kuliner hits di daerah Bangkalan Madura-Jawa Timur sana, kalau mau makan kuliner khas, pasti diarahkannya selalu ke sini. Karena banyak yang suka dengan sambal mangganya dan rasa bebeknya yang khas dan nikmat banget. Meredakan gejala bridezilla, gak tahu lah kalau tak ada bebek Sinjay dikehidupanku. Bye bye sweety bride.

    Tapi, jauh ya Mom, harus ke Madura?

    Hey saudara! Jangan bersedih! Bebek Sinjay menjawab semua keluhan dan rasa penasaran para netizen. Bebek Sinjay ini memiliki banyak cabang di berbagai daerah. Di Bandung sendiri, Bebek Sinjay ini ada di Jalan Soekarno Hatta. Mungkin sebagian warga Bandung udah pada tahu ya tentang bebek ini. Lokasinya memang agak jauh dari pusat kota, agak ke Bandung Timur sana.

    Weekend lalu, sehabis pulang imunisasi di Rumah Vaksinasi Cibiru. Kita sempetin mampir ke RM Bebek Sinjay ini, karena memang searah pulang kan. Kondisi saat itu tidak memungkinkan kita buat makan di tempat. Karena Ilya lemes abis imunisasi. Kita memutuskan untuk makan di rumah aja. Bungkuss!! Jangan lupa minta sambal yang banyak.

    Cabangnya di mana-mana

    Untuk pengemasannya seperti makanan pada umumnya, pake kotak dus. Sambal mangganya dikasih banyak.. Pas sampai rumah, ternyata lupa kalau nasinya belum bikin. Alhasil, kita makan agak sorean dan bikin bebeknya gak sekriuk biasanya. Agak bete juga sih ya, tapi rasanya tetep enak kok. Soalnya udah laper bangeeeet.. Apalagi kalau makan pas masih hangat. Beuuuhh… Niqmat mana yang engkau dustakan pokoknya!! Kita pesan 2 dada bebek, totalnya jadi Rp 52.000. Kalau makan di tempat ada menu paketnya. Terakhir makan sih Rp 28.000 sudah termasuk nasi dan es teh manis. Kalau diganti es jeruk jadi Rp 32.000 an. Pas dibungkus agak kaget ya, kok segitu sekitar Rp 26.000 satunya, bebek doang. Naik kali ya, soalnya udah agak lama gak makan di sana.

    Kremes serundeng enaaa

    Untuk rasanya, aduh, susah berkata-kata. Karena ini adalah one of my favorite food ever! Bebeknya itu nyesss banget dimakan, gurih-gurih. Ditambah serundengnya dan sambal mangganya, makan pakai nasi hangat. Aduhay meleleh dimulut. Enak banget!! Asin pedes asem sambal mangga-nya itu benar-benar melengkapi bebek gorengnya. Tulangnya empuk, kadang Momi suka banget makan sama tulang-tulangnya. Hihi.. Bebeknya juga besar-besar. Jadi puas deh. Harganya juga standar harga bebek.

    Sambal Mangga pelengkap niqmat dunia

    Oiya, pas hari Sabtu kemarin ke sini, rumah makannya rame sekali. Biasanya ke sini pas makan malam. Sepiii.. sempet mikir kalau gak laku. Tapi ternyata setiap makan siang selalu penuh. Kalau ke sini, siap-siap gagal diet deh. Rasanya ngangenin banget!