Ayam SPG! Ayam Goreng Serundeng dengan Sambal Yang Menggoda

Hah? SPG? Sales Promotion Girl? Tapi jualan ayam? Gimana-gimana?

Dari namanya pasti banyak yang nebak kalau Ayam SPG ini merupakan ayam yang dijual melalui SPG, atau mungkin ada yang berpikiran SPG ini singkatan lain. Nyatanya Ayam SPG ini hanyalah ayam goreng serundeng biasa yang dijual dipinggir jalan. Denger cerita sih kenapa akhirnya disebut ayam SPG karena dari dulu yang makan di warung makan ini kebanyakan SPG Yogya Kepatihan. Iya, kedai ayam SPG ini dekat sekali dengan Grand Yogya Kepatihan.

Awalnya kenal ayam SPG ini pas pertengahan kuliah sekitar tahun 2011-an. Ada ayam goreng enak dengan sambal yang mantap. Lupa siapa yang pertama kali mengenalkan ayam SPG ini, tapi aku berterima kasih karenanya aku jadi kenal ayam goreng dengan sambel terendeus!

Sebenernya ayam ini udah terkenal dari dulu. Tahun 2011 aja kedainya punya 2 apa 3 cabang ya lupa. Uniknya, cabang mereka ini gak jauh-jauh dari tenda aslinya, masih sejajaran. Jadi kayak tetanggaan gitu. Jadi, sepanjang Jl. Balong Gede isinya didominasi sama Ayam SPG.

Ayam SPG dan cabangnya

Sekarang, ayam SPG makin banyak cabangnya. Di Balong Gede sendiri, ayam SPG udah punya tempat makan yang berbentuk rumah. Gak usah ditanya deh kalau yang berupa kedai ada berapa. Nambah banyak! Bahkan, ayam SPG mulai ekspansi ke daerah yang dekat kampus. Contohnya di UNPAD DU dan UNIKOM. Cari deh ayam SPG, pasti ada.

Yang bikin laku apa sih? Mungkin selain doa ibu dan kerja keras selama bertahun-tahun, ayam SPG ini terkenal dengan harganya yang murah dan sambalnya yang pedas. Tahun 2011 nasi+ayam dihargai cuma Rp11.000 sajaaa. Murah banget kan? Cocok buat kantong mahasiswa dan para pegawai sekitar Balong Gede.

Ayam SPG ini besar-besar lho! Kadang suka gak abis saking kegedean. Nasinya juga bebas refill, ambil sepuasnya. Mantap! Sambalnya juga! Tapi, kalau cabe lagi mahal, biasanya sambalnya dijatah. Haha.

Nasi, ayam, serundeng dan sambal udah cocok banget! Maunya lagi dan lagi. Duh, jadi ngiler. Oiya, selain ayam dan serundeng ada tambahan lainnya kayak tumisan sayur dan tempe mendoan.

Sambalnya yang pedas dan endeus banget!

Semenjak ayam SPG makin terkenal untuk khalayak umum. Jl. Balong Gede mulai dijadikan kawasan wisata kuliner Balong Gede. Seharusnya dari dulu sih! Soalnya kan lokasinya dekat kemana-mana seperti Alun-Alun Bandung, Masjid Agung Jawa Barat, Kantor Pendopo Walikota Bandung dan pusat keramaian lainnya.

Kalau kalian ke Bandung dan berencana main ke tempat-tempat itu, harus banget nyobain ayam SPG ini! Carinya ayam SPG! Mau pilih yang mana pun rasanya sama aja! Endeuuuss!

Price:

Nasi+Ayam Paha Rp20.000

Nasi+Ayam Dada Rp22.000

Sayur Rp1.000

Address: Jl. Balong Gede, Bandung

Segarnya Menikmati Garang Asem Semarang di Bandung

Selamat siaaang!

Bentar lagi udah jam makan siang nih. Biasanya kalau mendekati jam makan siang gini otak udah mulai muter mikirin mau makan apa. Seperti biasa Momi kasih rekomendasi makan siang hari ini.

Garang Asem, awalnya Momi pikir ini makanan khas Cirebon, ternyata makanan ini berasal dari Semarang. Kalau Cirebon ya empal gentong. Hehe.

Ekspektasi pertama pas diajakin makan garang asem ini masih kebayang empal gentong. Sampai akhirnya tiba di resto-nya dan mulai melihat gambar menunya. Loh, kok beda ya sama yang dibayangkan? Ya jelas..

Sebenarnya masih agak maju mundur mau pesen garang asem atau soto ayam kampung. Karena dari gambarnya kurang menarik. Memang udah rejeki Momi yang harus nyobain garang asem ini, karena pas saat itu hanya tersedia menu garang asem daging sapi.

Ketika datang, dari wanginya agak menyengat. Gimana ya? Momi kurang suka makanan yang wangi serai dan daun salam terlalu menyengat. Kurang enak aja dicium.

Tapi pas dicoba, ternyata rasanya enak banget! Segeeerrr.. kirain bakalan enek sama santan. Ternyata, gak pake santan sama sekali. Garang asem dibuat pake kemiri, jadi yang putih-putih itu kemiri. Isinya menurut Momi sih terlalu banyak rempah, apa memang seperti itu? Soalnya dari semangkuk penuh garang asem, dagingnya cuma setengah. Sisanya rempah-rempah semua. Hehe.

Rasa asam segarnya, berasal dari belimbing wuluh. Baru kali ini loh Momi makan belimbing wuluh. Ternyata, selama ini Momi belum terlalu banyak menjelajah wisata kuliner nusantara!

Baca juga: Bebek Sinjay di Bandung

Ada yang menarik dari resto garang asem ini. Mereka punya emping dengan ukuran yang besar dan dibalut gula merah. Rasanya enak banget. Gurih-gurih. Gak tahu deh ini namanya apa dan apakah khas Semarang juga atau cuma ada di resto ini aja. Yang pasti enak banget nyemilin ini.

Resto garang asem ini terletak di Jl. Indrayasa, Mekar Wangi, Bandung. Sejajaran dengan ruko jasa pengiriman.

Baca juga: Pengalaman Berkunjung ke Kampoeng Sawah Bandung

Harga:

Garang asem sapi: Rp 28.000/porsi

Nasi: Rp 5.000

Sate: Rp 4.000/tusuk

Emping: Rp 2.500/keping

Kerupuk: Rp 1.000/bh

Cooking Time: Ayam Rica-Rica Kemangi

Halo! Udah weekend lagi aja nih. Biasanya kalau weekend kayak gini enaknya diisi dengan berkumpul dengan keluarga sambil makan-makan! Nah! Pas banget kan? Hari ini aku mau share resep Ayam Rica-Rica Kemangi ala Irra!

Sedikit cerita dulu ya tentang segmen Cooking Time ini. Semua bermula ketika aku mengikuti BPN 30 day challange. Ada tema pekerjaan rumah yang paling disukai, dengan mantap aku menulis tentang hobiku, Masak! Karena seluruh kehidupanku gak jauh dari masak dan makan, oleh karena itu aku memutuskan untuk menghadirkan tema ini! Cooking time with Irra. Yaaay!!

Baca juga: Cooking time: Resep Siomay Ayam Udang dan Chilli oil

Kalau begitu mari kita sudahi prolognya dan lanjut ke resep ayam rica-rica kemangi.

Bahan-bahan:

– 1 kg Ayam

– Daun Jeruk

– 1 ikat kemangi segar

– Jeruk Nipis

– 500 ml Air atau secukupnya

– Minyak secukupnya untuk menumis

– Gula, Garam, Merica dan Penyedap secukupnya

Bumbu halus:

– 4 siung bawang merah

– 4 siung bawang putih

– 5 bh cabe merah besar atau sesuai selera

– 10 bh cabe merah keriting atau sesuai selera

– 30 bh cabe merah rawit atau sesuai selera

– 1 ruas jahe

– 1 ruas kunyit

Note:

Sengaja pakai cabe merah dan keriting yang banyak biar warnanya cantik. Untuk rasa pedas bisa diatur dari banyaknya cabe rawit merah. Makin pedas makin segarrrr..

Cara membuat:

– Cuci bersih ayam lalu diamkan. Bisa dibaluri dengan jeruk nipis agar tidak terlalu amis

– Buat bumbu halus, bisa diblender atau diulek. Kalau mau diblender, tambahkan sedikit minyak agar hasilnya jadi halus banget.

– Panaskan minyak di wajan. Kemudian tumis bumbu halus dan daun jeruk sampai matang, wangi dan bau langunya hilang. Tandanya bisa dilihat dari warnanya yang berubah jadi lebih cantik.

– Masukkan air sedikit-sedikit, tambahkan gula, garam, merica dan penyedap secukupnya sesuai selera.

– Masukkan ayam, kemudian tunggu sampai ayam matang sempurna.

– Setelah ayam matang, masukkan daun kemangi dan aduk merata. Lebih enak kalau kemanginya gak terlalu layu.

– Tada! Ayam rica-rica kemangipun sudah siap disajikan.

***

Baca juga: Ayam Goreng Nelongso

Menu ini jadi menu favorit Papi G. Dia bisa makan berkali-kali. Senang rasanya ketika lihat makanan kita dinikmati dan disantap habis. Sederhananya bahagia mamak-mamak.

Rumah Makan Padang Enak di Bandung Yang Harus Kamu Tahu

Halo!

Selamat tahun baru 2019!! Selamat membuka lembaran baru dari kehidupan. Semoga tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya.

Tahun baru itu selalu identik dengan yang namanya liburan, apalagi waktunya bertepatan dengan libur semester anak sekolah maupun kuliah, pasti banyak banget dong yang pergi liburan. Bandung masih merupakan tempat tujuan wisata terfavorit, lengkap banget kalau mau liburan di Bandung. Mulai dari wisata alam, wisata mall, wisata taman sampai wisata selfie ada semua. Kulinernya pun gak kalah seru! Oleh karena itu, dalam rangka menyambut wisatawan lokal maupun internasional yang sedang liburan tahun baru, Momi mau berbagi tempat makan Masakan Padang ter-enak di Kota Bandung! 😆

Siapa sih yang gak suka Masakan Padang? Kayaknya masakan Padang ini selalu bisa diterima oleh lidah manapun. Rasa makanan yang pedas dan kaya akan rempah ini selalu jadi pilihan ketika kita bingung mau makan apa. Ya kan? Dikesempatan kali ini, Momi kasih tahu nih Rumah Makan Padang mana aja yang terkenal di Bandung dan harganya bersahabat! Yuk simak!

Baca juga: 5 Tempat Makan Favorit di Bandung ala #irrajajan!

1. RM Malah Dicubo

Kayaknya semua orang udah pada tahu ya dengan rumah makan ini? Selain RM Padang (RMP) yang katanya Sederhana itu, salah satu RMP paling terkenal di Bandung adalah RM Malah Dicubo! Apa sih yang buat RMP ini terkenal? Konon ceritanya, RMP ini menggunakan rempah-rempah yang dikirim dari Padang langsung. Rasanya mencerminkan Masakan Padang yang sesungguhnya.

Ada banyak cerita yang Momi dengar dari teman-teman asli Padang, mereka yang pertama kali mencoba masakan Padang di Bandung merasa kalau Nasi Padang di tempat lain tidak seperti Nasi Padang di tempat mereka. Entahlah apa bedanya, karena Momi belum pernah ke Padang sama sekali. Tapi, lain ceritanya ketika mereka langsung diajak makan ke RM Malah Dicubo ini. Semua sepakat kalau rasa masakan Padang disini sama kayak masakan Padang di sana. Tanggapan yang sama juga datang dari keluarga besan sepupu yang orang Padang, mereka suka makan di sini. So, kalau kalian mau makan masakan Padang Asli, disini tempatnya!

Untuk ragam makanannya ada banyak khas masakan Padang, tapi yang jadi favorit Momi dan Papi G adalah Daging Cincang dan Dendeng Balado! Rendang-nya juga enak, rasanya lekoh kalo bahasa Sunda. Aduh! Bayanginnya langsung ngiler nih. Nasi yang dipiring cuma dikasih satu porsi, tapi jangan sedih, selalu disediakan satu porsi tambahan dipiring kecil. Jangan khawatir kemahalan, harga nasi tambahannya cuma Rp 1.500 sajaa, eh apa Rp 2.000 ya? Ya sekitar segituan yaa! Haha.

Setelah makan yang pedas-pedas, jangan lupa ditutup dengan Es Timun Serut. Segarnya parutan timun ditambah cincau hitam, dikasih gula dan es batu. Duh, rasanya itu segeeerr banget. Menenangkan perut dan lidah yang habis bertarung melawan pedas. Nyam!

Untuk lokasinya terletak di Terminal dekat Stasiun Bandung. Tempatnya kecil, gak terlalu besar. Biasanya pengunjung yang datang ke sini pegawai PT KAI, penumpang kereta yang kelaperan, warga yang habis berbelanja di Pasar Baru atau warganet kayak Momi yang ingin merasakan citarasa masakan Padang Asli! Kalau lagi rame suka gak kebagian tempat. Siapin camilan untuk menemani nunggu tempat tersedia! Dijamin worth the wait! Seenak itu masakanannya.

Harganya cukup terjangkau, untuk dua porsi makanan sekitar Rp 50.000-75.000 tergantung dengan lauk yang dipilih.

Vedrict: yang punya RM Malah Dicubo mirip penyanyi grup vokal Lingua!

Baca juga: Bebek Sinjay ada di Bandung

2. RM Padang Tanpa Nama

Kalau disini, RMP langganan Momi! Soalnya dekat dengan rumah dan rasanya enak banget walau warnanya tidak terlalu mencolok. Menurut Momi, RMP Tanpa Nama ini merupakan dupe-nya RM Malah Dicubo. Soalnya rasanya juga khas masakan Padang, pemiliknya orang Padang asli.

Yang bikin RMP ini masuk list RMP ter-enak karena, mereka menyediakan Telor Dadar Padang!! Terharuuu.. soalnya, selama ini Momi sudah melakukan perjalanan kuliner mencari telor dadar yang dimasak dengan cara Padang kemana-mana itu susah. Even RM Malah Dicubo-pun gak punya, eh punya deng tapi kayaknya dicampur tepung. Agak lupa, soalnya seringnya gak ada si telur dadar ini. Nah! Tau kan perbedaannya? Kebanyakan RMP lain selalu mencampur telor dadarnya dengan tepung supaya tebal, sedangkan RM Tanpa Nama ini pure telor dadar tebal yang entah bagaimana caranya dimasak dengan cara Padang. Rasanya itu enak banget!!

Ada kepala kakap juga lho! Source

Telor dadar favoritkuu.. source

Masakan di RM Tanpa Nama ini kayaknya favorit semua deh. Soalnya kalau datang kesorean atau pas jam makan siang, masakannya suka habis tak bersisa. Nunggu dimasak kloter berikutnya. Rasanya memang seenak itu. Kaya akan rempah tapi gak bikin enek. Kalau mau makan makanan Padang versi lebih light, bisa ke Tanpa Nama.

Jam 20.00 dan udah mulai abis

Lokasinya berada di Jalan Moh.Toha No. kalau keluar dari pintu tol Moh.Toha, maju terus sampai kurang lebih 200 meter sebelum lampu merah, tengok ke kanan! Posisinya ada di kanan jalan. Tempatnya kecil sebenarnya dan plang namanya juga kecil dan sering ketutup pohon besar di depannya. Jadi harus lebih teliti ya nyarinya!!

Baca juga: Segarnya Menikmati Garang Asem Semarang di Bandung

3. Kedai Padang Ajo

Yang satu ini sebenernya tidak termasuk Rumah Makan Padang, masuknya Kedai karena tempat penyajian makanannya berada roda gitu. Kedai Ajo ini merupakan rumah makan portable! Haha.

Agak susah kalau mau makan di sini. Soalnya kedai ini hanya buka setiap hari Senin-Sabtu saja dan biasanya lewat dari jam 12 suka habis. Hari Minggu dan tanggal merah tutup. Jadi cuma punya waktu hari Sabtu aja buat makan di sini. Bener-bener kejar-kejaran. Haha. Tapi Kedai Ajo ini bikin penasaran. Kakak Ipar selalu cerita betapa enaknya masakan padang di sini. Sampai akhirnya minggu lalu berhasil juga makan di sini. Setelah sebulan lamanya bolak balik ke sini tempatnya tutup terus! Haha.

Lokasinya berada tepat di samping Kobe Tepanyaki. Siang-siang Kobe tutup tapinya.

Untuk menunya standar menu nasi padang. Mereka juga menyediakan kepala ikan kakap sebagai menu andalannya. Jujur, sampai sekarang Momi belum nyobain kepala ikan kakap kayak gimana rasanya. Geli. Hiii..

Kita memesan menu standar aja, rendang, ayam sayur dan cincang. Pas pertama kali mencicipi, rasa kuat rempahnya terasa banget. Bener kata Kakak Ipar kalau rempahnya disini tuh kuat banget. Tapi lama kelamaan kok berasa kayak rasa bumbu rendang instan cap pohon mangga ya? 😂

Untuk harga rendang, ayam dan cincang seporsi Rp18.000, kalau kepala ikan kalap harga seporsi Rp45.000 kalau gak salah.

***

Kesimpulannya, nasi padang favorit masih ditempati RM Tanpa Nama yang punya telur dadar padangnya itu. Malah Dicubo ada diurutan ketiga dan ternyata Nasi Padang Ajo ada diurutan ketiga karena tidak sesuai ekspektasi.

Kalau kalian? Punya RM Padang favorit juga kah? Yuk share di komen.

Bakso Cantika, Bakso Tulang Rusuk Yang Menggoda

Jadi, beberapa waktu lalu gak sengaja liat ini ditwitter.

Rame banget bahasan ini di jagat twitter, Bakso Tulang Rusuk dengan harga cukup murah. Bahkan dibandingkan dengan harga Bakso tulang rusuk paling terkenal di Bandung juga jauh.

Dari penampakannya kok ya menggiurkan sekali. Tulang rusuknya tumpeh-tumpeh. Lokasinyapun gak terlalu jauh (tapi sebenernya jauh sih) dari rumah. Niatnya pas tanggal 25 Desember mau nyobain. Tapi karena satu dan lain hal, barulah bisa nyicip hari minggu kemarin.

Baca juga: 5 Tempat Makan Favorit di Bandung ala #irrajajan!

Awalnya, kita kira tempat makannya ini jauh banget di daerah situ. Tapi ternyata perjalanan kemari cuma menghabiskan waktu sekitar 25 menit total mungkin karena jalanan lancar. Jaraknya juga lumayan, gak terlalu jauh gak terlalu dekat. Sekalian jalan-jalan.

Kalau ke sini tinggal ngikutin maps aja. Lokasinya sesuai tujuan, gak pake nyasar. Tempatnya tepat dipinggir jalan sebelah kiri kalau dari arah datang. Ada plang besar sebagai petunjuknya.

Kirain tempatnya kayak gimana, ternyata kita ada di halaman rumah yang punya. Mejanya pun hanya tersedia lesehan saja. Lumayan santai, bisa makan sambil selonjoran kaki.

Ternyata selain tulang rusuk Bakso Cantika juga menyediakan menu lainnya seperti tulang sum-sum. Harganya beneran murah lho! Karena tujuan utama kita membuktikan kenikmatan tulang rusuknya, maka pilihan kita jatuh pada baso+tulang.

Sambil menunggu bakso tulang disiapkan, Papi G mulai bantuin foto dokumentasi untuk postingan ini. Love you deh. Hihi.

Bisa dipesen pake grab dan bayar pake OVO juga lho!

Akhirnya yang ditunggu tiba! Bakso tulang! Wah, dari wanginya aja udah enak banget. Penampilannya sungguh menggoda. Standar bakso tulang ini dikasih 3 bakso dan 4 potong tulang iga, tanpa mie. Karena kita kelaperan sekali belum makan dari pagi, kita nambah mie yamien tanpa bakso deh satu.

Mau nangis gak sih liat porsinya yang buanyak gini. Gak sabar pengen makan! Sambil ambil foto, aku cobain rasa kuahnya. Ya ampun enak banget dong! Gak paham lagi deh ini gurihnya kuah kaldu sapi ada di sini.

Baca juga: Lomie Pangsit Ayam Enak di Bandung

Gurih kaldu sapinya gak terlalu kental dan bikin pusing kayak makan mie kocok yang di jalan Banteng, Bandung. Semuanya pas! Kayaknya ada campuran daun jeruk deh dikuahnya. Soalnya ada wangi jeruk yang bikin rasa kuahnya makin seger. Kuahnya enak gak perlu ditambah apapun. Aku makan kuah sampai habis tanpa ditambah sambal, saos, kecap bahkan cuka. Karena gak mau menghilangkan citarasanya itu loh! Khas banget.

Rasa senang makan kuahnya ini berlanjut sampai ke setiap gigitan baksonya. Kayaknya ini bakso buatan sendiri, karena rasanya enak banget dan gak kayak bakso di pasaran! Sayang sendok yang disediakan tipis banget. Jadi susah motong baksonya.

Mie yamiennya juga enak lho! Walau mie yang dipakainya mie telor instan yang gambar burung itu. Tapi paduan bumbunya enak banget. Termaafkan deh untuk pemilihan mie telornya. Harganya juga murah. Mie-nya aja tanpa bakso cuma Rp5.000 ajaaa.

Namun, rasa bahagia menikmati bakso tulang rusuk ini harus berhenti ketika kita nyobain tulangnya. Ya Allah beb! Tulang rusuknya keraaaass banget. Entah karena kelamaan difoto terus gak langsung dimakan atau emang ngegodoknya kurang lama. Pokoknya tulang rusuk yang diharapkan menjadi pelengkap hidangan bakso tulang ini sangat jauh dibawah ekspektasi.

Biasanya, kalau pesen apa-apa yang berhubungan sama tulang rusuk/iga, pasti dapetnya yang tulangnya copot-copot empuk gitu. Jadi gak mubazir walaupun cuma makan tulang iga. Beneran deh sayang banget. Kalau lagi pdkt jangan makan bakso tulang, soalnya gak bisa jaim! Kalau punya gigi rapuh juga, mendingan jangan deh. Soalnya keras dan suka nyelap-nyelap di gigi. Jadinya ku tersiksa. Huhu.

Sungguhlah tulang rusuknya failed. Sorry. Gak bisa diperbaiki walau kuah dan baksonya enak! Entah lagi apes atau karena si tulang rusuk ini gak digodog terus atau kurang lama ngegodognya atau karena gak langsung dimakan atau gak pake presto pas buatnya dan atau atau alasan lainnya, yang pasti hatiku hancur. Huhu.

Papi G sempet nanya:

“Nanti mau ke sini lagi gak?”

“Mau sih, soalnya aku suka banget sama kuahnya. Tapi kayaknya jangan pesen bakso tulang lagi deh. Mending yang biasa aja”

“Setuju!”

Yaa gimana dong, rasa daging iganya nyelip masih kerasa digigi. Huhu.

Baca juga: Mie Bakso Miskam

***

Well, kalau penasaran boleh cobain siapa tau tulang rusuknya lebih empuk dan kita aja yang lagi apes. Hehe. Lokasinya di Jl.Katapang, Andir. Di google maps ada kok, tapi lokasinya yang daerah Katapang/Rancamanyar ya! Soalnya ada juga Bakso Cantika di Soreang.

Update!

Jadi, setelah postingan ini di post. Banyak komentar yang masuk terutama dari yang udah langganan banget datang ke sini. Mereka menyarankan:

  1. Datang jam 12 teng biar kebagian tulang rusuk
  2. Mintalah tulang rusuk jangan tulang iga
  3. Bakso pedasnya mantap!

Karena penasaran minggu lalu kita ke sini lagi (13 Januari 2018), dengan syarat yang diatas. Datang jam 12 teng, minta rusuk. Kita datang jam 12 kurang kayaknya, ibunya aja lagi sapu-sapu. Masih beres-beres. Kayaknya kita pelanggan pertama deh. Langsung pesen tulang rusuk, tapi kata ibunya tulangnya dicampur sama iga. Ngg.. beklah oke aja, mau ngebandingin ada perbedaan apa.

Aku pesan bakso pedas. Hmm.. kebayang isiannya cabe semua.

Makananpun datang dan taraaa!

Ini tulang iga juga. Gak ada rusuknya. Haha. Tapiiii, yang ini lebih empuk dari sebelumnya. Walau gak empuk-empuk banget, tapi masih bisa dimakan. Sebelumnya kan gak bisa.

Untuk bakso pedasnya ternyata diluar ekspektasi.

Kirain bakso isi daging cincang plus cabe. Ternyata baksonya sendiri udah dicampur cabe rawit. Mantap!

Rasa bakso pedasnya enak banget. Pedas dan seger. Kuahnya tetap favorit dicampur minyak cabe dari bakso pedasnya bikin makin seger. Bakso Cantika ini tetap jadi idola untuk saat ini.

Adios!

Pengalaman Berkunjung ke Kampoeng Sawah Bandung

Halo! Siapa yang waktu akhir pekannya suka dihabiskan dengan keluarga besar? Cung! Keluarga Momi termasuk yang selalu menjaga silaturahmi dengan saudara. Karena waktu dan kesibukan masing-masing yang berbeda-beda jadilah kita mewajibkan untuk Arisan setiap bulannya. Nominalnya sebenarnya kecil, pesertanya banyak banget! Terkadang harus sabar sampai 2 tahun lamanya sampai kebagian menang. Tapi prinsi dari arisan keluarga ini bukan nominal yang dikejar, tetapi silaturahminya, karena kalau gak gitu bakalan susah kumpul kecuali lebaran.

Baca juga: Waroeng Steak n Shake Konsep Baru Yang Kekinian

Nah, kebetulan beberapa waktu yang lalu Momi kebagian menyediakan tempat untuk arisan keluarga. Sudah menjadi tradisi yang menang bulan lalu yang harus menyiapkan tempat untuk arisan bulan depannya. Keluarga dari Mama ini termasuk keluarga besar, mereka sepuluh bersaudara dan Mama anak ke-7. Bayangkan! Banyak banget kan? Ditambah sepupu dan keponakan-keponakan. Wah, kalau lebaran gak pernah sepi deh. Tapi yang tinggal di Bandung hanya setengahnya, walau begitu yang setengahnya ini juga cukup ramai karena uwa-uwa udah pada punya anak dan cucu. Ramailah sudah.

Sebenarnya arisan bisa saja digelar di rumah. Cumaaa semenjak tahun 2017 ada banyak acara yang menyangkut keluargaku, seperti persiapan pernikahanku ditambah awal 2018 sakit Mama makin parah, jadi kita sering banget kumpul di rumah. Gak terhitung deh arisan di rumah udah sesering apa walaupun belum kebagian menang. Jadi, keluarga pada request buat arisan di luar. Cari suasana baru gitu. Bosen. Yasud..

Baca juga: Weekend Escape, Dapoernya Paberik

Awalnya Pap Ihin merekomendasikan tempat di Ciwidey, tapi kok gak kebayang ya di mananya soalnya memang jarang banget ke Ciwidey. Sampai akhirnya cari-cari info ketemu deh tempat ini, Kampoeng Sawah.

Dari gambar di google sih kok kayaknya seru ya tempatnya, ada waterboomnya juga. Anak-anak pasti suka main air dulu. Pas diumumkan respon keluargapun senang!

Kampoeng Sawah ini beralamatkan di Jl. Gandasari No. 152, Cangkuang, Soreang, Kab. Banding. Kampoeng Sawah terdiri dari banyak Joglo untuk tempat makan lesehannya. Kitapun bisa memilih joglo-nya sesuai dengan jumlah pengunjung yang datang. Karena waktu itu jumlah keluarga yang hadir sekitar 30 orang, maka kita pilih joglo yang paling besar. Konsepnya unik! Hampir semua joglo terbuat dari kayu dan bambu, ditempatkan tepat diatas kolam ikan. Anak-anak makin senang bisa makan sambil ngasih makan ikan. Gak usah khawatir takut rubuh walau banyak orang, karena struktur bangunan joglo-nya ini kokoh banget!

Untuk acara besar gini, kita memilih menu nasi timbel komplit. Sengaja udah dialasin dari sananya biar tinggal ambil aja tanpa khawatir ada yang kekurangan.

Penataan menunya sunda banget, dengan alas piring kayu yang dilapisi daun pisang, diatasnya sudah terisi penuh dengan ayam, sayur asem, tahu, tempe, ikan asin jambal roti, sambal terasi, lalapan dan nasi timbel. Hmm.. nikmat sekali. Ayamnya enak, walau sayur asemnya agak kemanisan menurutku, tapi tertolong dengan ikan asin jambal roti yang aduhay nikmat sekali dimakan cocol sambal. Bikin lauk yang lain jadi dianggurin. Haha.

Sepaket nasi timbel komplit
Jangan lupa! Karedok!

Untuk harganya cukup standar. Seporsi Nasi Timbel Komplit ini seharga Rp 36.000. Harganya sesuai dengan isi makanannya, banyak banget. Untuk karedok harganya Rp 13.500.

Walau hari Minggu kemarin ketika kita datang pas lagi ada acara nikahan. Tapi itu semua tidak mengganggu acara kita sama sekali, karena ada area khusus tamu kondangan yang gak bercampur dengan tamu yang datang. Suasananya semakin meriah dengan diiringi musik khas kondangan, kayaknya kalau hari biasa bakalan diputerin suara suling kayak di sawah gitu deh.

Kunjungan ke Kampoeng Sawah ini menyimpan kesan tersendiri. Suasanya cukup nyaman untuk melupakan kepenatan rutinitas sejenak, sambil bercengkrama dengan keluarga besar yang cuma ketemu sebulan sekali. Silaturahmi-pun terus berlanjut. Hmm.. penasaran bulan depan acaranya di mana lagi yaaa..

Baca juga: 5 Tempat Makan Favorit di Bandung ala #irrajajan!

PS: Oiya, diawal disebutkan kalau di sini ada Waterboom. Waterboomnya itu terletak disebelahnya persis, hanya saja agak tertutup. Jadi yang punya tiket aja yang boleh masuk ke dalam. Waterboom-nya tidak terlalu luas, cukup untuk menyenangkan buah hati dalam mengisi waktu liburannya. Kampoeng Sawah jadi tempat rekreasi yang komplit!

Roti John Resep Peranakan Yang Fenomenal

Pernah denger Roti John? Apa baru denger? Sebenarnya, Momi juga baru denger tentang roti ini sekitar sebulan yang lalu. Waktu itu, di twitter sempat lewat thread tentang Roti John ini. Kenapa sempet hits? Karena bentuknya yang unik dan antriannya yang panjang serta tidak buka cabang. Setidaknya itulah yang disampaikan si pembuat thread waktu itu. Pas lihat fotonya, Momi cukup ngiler ya, tangtingtung murah juga untuk roti sepanjang lengan tangan (yang buat thread), harganya cuma sekitar Rp 40.000 lengkap dengan isian yang komplit dan bisa dimakan sama banyak orang. Makanya Roti John ini bisa juga disebut Roti Monster, karena ukurannya gede banget!

Lalu, apa itu Roti John?

Menurut wikipedia Roti john adalah roti lapis dengan isian telur dadar yang merupakan cemilan yang menjadi salah satu hidangan populer, utamanya di Brunei Darussalam, Singapura, Malaysia, dan Indonesia.

Seperti saudaranya Es Kepal Milo, ternyata Roti John ini masih berasal dari Negeri Jiran Malaysia. Hmm… atas nama makanan, kita hidup damai!!

Sebenarnya, Roti John ini udah ada dari dulu kok. Kalau main ke Eatboss bisa ketemu sama roti lapis panjang dan besar ini. Pas tahun 2014-an Momi pernah mesen ini rame-rame. Kalau mau makan dengan prosi besar dan murah bisa mampir ke sana.

Baca juga: Eatboss, feel like a boss.

Tapi kok baru viral sekarang ya? Yha, namanya juga Indonesia. Apa aja bisa dibikin viral sekarang ini.

Kebetulan, deket rumah Momi di komplek sebelah ada stand Roti John yang baru buka sekitar 2 bulanan ini. Pertama tahu di sini ada Roti John, Momi gak langsung beli, karena saat itu ada nasi padang menanti. Tapi karena udah sempet liat menunya, jadilah penasaran dan kemarin akhirnya Momi beli juga! Yeay!

Lokasi Roti John ini terletak di halaman depan sebuah cafe (lupa namanya) berdampingan dengan JNE Mekar Wangi. Disampingnya ada banyak jajanan lainnya, ada Thai Tea Hayang Tea juga lho di sini. Kalau kalian main ke komplek Mekar Wangi, di sini udah jadi tempat nongkrong sore-sore. Terbukti dari banyaknya jajanan enak dan murah-murah. Kalau mau cari Roti John ini search aja JNE Mekar Wangi di Google, nah disitu tempatnya.

Sebenarnya ada apa dengan warna ungu ya? Beberapa merk Roti John lain yang pernah dilihat menggunakan warna ungu sebagai warna dasar logonya, padahal mereka beda lho. Hmm…

Untuk menunya cukup terjangkau ya? Paling mahal Rp 38.000, itupun disesuaikan dengan isiannya. Menarik. Tapi saat itu Momi cuma beli yang isinya ditambah sayuran, biar tahu rasa aslinya gimana.

Ukuran rotinya cukup besar. Sepanjang talenan. Jadi inget roti Baguette yang panjang khas Perancis itu. Cuma bedanya, roti Baguette keras dan roti John ini lembut banget.

Awalnya Momi kira roti ini bakalan dibakar, jadi kayak roti bakar gitu. Ternyata rotinya hanya dilapisi telur yang dipanaskan diatas ketel. Jadi telurnya langsung meresap ke rotinya. Kemudian langsung ditaburi daging olahan yang katanya resep peranakan itu dan sayuran, ditutup dengan saus sambal, tomat dan mayonais. Sudah. Langsung dipotong jadi 8 bagian. Lumayan banyak juga ya!

Dibungkusnya lucu banget, gak mainstream. Kayak beli Baguette di toko roti gitu.

Ukurannya gede banget ya, kalau dimakan sendirian gak shanggup. Enak dimakan rame-rame sambil ditemani cokelat panas. Duuhh…

Rasa

Ini yang terpenting nih, Rasa! Gimana rasanya? Sebenernya agak bingung ya sama rasanya, diawal jelas sekali ada telur yang melapisi roti, tapi pas dimakan telurnya gak berasa. Mungkin karena 1 telur dipakai untuk satu buah roti yang besar jadinya lapisannya tipis banget. Untuk dagingnya, sepertinya pakai daging ayam, karena seratnya halusss banget (atau kebanyakan bahan lainnya? 😆). Tapi rasanya kurang menonjol, kayak kurang bumbu gitu, kalau bukan karena saosnya, rasanya mungkin akan hambar dan sayurannya itu masih mentah. Sayuran memang mentah ya, tapi mungkin pemilihan sayurnya harus tepat. Wortel yang digunakan terlalu tua, sehingga agak keras.

So far, rasanya standar ya. Cenderung kurang bumbu. Kalau dagingnya dibuat lebih manis lagi sedikit saja kayaknya rasanya bakalan lebih mantap lagi.

Buat yang penasaran boleh dicobain. Roti John lagi menjamur sekarang, gak perlu ke Mekar Wangi buat nyobain, kalau deket sih ya gak apa-apa. 😆

Kalau sudah coba Roti John dan recommended bisa kasih tahu ya di komen!

Ayam Goreng Nelongso, Sahabat Tanggal Tua!

Bisnis kuliner ini memang gak pernah ada habisnya. Setelah dunia dihebohkan dengan Ayam Geprek, Ayam Gepuk, Ayam Penyet dan sebagainya, kali ini Momi penasaran sama Ayam Goreng Nelongso. Sedikit cerita, pertama liat spanduk ini tuh di resto jalan Kiara Condong, niatnya memang mau makan pecel lele Fernando, di sana. Gimana gak menarik perhatian? Spanduk segede gaban isinya tulisan yang mempromosikan paket hemat Ayam, nasi dan minum (lupa antara es teh manis/milo) hanya Rp 9.000 ajaaa.. gimana gak bikin penasaran ya? Dalam hati cuma bilang “Halah, paling gimmick doang!” Iya, se-gak percaya itu memang. Karena biasa kan, resto baru kadang suka bikin promo yang mengada-ngada. Sampai akhirnya tadi malam Momi liat lagi spanduk promo ini di jalan Kopo, yang kali ini jelas banget bertuliskan Nasi, Ayam Geprek Mewek dan Milo cuma Rp 9.000 aja. Waduh, gileee dong murah banget! Ditambah dibawahnya tulisan Nasi+Ayam cuma Rp 5.000. Shock banget deh! Ayam apa coba? Segede apa? Udah sama nasi lagi!! Begitulah pikiran ini bertanya-tanya tentang promo yang ‘gila’ itu. Sampai akhirnya iseng bilang sama Papi G, “Makan di situ yuk! Cobain!” Dan belok lah kita ke resto Ayam Goreng Nelongso itu.

Resto Ayam Goreng Nelongso di Kopo

Promo yang bikin penasaran

Tempatnya biasa aja ya, kayak resto ayam pada umumnya. (Lupa foto lantai 1). Tempatnya terbagi dua, lantai 1 dan lantai 2. Yang membedakan di lantai 2 ada Mushola dan lesehan. Konsepnya semi outdoor gitu.

Ayam Nelongso ini mengklaim sebagai fast food nya Ayam tradisional. Lucu ya tagline-nya.

Nah, ini nih bagian yang paling menarik! Menu harga!! Pas pertama lihat menunya, jujur Momi agak shock gitu. Soalnya harganya bener-bener miring! Harga paling murah itu Ayam Goreng Nelongso include Nasi cuma Rp 5.000 aja. Ini beneran gak bohong! Lalu, bagaimana dengan paket hemat yang Rp 9.000 tadi? Pasti penasaran kan? Ternyata setelah ditanyakan pada karyawannya, menu Pahe itu hanya berlaku untuk pagi hari saja. Kalau promo malam gak ada. Hehe. Btw, siapa nih yang pagi-pagi sarapan Ayam Geprek Mewek? Apa gak bolak balik kamar mandi mulu tuh? 🤣😆

Cukup membahagiakan liat harga-harganya

Semua menu hampir 80% ada sambalnya, bisa pilih-pilih sambal. Mirip kayak Waroeng SS (Serba Sambal) itu ya! Nah, kalau kalian merasa sambalnya kurang pedes atau pengen nyobain sambal lainnya, jangan khawatir karena Ayam Goreng Nelongso ini menyediakan pojokan sambal yang terdiri dari 11 sambal dan ini GRATIS!!

Yang mau nambah sambal, silahkan!

Sudah bahas semuanya saatnya kita bahas menu yang dipesan, semalam kita pesan Ayam Sambal Goang, Ayam Goreng Plecing, Terong Penyet dan Es Teh Manis.

Penasarankan ukuran ayamnya segede apa dengan harga semurah itu? Menurutku, dengan harga Rp 10.000 udah sama nasi itu, porsinya cukup untuk wanita. Sedangkan pas nanya sama Papi G, dia bilang porsinya kurang. Kalau kalian suka belanja Ayam ke Pasar, ukuran ayam di sini itu kayak ukuran ayam yang seekornya 800 gram gitu. Gak gede banget, tapi gak terlalu kecil juga. Wajar ya mengingat harganya sangat murah sekali. Makanya kalau kurang, yaaaa nambah!!

Ayam Goang

Plecing Ayam

Terong Penyet, enaaa!

Rasa

Untuk rasa, karena ayamnya dibalut sambal semua yang kita rasain cuma rasa sambal aja. Sambalnya pun sebenernya mirip-mirip. Bahkan kita gak bisa bedain apa bedanya sambal plecing dan sambal goang. Karena ya hampir sama. Yang beda itu sambal terong penyet yang gak terlalu pedas. Terongnya enak dan banyak btw!

Aneka Sambal Gratis

Ayam Goreng Nelongso ini merupakan franchise yang sudah menyebar diberbagai kota, seperti: Bandung, Jember, Gresik, Sidoarjo, Malang, dan Surabaya. Di Bandung sendiri yang Momi tahu ada di Kiara Condong dan di Kopo Sayati.

Jadi, walau namanya Ayam Goreng Nelongso tapi gak bikin nelongso banget kok! Tanggal tuapun tetap bisa makan ayam! 😆

Bubur Ayam Pelana, Rasa Yang Tak Pernah Berubah!

Siapa yang tiap pagi selalu nyabu?! Angkat tangannya!

Lho.. lho..

Maksudnya nyabu = nyarapan bubur yaaa! Hihi..

Menurut surveymomi, 100% manusia yang hidup di seluruh belahan dunia ini pasti pernah makan bubur. Ya gimana hasil surveynya gak 100%, wong dari bayi kita udah pasti makan bubur kan? Apalagi pas MP-Asi. Walau bentuknya beda-beda, ada bubur beras, bubur jagung, bubur buah/sayur yang bahasa kerennya puree, dan bubur ayam.

Di Indonesia ternyata ada fakta unik tentang makan bubur.

  1. Bubur biasanya merupakan makanan orang sakit, karena ternyata diluar sana ada yang gak suka makan bubur dan menyebut kalau bubur adalah makanan orang sakit.
  2. Waktu makan bubur biasanya pagi hari pas sarapan, tapi ternyata bubur enak juga lho dimakan malam-malam.
  3. Ternyata ada perdebatan mengenai cara makan bubur: team diaduk vs team gak diaduk!
  4. Team bubur kental vs team bubur encer.
  • Kalau udah bahas fakta-fakta unik tentang bubur saatnya kita bahas bubur legendaris yang rasanya tak pernah berubah sedari dulu yaitu, Bubur Ayam Pelana! Bagi pecinta bubur, pasti udah gak asing ya sama Bubur Ayam Pelana ini (atau masih asing?). Bubur yang sekitar tahun 2005-an sempat berada dipuncak kejayaannya, memiliki banyak cabang dimana-mana. Bubur Ayam Pelana ini udah ada dari zaman Mam Ella dan Pap Ihin (orang tua Momi.red) pacaran. Yang artinya ini bubur udah lama sekali, berpuluh-puluh tahun lalu. Kedai pertamanya itu tentu saja di jalan Pelana, Bandung. Jalan yang telah menghasilkan banyak makanan gerobak terkenal dan unik yang sampai saat ini masih bertahan, seperti Batagor Pelana, Martabak bungkus nasi, Sate Pelana dan tentunya Bubur Ayam Pelana.
  • Bubur Ayam Pelana Cabang Moh.Toha
  • Sebenernya apa sih yang bikin Bubur Ayam Pelana ini beda? Sekilas kalau kita lihat buburnya sih nampak seperti bubur ayam lain pada umumnya, hanya saja tekstur Bubur Ayam Pelana ini lebih encer dibandingkan dengan bubur ayam lainnya dan selalu panas! Mungkin karena bubur ini dipanasin terus diatas kompor dengan api kecil jadinya bubur ini panas banget. Berbeda dengan bubur ayam lainnya yang biasanya cuma panas-panas kuku aja.
  • Bapaknya sedang melayani pelanggan, bapak ini merupakan anak dari pemilik Bubur Ayam Pelana
  • Penampakan Bubur Ayam Pelana, walau meja tak indah rasanya indah sekali.
  • Toppingnya pun standar bubur yang isinya ada cakwe, potongan ayam dan bawang goreng kriuk. Bumbu standar dari abangnya cuma kecap asin aja. Oiya, di sini gak disediain kecap manis dan kerupuk bubur yang kuning, ini ciri khas Bubur Ayam Pelana. Kurang enak dong kalo gak pake kerupuk? Justru itu! Pihak Bubur Pelana tidak melupakan orang-orang yang makan bubur harus pake kerupuk. Mereka menyediakan emping melinjo, kerupuk kotak pink dan kerupuk mie yang bisa dibeli terpisah. Untuk yang baru pertama kali makan Bubur Pelana mungkin akan agak aneh ya makan bubur pake kerupuk begitu. Tapi setelah coba, pasti ketagihan!
  • Bubur Ayam 1/2 porsi+kerupuk mie
  • Rasanya? Yang pasti beda kalau dibandingkan dengan bubur ayam lainnya! Momi dulu gak suka makan Bubur Pelana ini karena buburnya encer, jadi bikin sedikit eneg. Apalagi dulu, waktu masih kecil hampir tiap minggu sehabis lari dari Tegalega pasti selalu mampir makan Bubur Pelana ini. Belum lagi pas kuliah Sebelum nganter Mam Ella ngantor, pasti suka sarapan bubur ini dulu. Yang pasti kurang suka aja, dulu Momi penikmat bubur tidak diaduk dan kental. Sampai akhirnya beberapa waktu lalu, Pap Ihin ngajak nostalgia sarapan Bubur Pelana (kangen almh Mam Ella katanya), mulai dari situ kok rasanya gak pernah berubah ya? Masih sama seperti dulu. Pas makan lahap sekali sampai habis 2 mangkok setengah porsi-an. Haha! Kangen kali ya udah lama gak makan. Semua rasanya tetap sama, teksturnya, citarasanya, yang berubah cuma perut Momi yang mulai bisa menikmati bubur encer dan diaduk! Khusus buat Bubur Ayam Pelana saja!
  • Kalau bubur lain yang pernah Momi makan biasanya selalu dibubuhi rasa Umami/MSG, Bubur Pelana justru konsisten dengan hanya menambahkan kecap asin saja dan sedikit merica, kalau mau pedas bisa tambah sambal cabe yang encer. Citarasa asin pedas siap disantap disemangkok bubur tanpa tambahan topping aneh-aneh.
  • Suasana kedai Bubur Ayam Pelana
  • Sekitar tahun 2005-an dulu, agak lupa tepatnya kapan. Bubur Pelana ini ada dipuncaknya, cabangnya ada di mana-mana. Dulu kalau mau makan Bubur Pelana malam-malam tinggal pergi ke jalan Burangrang, tapi harganya sedikit mahal ya! Haha. Sekarang, kalau mau makan bubur ini malam-malam suka bingung, cabang di Burangrang sepertinya udah tutup. Soalnya pernah cek diaplikasi ojek online kedainya tutup terus. Etapi ini belum valid ya! Nanti kalau pas ke Burangrang malem-malem Momi update lagi ya!
  • Update!! Ternyata Bubur Ayam Pelana Cab. Burangrang sudah gak ada. Gak bisa nyicip Bubur Pelana malem-malem deh.
    • Tips!
  • – Kalau mau makan di sini, lebih baik pesen 1/2 Porsi, foto yang Momi sertakan itu foto 1/2 porsi bubur. Kalau masih laper, bisa pesen 1/2 porsi lagi. Haha. Soalnya kata adekku, 1 porsi bubur itu cuma sementung mangkok yang sama sedangkan 1/2 porsinya sebanyak itu kan? 3/4 mangkok. Makanya kalau beli 1/2 porsi dua kali, bisa dapet 1 porsi bubur yang lebih banyak. Haha. 😈 #teamogahrugi
  • – Makan bubur ini harus sama partner yang makannya kalem. Pengalaman makan sama Adek dan Pap Ihin, malah buru-buru dan jadi kurang enak. Yaaaa buburnya kan panas banget, kalau wanita lidahnya kurang tahan sama panas. Haha.
    • Harga:
  • Untuk 1/2 Porsi bubur cuma Rp 7.000 aja, sedangkan harga untuk 1 Porsi Rp 14.000. Murah kan?
    • Lokasi:
  • Lokasi Bubur Ayam Pelana paling deket dari Momi itu di Jalan Moh Toha depan Rumah Makan Padang Istana Ayam Pop, sebrang kantor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebelah sananya dikit.
    • Jam operasional:
  • Buka dari jam 06.00 – habis (biasanya sekitar jam 10.00)
  • Nah, kalau kalian masuk team mana nih? Bubur diaduk atau bubur gak diaduk? Bubur kental atau bubur encer? Atau kayak Momi? Fleksible gimana buburnya? Komen di bawah ya kalian masuk team yang mana!!
  • Verdict: Bubur Ayam Pelana Cabang Moh. Toha ini dikelola langsung oleh anak yang punya Bubur Ayam Pelana. Makanya rasanya otentik banget! Dan dari dulu masih beliau!
  • Chiao!
  • Mie Instan Organik yang Sehat Terbuat Dari Sayuran!

    Hayooo! Siapa yang suka banget makan mie instan, angkat tangan!!

    Pasti semua orang suka kan makan mie instan, baik kuah maupun goreng? Rasanya yang enak, gurih-gurih, harga yang murah meriah, serta kemasan yang praktis dan ringkas yang bisa dibawa-bawa dan dimakan kapan saja dalam keadaan apapun yang membuat mie instan ini banyak disukai oleh khalayak ramai. Gak kebayang kalau gak ada mie instan ini, mau makan mie harus ngolah dulu dari tepung. Gak bisa makan kapanpun, harus tunggu Abang kang Bakso lewat. Apalagi anak kost diakhir bulan gini, mie instan adalah solusi dikala uang bulanan belum dikirim. Hihi. All hail mie instan!

    Tapi, tahukah kalian, bahwa makan mie instan dalam jangka panjang dan sering itu bisa menyebabkan kanker? Haduh.. jangan sampai deh. Momi tidak anti mie instan, apalagi favorit Momi itu mie instan goreng “niqmat mana yang kau dustakan?” Hihi. Bisa makan double, karena satu bungkus mana cukup, khaaan?? Cuma, semenjak hamil kemarin, Momi tuh selalu mual kalau mencium bau penyedap, selama 8 bulan hamilpun Momi gak pernah ke dapur sama sekali, karena gak kuat sama wangi yang terlalu tajam. Seperti bau bumbu mie instan gitu. Sampai akhirnya Momi melahirkan dalam keadaan premature beberapa waktu lalu yang menyebabkan Momi mulai berfikir untuk mengurangi asupan micin kedalam hidup Momi. Hal ini semata Momi ingin hidup yang lebih sehat lagi. Walau berhenti makan mie instan itu sesusah memulai diet, cuma mentok di niat aja. Tapi setidaknya kita berusaha untuk mulai menguranginya.

    Sebagai awam yang sedang berusaha hidup sehat, pasti ada kalanya merasa bosan ya makan sayur mayur mulu, walau itu sehat. Bosan, karena karbonya pasti akan berakhir dinasi, walau bisa ganti yang lain, tapi kan makanan pokok Indonesia itu nasi. Sempat ingin menyerah dan kangen banget sama mie instan, sampai akhirnya Momi liat salah satu online shop yang menjual makanan organik langganan Momi lagi memperkenalkan Mie sayuran ini. Mie yang terbuat dari sayuran, yang katanya rasanya mirip sama mie instan favorit Momi. Waduh! Penasarankan? Bagai oasis ditengah padang gurun, ketika lagi bosan makan nasi ada pengganti karbo yang sekaligus mengobati rasa rindu pada mie instan. Mantap!

    Dialah Veggie Noodle All Natural dari Ladang Lima, bagi kalian pecinta makanan organik pasti udah tahu kalau produsen cemilan-cemilan enak, organik, sehat dan rata-rata gluten free itu ya pasti Ladang Lima ini. Produknya banyak banget, bukan cuma mie instan aja, tapi ada snack cookies almond yang Momi suka banget, Blackmond dan masih banyak lagi. Untuk review cookiesnya di post selanjutnya yaa…

    Dilihat lihat dari bungkusnya, Veggie Noodle ini cocok banget bagi kalian yang punya alergi telur. Keunggulan Veggie Noodle itu:

    • Egg free
    • Source of fiber
    • Low fat
    • No preservative
    • No MSG
    • No Artificial color
  • Benar-benar terbuat dari bahan alami ya dan cocok banget buat kalian yang lagi diet.
  • Kalau dilihat dalamnya, ukuran mie ini pipih dan cukup besar ya. Porsinya pun lumayan banyak. Beratnya sekitar 150 gram. Bisa dimakan berdua. Momi gak kuat kalau harus makan Veggie Noodle ini sendirian, soalnya ngenyangin banget. Akhirnya Momi makan sambil memanggil bala bantuan, papi G!

    Foto pas matengnya gak ada, karen udah penasaran banget pengen nyobain mie sehat ini. Pas inget mau difoto, eh udah ludesss..

    Rasanya menurut Momi sangat unik. Karena Momi memilih Veggie Noodle yang terbuat dari Tomat, jadi rasa mie nya itu asem-asem tomat. Enak deh seger. Dan ya, porsinya jadi banyak sekali, karena mienya kan mengembang. Untuk bumbunya dikasih 2 bungkus, sepertinya memang sengaja disiapkan untuk 2 porsi gitu deh. Tapi, karena Momi belum terbiasa dengan makanan sehat ini, menurut Momi walau bumbunya dikasih 2 bungkus, rasanya masih kurang berasa. Yaa secara kan kalau makan mie instan bumbunya melimpah banget, gurih-gurih. Kalau makan Veggie Noodle ini, jangan harapkan rasanya akan sekuat bumbu mie instan. Mirip sih sedikit, cuma kurang kuat aja. Karena yang sehat itu biasanya bumbunya tidak berlebihan kan? Hihi.

    Untuk varian rasanya lumayan banyak. Momi beli rasa Bayam dan Bit juga, ada rasa lainnya juga tapi Momi lupa rasa apa saja. Kalian bisa cari aja di platform e-commerce kesayangan kalian, cari Ladang Lima dan lihat produk organik apa saja yang mereka jual. Untuk rasanya, dijamin enak-enak! Kesampingkan dulu ekspektasi makanan organik akan sama dengan makanan instan atau makanan organik itu gak enak. Kalau sudah, kalian akan meniqmati kekayaan rasa sehat yang sesungguhnya. Hihi.

    Ini bener-bener honest review Momi ya mengenai produk Ladang Lima yang Veggie Noodle ini. Masih ada sisa 2 bungkus lagi. Nanti malem mau bikin lagi ah bareng Papi G!

    Chiao!