Kisah Arky Gilang Wahab: Penggerak Perubahan Atasi Sampah

Kisah Arky Gilang Wahab: Penggerak Perubahan Atasi SampahBeberapa minggu terakhir sampah kembali menjadi trending di Kota Bandung. Hal ini dikarenakan banyaknya tumpukan sampah yang belum diangkut petugas di seluruh penjuru Kota Bandung.

Penumpukan sampah ini bukan tanpa alasan, setelah beberapa bulan lalu diberitakan jika 30 Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di sekitar Kota Bandung dinyatakan overcapacity oleh Pemkot Bandung. Kali ini penumpukan sampah terjadi akibat kebakaran di Tempat pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti yang membuat jalur distribusi sampah menuju TPA terhambat.

Tumpukan Sampah di Kota Bandung
Tumpukan Sampah di Kota Bandung (Sumber: Kompas)

Setidaknya 1.500 ton sampah dihasilkan oleh masyarakat Bandung setiap harinya. Bayangkan seberapa besar tumpukan sampah disetiap sudut Kota Bandung jika distribusinya ke TPA terhambat?

Salah satu cara untuk mengurangi permasalahan sampah ini ialah dengan mengelola sampah sendiri. Namun dengan jumlah penduduk 2,5 juta jiwa di Kota Bandung, berapa persen yang konsisten dalam mengolah sampah sendiri? Diperlukan kesadaran dari diri sendiri dan sosialisasi secara terus menerus agar masyarakat dapat turut serta menyelesaikan permasalahan sampah ini.

Keprihatinan terhadap permasalahan sampah di Kota Bandung membuatku bertanya-tanya, apakah ada Kota/Kabupaten di Indonesia yang telah sukses dalam mengolah sampah di daerahnya?

Pencarianku berakhir pada sebuah artikel tentang Kabupaten Banyumas yang berhasil mengolah sampahnya sendiri dan menciptakan ketahanan pangan dari hasil mengolah sampah. Gagasan ini berasal dari Arky Gilang Wahab, warga Desa Banjaranyar yang berhasil mengembangkan program budidaya maggot untuk menanggulangi masalah sampah.

Mengenal Sosok Arky Gilang Wahab

Alasan Arky memilih Maggot
Arky Gilang Wahab

Sampah merupakan masalah lingkungan yang tidak berkesudahan. Volume sampah  yang tidak terkendali menyebabkan tumpukan sampah seringkali kita lihat di sudut-sudut kota. Selain menjadi ‘pemandangan‘ yang kurang enak dilihat, bau tak sedap juga menjadi masalah yang dapat mengganggu aktivitas.

Seperti di Desa Banjaranyar, Kabupaten Banyumas. Banyaknya tumpukan sampah di sudut-sudut desa lambat laun menjadi masalah utama yang mengganggu aktivitas warga. Seperti bau tak sedap yang seringkali muncul hingga masalah kesehatan yang akan timbul dikemudian hari jika sampah tidak segera ditanggulangi.

Beruntung, Desa Banjaranyar memiliki pemuda bernama Arky Gilang Wahab yang menciptakan program untuk menanggulangi permasalahan sampah di desanya. Dibantu oleh adik ipar dan temannya, lulusan Teknik Geodesi ITB itu berhasil membudidayakan maggot yang digunakan untuk mengolah sampah menjadi pupuk organik yang dapat digunakan untuk menciptakan ketahanan pangan. Arky merupakan Founder Greenprosa, perusahaan limbah dan bioteknologi yang menjadi cikal bakal pengelolaan sampah dengan maggot. Perjalanan Arky dalam mengolah sampah tidaklah singkat, untuk mencapai keberhasilannya saat ini Arky membutuhkan proses yang panjang. 

Pengelolaan Limbah di Taman Safari Indonesia
Pengelolaan Limbah di Taman Safari Indonesia (TSI)

Dimulai pada saat Kabupaten Banyumas mengalami krisis sampah tahun 2018. Arky dan rekannya mulai mengelola sampah dari tiga rumah saja. Karena ketekunan nya, pada tahun 2019 pihaknya mampu mengelola sampah organik untuk satu desa. Semakin banyak maggot yang dibudidayakan, semakin meningkat pula sampah organik yang diserap. Hingga saat ini Greenprosa dan mitra telah mampu menyerap sampah organik hingga 60 ton per hari.

Dengan metode budidaya maggotnya itu, Arky mendapatkan apresiasi sebagai salah satu finalis pada ajang SATU Indonesia Award 2021 ke-12 yang diselenggarakan oleh PT Astra International Tbk.

Alasan Arky Memilih Maggot

Arky dan pengelolaan limbah organik menggunakan maggot
Arky dan pengelolaan limbah organik menggunakan maggot

Pada awalnya Arky dan rekan tidak langsung memilih maggot sebagai metode pengelolaan sampahnya. Mereka menggunakan metode composting dalam skala kecil, namun ternyata proses composting memerlukan waktu yang lama dan tempat yang luas. Hingga pada akhirnya mereka mencari metode lain untuk mengurai sampah, yaitu dengan maggot.

Maggot atau larva yang dihasilkan dari telur lalat Black Soldier Fly (BSF) dikenal dengan kemampuannya dalam mengolah sampah organik menjadi pupuk kasgot dengan cara yang lebih cepat dan tidak berbau. Larva BSF dapat mengurai limbah organik seberat 4-10 kali berat badannya. Dengan maggot, sampah organik dapat diurai dalam waktu 24 jam.

Maggot dan Dampaknya Terhadap Perekonomian

Maggot atau larva yang dihasilkan dari telur lalat Black Soldier Fly (BSF)
Maggot atau larva yang dihasilkan dari telur lalat Black Soldier Fly (BSF)

Tidak hanya dapat mengolah sampah organik, maggot juga menjadi komoditas. Pupuk yang dihasilkan dari limbah organik ternyata dapat digunakan sebagai solusi alternatif pupuk NPK dari pemerintah. Pupuk kasgot ini membuat tanah di area persawahan semakin subur, tanaman padi yang dipupuk dengan pupuk organik juga jadi lebih sehat.

Maggot BSF yang dibudidayakan Arky juga kaya akan protein dan nutrisi sehingga dapat menjadi pelengkap pakan ikan. Potensi ekonomi maggot sangat luas, setiap bulannya Arky dapat memproduksi 120 ton maggot dan menjualnya ke pasar maggot dengan omset sekitar Rp500 juta setiap bulannya. Selain mengubah sampah organik tanpa sisa, ternyata maggot juga memiliki nilai ekonomi yang fantastis.

Apresiasi SATU Indonesia Award 2021

Atas kerja kerasnya dalam mengatasi permasalahan sampah di daerahnya, Arky Gilang Wahab mendapatkan apresiasi SATU Indonesia Award tahun 2021 dari PT Astra International Tbk sebagai sebagai penggerak program sistem konversi limbah organik untuk ciptakan ketahanan pangan bidang lingkungan.

Penghargaan ini merupakan apresiasi dan dukungan dari Astra kepada Arky Gilang Wahab yang menjadi pelopor dalam melakukan perubahan untuk berbagi solusi dengan masyarakat sekitar dalam bidang lingkungan.

Penutup

Program maggot Arky Gilang Wahab telah turut membantu pemerintah Banyumas dalam mengolah sampah. Kolaborasi Arky dan pemerintah Banyumas telah membawa perubahan  yang lebih baik untuk Banyumas.

Arky Gilang Wahab menjadi contoh nyata pemuda yang memberikan dampak positif dengan peduli pada lingkungan sekitar dan menjadi penggerak perubahan dalam mengatasi permasalahan sampah di daerahnya. Dengan ketekunan dan kerja keras, Arky menjadi solusi untuk daerahnya sekaligus membuka peluang usaha dari sampah.

Kisah sukses Arky dalam mengolah sampah ini kiranya dapat menjadi inspirasi bagi semua generasi muda untuk dapat menjadi solusi dan bergerak mengambil tindakan nyata dalam menjaga keberlangsungan lingkungan. Semangat Untuk Hari Ini dan Masa Depan Indonesia.

Logo irraoctavia com baru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *