Bubur Ayam Pelana, Rasa Yang Tak Pernah Berubah!

Siapa yang tiap pagi selalu nyabu?! Angkat tangannya!

Lho.. lho..

Maksudnya nyabu = nyarapan bubur yaaa! Hihi..

Menurut surveymomi, 100% manusia yang hidup di seluruh belahan dunia ini pasti pernah makan bubur. Ya gimana hasil surveynya gak 100%, wong dari bayi kita udah pasti makan bubur kan? Apalagi pas MP-Asi. Walau bentuknya beda-beda, ada bubur beras, bubur jagung, bubur buah/sayur yang bahasa kerennya puree, dan bubur ayam.

Di Indonesia ternyata ada fakta unik tentang makan bubur.

  1. Bubur biasanya merupakan makanan orang sakit, karena ternyata diluar sana ada yang gak suka makan bubur dan menyebut kalau bubur adalah makanan orang sakit.
  2. Waktu makan bubur biasanya pagi hari pas sarapan, tapi ternyata bubur enak juga lho dimakan malam-malam.
  3. Ternyata ada perdebatan mengenai cara makan bubur: team diaduk vs team gak diaduk!
  4. Team bubur kental vs team bubur encer.
  • Kalau udah bahas fakta-fakta unik tentang bubur saatnya kita bahas bubur legendaris yang rasanya tak pernah berubah sedari dulu yaitu, Bubur Ayam Pelana! Bagi pecinta bubur, pasti udah gak asing ya sama Bubur Ayam Pelana ini (atau masih asing?). Bubur yang sekitar tahun 2005-an sempat berada dipuncak kejayaannya, memiliki banyak cabang dimana-mana. Bubur Ayam Pelana ini udah ada dari zaman Mam Ella dan Pap Ihin (orang tua Momi.red) pacaran. Yang artinya ini bubur udah lama sekali, berpuluh-puluh tahun lalu. Kedai pertamanya itu tentu saja di jalan Pelana, Bandung. Jalan yang telah menghasilkan banyak makanan gerobak terkenal dan unik yang sampai saat ini masih bertahan, seperti Batagor Pelana, Martabak bungkus nasi, Sate Pelana dan tentunya Bubur Ayam Pelana.
  • Bubur Ayam Pelana Cabang Moh.Toha
  • Sebenernya apa sih yang bikin Bubur Ayam Pelana ini beda? Sekilas kalau kita lihat buburnya sih nampak seperti bubur ayam lain pada umumnya, hanya saja tekstur Bubur Ayam Pelana ini lebih encer dibandingkan dengan bubur ayam lainnya dan selalu panas! Mungkin karena bubur ini dipanasin terus diatas kompor dengan api kecil jadinya bubur ini panas banget. Berbeda dengan bubur ayam lainnya yang biasanya cuma panas-panas kuku aja.
  • Bapaknya sedang melayani pelanggan, bapak ini merupakan anak dari pemilik Bubur Ayam Pelana
  • Penampakan Bubur Ayam Pelana, walau meja tak indah rasanya indah sekali.
  • Toppingnya pun standar bubur yang isinya ada cakwe, potongan ayam dan bawang goreng kriuk. Bumbu standar dari abangnya cuma kecap asin aja. Oiya, di sini gak disediain kecap manis dan kerupuk bubur yang kuning, ini ciri khas Bubur Ayam Pelana. Kurang enak dong kalo gak pake kerupuk? Justru itu! Pihak Bubur Pelana tidak melupakan orang-orang yang makan bubur harus pake kerupuk. Mereka menyediakan emping melinjo, kerupuk kotak pink dan kerupuk mie yang bisa dibeli terpisah. Untuk yang baru pertama kali makan Bubur Pelana mungkin akan agak aneh ya makan bubur pake kerupuk begitu. Tapi setelah coba, pasti ketagihan!
  • Bubur Ayam 1/2 porsi+kerupuk mie
  • Rasanya? Yang pasti beda kalau dibandingkan dengan bubur ayam lainnya! Momi dulu gak suka makan Bubur Pelana ini karena buburnya encer, jadi bikin sedikit eneg. Apalagi dulu, waktu masih kecil hampir tiap minggu sehabis lari dari Tegalega pasti selalu mampir makan Bubur Pelana ini. Belum lagi pas kuliah Sebelum nganter Mam Ella ngantor, pasti suka sarapan bubur ini dulu. Yang pasti kurang suka aja, dulu Momi penikmat bubur tidak diaduk dan kental. Sampai akhirnya beberapa waktu lalu, Pap Ihin ngajak nostalgia sarapan Bubur Pelana (kangen almh Mam Ella katanya), mulai dari situ kok rasanya gak pernah berubah ya? Masih sama seperti dulu. Pas makan lahap sekali sampai habis 2 mangkok setengah porsi-an. Haha! Kangen kali ya udah lama gak makan. Semua rasanya tetap sama, teksturnya, citarasanya, yang berubah cuma perut Momi yang mulai bisa menikmati bubur encer dan diaduk! Khusus buat Bubur Ayam Pelana saja!
  • Kalau bubur lain yang pernah Momi makan biasanya selalu dibubuhi rasa Umami/MSG, Bubur Pelana justru konsisten dengan hanya menambahkan kecap asin saja dan sedikit merica, kalau mau pedas bisa tambah sambal cabe yang encer. Citarasa asin pedas siap disantap disemangkok bubur tanpa tambahan topping aneh-aneh.
  • Suasana kedai Bubur Ayam Pelana
  • Sekitar tahun 2005-an dulu, agak lupa tepatnya kapan. Bubur Pelana ini ada dipuncaknya, cabangnya ada di mana-mana. Dulu kalau mau makan Bubur Pelana malam-malam tinggal pergi ke jalan Burangrang, tapi harganya sedikit mahal ya! Haha. Sekarang, kalau mau makan bubur ini malam-malam suka bingung, cabang di Burangrang sepertinya udah tutup. Soalnya pernah cek diaplikasi ojek online kedainya tutup terus. Etapi ini belum valid ya! Nanti kalau pas ke Burangrang malem-malem Momi update lagi ya!
  • Update!! Ternyata Bubur Ayam Pelana Cab. Burangrang sudah gak ada. Gak bisa nyicip Bubur Pelana malem-malem deh.
    • Tips!
  • – Kalau mau makan di sini, lebih baik pesen 1/2 Porsi, foto yang Momi sertakan itu foto 1/2 porsi bubur. Kalau masih laper, bisa pesen 1/2 porsi lagi. Haha. Soalnya kata adekku, 1 porsi bubur itu cuma sementung mangkok yang sama sedangkan 1/2 porsinya sebanyak itu kan? 3/4 mangkok. Makanya kalau beli 1/2 porsi dua kali, bisa dapet 1 porsi bubur yang lebih banyak. Haha. 😈 #teamogahrugi
  • – Makan bubur ini harus sama partner yang makannya kalem. Pengalaman makan sama Adek dan Pap Ihin, malah buru-buru dan jadi kurang enak. Yaaaa buburnya kan panas banget, kalau wanita lidahnya kurang tahan sama panas. Haha.
    • Harga:
  • Untuk 1/2 Porsi bubur cuma Rp 7.000 aja, sedangkan harga untuk 1 Porsi Rp 14.000. Murah kan?
    • Lokasi:
  • Lokasi Bubur Ayam Pelana paling deket dari Momi itu di Jalan Moh Toha depan Rumah Makan Padang Istana Ayam Pop, sebrang kantor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebelah sananya dikit.
    • Jam operasional:
  • Buka dari jam 06.00 – habis (biasanya sekitar jam 10.00)
  • Nah, kalau kalian masuk team mana nih? Bubur diaduk atau bubur gak diaduk? Bubur kental atau bubur encer? Atau kayak Momi? Fleksible gimana buburnya? Komen di bawah ya kalian masuk team yang mana!!
  • Verdict: Bubur Ayam Pelana Cabang Moh. Toha ini dikelola langsung oleh anak yang punya Bubur Ayam Pelana. Makanya rasanya otentik banget! Dan dari dulu masih beliau!
  • Chiao!
  • You Might Also Like

    27 Replies to “Bubur Ayam Pelana, Rasa Yang Tak Pernah Berubah!”

      1. Di jatinangor ada juga bubur ayam parantina itu sama sebenarnya sama juga dengan bubur ayam pelana cuma beda cabangnya doang

    1. Hehehe iya juga ya.
      bubur tuh makanannya orang sakit.
      saya dulu waktu kecil, kalau sakit selalu dimasakin bubur.

      eh tapi sehat pun kadang kami sarapan bubur.

      cuman kalau bubur ayam saya agak gimana gitu, gak biasa soalnya.

      dulu mama saya masak bubur pakai santan dan garam.
      kami makan bubur pakai telur rebus atau kadang ikan goreng.

      belum pernah makan bubur pakai kuah lauk kayak bubur ayam, apalagi di kasih kecap hahaha.

      tapi sejak punya anak, saya jadi sedikit familier ama bubur ayam 🙂

    2. Kami rutin sarapan pagi setiap Selasa dan Jumat di pasar kecamatan. Soalnya pasar di kecamatan kami hanya ada dua hari itu. Hari lain ga ada pasar. Maklum di kampung.

      Nah hari Selasa dan Jumat itu kadang kami beli bubur, nasi kuning, lontong, ketupat atau mie apalah… Kalau sarapan bubur, biasanya diaduk kecuali kerupuk karena memang kerupuknya diberi terpisah. Kalau ga diaduk bumbu gak akan merata dong ya hehehe…

      Kalau di Cianjur kota, ada bubur ayam legendaris yang sudah terkenal bubur ayam Cianjur. Sudah pernah coba bubur ayam Cianjur belum? Di Bandung juga banyak kok…

    3. Wah kalau ke bandung harus cobain ini nih … Setuju banget deh semua pasti pernah makan bubur, pemikiran yang sesuai logika, dari baby pasti pernah makan bubur, hohoho…

    4. eh gak cuma orang sakit yang makan bubur Kak, aku juga kadang sarapan bubur ayam loh 😀 hehe. Wah bubur ayam Pelana asik nih bisa beli setengah porsi. Kadang kalo beli satu porsi, dan gak segera habis khan jadi mencair soalnya. Makasih kak review buryamnya ini. Ah baca siang-siang jadi laper nih. Besok pagi beli buryam deh 😀

    5. Aku baru tau Bubur Ayam Pelana ini suami gak pernah cerita mungkin dia juga gak tau hihihi, ini mirip sama bubur kesukaan aku di rumah Tangerang bubur cakue pake kecap asin. Aku emang gak suka bubur yang pakai kecap manis, wajib coba nih siapa tau rasanya bisa bikin mengobati kangen rumah 😀

    6. Haha iya bener banget mba, kemungkinan besar 100% org Indonesia pernah konsumsi bubur ya. Aku sejak lahiran some how ga suka bubur padahal sebelumnya bubur ini jd andalan sarapan pagi. Tapi belakangan nyoba lagi dan mulai suka lagi. Btw harga bubur pelan terjangkau bgt.

    7. Emang iya mba kalau suami bilang makan bubur mang makanan orang sakit wkwkk soalna dy klo dah makan bubur pasti udah mulai ga enaknbadan..
      klo aku tim fleksibel juga yg penting rasanya enyak haahha

    8. Aku tim enggak diaduk dan kental..
      Sayang suamiku ga suka bubur katanya makanan orang sakit kok dimakan huhuhu
      Jadi kalau beli bubur sama anak-anak aja..Ada warung bubur di dekat rumah yang buka pagi dan buka lagi di sore hari. Atau makan bubur dari penjaja keliling yang lewat depan rumah
      Aku jadi penasaran dengan Bubur Pelana , awet begini pasti resepnya melegenda:)

    9. Elaaah masuk juga tim bubur diaduk dan ga.. hahaha.. siapa bilang bubur buat sarapan aja? Justru disini bubu jualannya sore nih. Dan sarapan dgn bubur tidak mengenyangkan, sementara utk sarapan diperlukan makanan padat yg mengenyangkan minimal sampai jam 10 deh.

    10. Setiap ART yang kerja di rumah, gak pernah suka sarapan bubur karena di kampung mereka bubur cuma untuk orang sakit. Lah aku mah tiap weekend sarapannya lebih sering bubur.

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *