#AksiFlashBunda Ketika Anak Terjatuh Dari Tempat Tidur

Sebagai orang tua pasti pernah dong panik ngeliat anak bayinya jatuh dari kasur? Anak bayi yang selalu diapik-apik jangan sampai terjatuh dari kasur, sudah dilengkapi pengaman sedemikian rupa, tapi tetap aja kecolongan. I feel you, mommies!

Iya, kejadian ini baru saja terjadi semalam. Ketika baby Kippo lagi mau ganti pospak sama Papi G, secara tiba-tiba aku melihat dia udah terbaring di lantai, nangis. Panik sekaligus marah dan sedih melihat anak bayi kita jatuh dari kasur. Seketika langsung merasa gagal menjaga anak.

Baby Kippo sekarang udah banyak gaya, dia udah bisa muter, membolak balikkan badan dengan berbagai gaya. Kita sebagai orang tua sering kali lalai dan malah masih tetap menidurkannya dipinggir kasur. Menganggap dia masih bayi, padahal duduk udah tegak. Dengan dua kali balikan badan saja Baby Kippo bisa langsung terjatuh. And it’s happened.

Terus anaknya malah dijadiin konten. 🤣 (reka adegan)

Terus apa sih yang harus dilakukan orang tua ketika anaknya jatuh dari kasur? Sebelumnya, mari perhatikan hal-hal berikut:

1. Jangan panik!

Walau sempat panik, marah dan sedih. Aku berusaha untuk mengendalikan emosi dengan tidak memperkeruh suasana. Buah hati kita tahu ketika ibunya sedih atau marah, ia akan menangis semakin kencang. Hal ini malah membuat kita semakin panik. Oleh karena itu sebisa mungkin kita tetap tenang dan berusaha menenangkan bayi kita.

2. Observasi 1×24 jam

Perhatikan kondisinya apakah setelah terjatuh si anak ada muntah, kejang, demam, perubahan perilaku, mata dan anggota gerak (tangan dan kaki) jadi tidak simetris pergerakannya, menjadi lebih cepat atau lambat. Jika mommies melihat tanda-tanda tersebut, segeralah membawa anak ke dokter atau rumah sakit. Jangan ditunda lagi!

Lalu, bagaimana cara mengantisipasi agar anak tidak terjatuh dari kasur?

  • Selalu awasi anak kita.

Perhatikan perilakunya, apakah ia sudah mulai aktif berguling, sudah bisa merangkak atau belum. Kenali anak kita agar kita dapat mempersiapkan segalanya.

  • Buat pagar pengaman disekitar kasur.

Temanku memilih opsi ini sebagai langkah proteksi anaknya. Sebenarnya ini agak ribet ya. Harus pasang pagar pengaman di sekeliling kasur dan membuat orang dewasa agak kesulitan untuk naik ke kasur. Iapun bilang begitu. Tapi menurutnya cukup safety mengingat anaknya yang sudah toddler dan cukup aktif.

  • Hilangkan dipan kasur.

Sebenarnya hal ini sering dilakukan oleh para orang tua. Mereka memilih untuk menghilangkan dipan kasur dan menempatkan matras kasur langsung diatas lantai. Hal ini memang dapat mengurangi resiko anak terjatuh dari kasur, tapi kita sebagai orang tua harus tetap memperhatikan kebersihan kasur, jangan sampai debu lantai masuk ke dalam kasur.

  • Siap sedia Thromboflash di rumah

Terkadang walau sudah dipersiapkan sedemikian rupa, yang namanya kecelakaan tidak dapat kita hindari. Kalau sudah terjadi, kita harus sedia pertolongan pertama. Biasanya anak yang terjatuh dari kasur suka meninggalkan luka lebam di beberapa bagian tubuh. Lebam terjadi karena pecahnya pembuluh darah kapiler dibawah kulit akibat benturan benda tumpuk. Tapi jangan panik moms! Sekarang luka lebam bisa dihilangkan dengan menggunakan Thromboflash!

Thromboflash merupakan anti thrombosis/anti coagulant, berbahan dasar Heparin Sodium 200 IU yang berasal dari mocusa sapi. Heparin bekerja dengan cara melarutkan gumpalan darah yang berada di bawah permukaan kulit akibat memar, mengurangi peradangan, dan melancarkan peredaran darah untuk mempercepat penyembuhan. Thromboflash menjadi sahabat keluarga yang aman dan nyaman karena telah bersertifikat HALAL.

Sekarang udah gak takut lebam lagi deh kalau anak terjatuh dari kasur. Thromboflash ini wajib ada di kotak P3K di rumah.

***

Jadi, itulah hal-hal yang harus mommies perhatikan ketika anak terjatuh dari kasur. Apakah ada yang punya pengalaman yang sama denganku? Yuk sharing di komen.

Mitos Seputar Asi dan Ibu Menyusui [Bagian 2]

Halo-halo! Bagaimana harinya Mommies? Semoga selalu bahagia ya! Gak kerasa ya sekarang udah sampai dipenghujung tahun lagi, sudah mau 2019 nih tapi yang namanya mitos masih aja ada yaa. Suka pusing gak sih kalau denger orang tua zaman dulu masih ngomongin mitos? Beberapa minggu lalu Momi sudah bikin tulisan tentang Mitos Seputar Asi dan Ibu Menyusui, sudah baca belum? Kalau belum bisa langsung baca yaaa!

Baca disini: Mitos Seputar Asi dan Ibu Menyusui [bagian 1]

Nah, gimana nih Mommies tentang Mitos Bagian 1? Cukup bikin geleng-geleng kepala kan? Orang tua zaman dulu benar-benar gak habis akal ya untuk menyampaikan sesuatu yang ‘berbeda’ dari kebiasaan yang kita anggap sampai sekarang kalau itu adalah Mitos. Kali ini Aku mau bahas lagi mengenai Mitos Seputar Asi dan Ibu Menyusui Bagian 2 yang gak kalah bikin heran hasil rangkuman dari Ayah Asi ID.

1. Menyusui bikin Kendor?

Katanya, ibu yang menyusui bikin payudaranya kendor? Tidak benar ya Mommies. Justru perubahan payudara dipengaruhi oleh kehamilan. Ketika hamil, payudara dipersiapkan untuk memproduksi ASI, pada saat inilah payudara mengalami perubahan.

Setelah itu bentuk dan tingkat keranumam payudara dipengaruhi oleh usia, gravitasi dan suami. 😆

2. Payudara harus diuyek-uyek dulu biar ASI bersatu padu!

Nah lho! Pernah denger gak mitos yang ini? Aku sering banget denger, tante sering nyuruh buat ‘ngagelang‘ bahasa Jermannya, atau uyek-uyek dulu biar ASI-nya nyampur atau jadi encer. Duh, rasanya ingin sekali ku berkata memangnya payudara itu es campur dan ASI itu terbentuk oleh sekumpulan es pake harus diuyek-uyek dulu. *tepok jidat*

ASI di payudara itu hanya memproduksi satu jenis aja, karena hanya satu jadi tidak perlu di aduk yaa! Didalam payudara itu ada begitu banyak sel dan saluran ASI yang berujung pada puting. Jadi, payudara harus diuyek-uyek dulu biar keluar itu mitos yaa!

3. ASI encer/bening itu gak bagus?

Tidak benar ya Mommies! ASI dalam payudara ibu itu selalu dalam kualitas yang baik sesuai dengan kebutuhan bayi dan yang terpenting lebih steril ya. Jadi, tidak ada ASI yang tidak bagus. Semua ASI dari payudara pasti bagus!

Sedih akutu kalau ada yang bilang kalau ASI itu jelek cuma gara-gara bening. Padahal, ASI yang terlihat encer atau bening itu mengandung banyak protein, kadar air yang tinggi dan rendah lemak. ASI yang encer ini biasanya keluar diawal menyusui/perah. ASI yang terlihat kental dan berwarna putih akan keluar setelah yang encer mulai berkurang.

Makanya, penting untuk membiarkan bayi puas menyusu pada satu payudara dulu sebelum akhirnya pindah atau pastikan mommies memerah payudara sampai benar-benar terasa kosong. Agar ASI kental ikut keluar.

4. Ukuran payudara berpengaruh?

Katanya ukuran payudara kecil berpengaruh kebanyak dan sedikitnya ASI? Benarkah?

Yaaa tentu tidak benar ya Mommies! Produksi ASI tidak dipengaruhi oleh besar atau kecilnya payudara. Hasil perah ASI tidak bisa dijadikan indikator produksi ASI, karena hasil perah ASI dipengaruhi banyak hal.

Prinsip produksi ASI tuh sebenernya simple banget. ASI semakin cepat diproduksi jika ASI dikeluarkan secara rutin baik dengan menyusui maupun diperah. Sebaliknya produksi ASI akan berkurang ketika ASI tidak dikeluarkan secara rutin.

Nah, itu semua adalah mitos yang kerap kali diucapkan oleh orang tua zaman dulu yang sampai sekarang masih awet diucapkan secara turun temurun. Prinsipnya, jangan sering melarang ibu menyusui untuk melakukan banyak hal. Dari pada banyak melarang karena percaya sama mitos, mending kita dukung aja yuk Ibu menyusui untuk tetap happy dan enjoy dalam memberikan ASI untuk anaknya. Jangan sampai perkataanmu menyakiti hatinya, terus ASI-nya jadi seret! Karena ASI akan melimpah ketika ibu bahagia. Yuk banyak membaca sebelum berkomentar!

5 Imunisasi Dasar Untuk Bayi Baru Lahir

Assalamualaikum. Mau cerita nih tentang perjalanan Imunisasi Ilya. Sebagai ibu baru yang tidak mempunyai ibu, jujur pas awal punya anak sempat kikuk, bingung harus bagaimana. Karena jadi seorang ibu itu gak ada buku pedoman yang pakem, terlebih gak bisa nanya sama ibu bagaimana cara mengurus anak bayi. Semua disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi anaknya. Anak yang lahir normal aja pasti berbeda satu dengan lainnya, apalagi anak yang lahir prematur. Tambah bingung ketika banyak sekali informasi yang masuk yang terkadang informasinya berbeda.

Awal mula kebingungan itu terjadi ketika Ilya harus imunisasi. Waktu itu dokter belum memberi Ilya imunisasi awal karena berat badan Ilya yang masih kurang. Beratnya cuma 1,8 kg. Ketika hampir satu bulan beratnya baru 2,4 kg, saat itulah imunisasi awal dilakukan dokter bilang “kita harus kejar imunisasi!”. Menurutku penyataan tersebut bikin pertanyaan di benak. Memangnya apa yang harus dikejar? Mana kita sempat ganti dokter anak sampai 3 kali. Pertanyaan itu belum terjawab sampai akhirnya Aku bertanya ke sana-ke sini dan memahami kalau yang namanya imunisasi itu ada waktunya. Ada beberapa vaksin yang tidak boleh telat diberikan pada bayi pada usia tertentu, contohnya vaksin BCG yang harus diberikan sebelum bayi berusia 3 bulan apabila lewat usia 3 bulan, perlu dilakukan uji tuberkolin.

Karena kita sempat ganti dokter anak sampai 3 kali dikarenakan merasa kurang cocok, cari dokter aja kayak cari jodoh yaa! Karenanya informasi mengenai vaksin apa yang wajib dan yang cuma tambahan saja jadi tidak jelas. Karena Aku pikir semua vaksin itu wajib, harus dilaksanakan. Sempat bertanya juga sama teman yang merupakan admin dari suatu grup parenting, jawabannyapun kurang mencerahkan. Sungguhlah ketika baru punya anak itu banyak bingungnya.

Berdasarkan pengalaman itulah Aku tergugah untuk menulis mengenai 5 vaksin dasar yang wajib untuk bayi. Agar gak bingung dan bisa melengkapi imunisasi anak.

Vaksin dasar yang wajib

1. Vaksin Hepatitis B

Vaksin ini paling baik diberikan dalam waktu 12 jam setelah lahir. Apabila diberikan vaksin HB kombinasi dengan DTPw, maka jadwal pemberian di usia 2, 3, dan 4 bulan.

2. Vaksin Polio

Vaksin ini diberikan pada saat bayi dipulangkan, vaksin yang diberikan berupa vaksin polio oral (OPV-0). Selanjutnya, untuk polio-1, polio-2, polio-3 dan polio booster dapat diberikan vaksin OPV atau IPV (suntik) namun sebaiknya diberikan paling sedikit satu dosis vaksin IPV.

3. Vaksin BCG

Pemberian vaksin BCG dianjurkan sebelum bayi berusia 3 bulan, optimal umur 2 bulan. Apabila diberikan sesudah umur 3 bulan, perlu dilakukan uji tuberkulin.

4. Vaksin DPT

Vaksin difteri, tetanus dan pertusis (DPT) pertama diberikan paling cepat pada umur 6 minggu. Dapat diberikan bersamaan dengan vaksin polio, HB, dan Hib. DPT ini ada 3 tahap ya, DPT-1 diberikan pada bayi usia 2 bulan, DPT-2 diberikan pada bayi usia 3 bulan, DPT-3 diberikan pada bayi usia 4 bulan. Untuk anak umur lebih dari 7 tahun diberikan vaksin Td/Tdap.

5. Vaksin MR

Vaksin MR masuk dalam jadwal imunisasi rutin dan diberikan pada anak usia 9 bulan, 18 bulan, dan kelas 1 SD/sederajat menggantikan imunisasi Campak.

Sumber: IDAI 2017

Jadwal imunisasi terbaru yang direkomendasikan oleh IDAI 2017

Cara mendapatkan 5 vaksin ini

  • Puskesmas

Kelima vaksin dasar tersebut sebenarnya merupakan program dari pemerintah, Mommies bisa mendapatkan kelima vaksin tersebut di Puskesmas terdekat. Biayanya? Biasanya hanya bayar pendaftaran aja mulai dari Rp 2.000 tergantung Puskesmasnya atau bahkan gratis?

  • Bidan

Selain di Puskesmas, Mommies bisa dapatkan kelima vaksin tersebut di Bidan ya. Harganya juga cukup terjangkau, vaksin dan jasa sekitar Rp 50.000 – 70.000 dengan obat. Terakhir Ilya vaksin DPT-3 di bidan tanpa obat hanya bayar Rp 60.000, sangat murah kalau dibandingkan kita harus vaksin di dokter anak.

  • Rumah Sakit

Opsi ini yang sering banget kita pakai. Alasannya karena pertama kita tidak tahu kalau vaksin dasar ini dicover pemerintah. Kedua, biasanya kita vaksin sekalian kontrol anak. Ketiga, masih belum percaya tempat lain untuk vaksin sampai akhirnya sempat kehabisan dana dan coba vaksin di Bidan dan Rumah Vaksin Bandung. Untuk biayanya cukup mahal, selain bayar biaya vaksin kita juga harus bayar jasa dokter. Waktu itu pernah datang cuma buat vaksin doang (padahal niatnya mau konsul juga tapi dokternya salah tangkap), habis sekitar Rp 475.000. Untuk vaksin DPT harganya sekitar Rp 275.000 ditambah jasa dokter yang berkisar antara Rp 180.000-220.000. Nyesek. Huhu. Tapi demi anak gak apa-apa.

  • Rumah Vaksin

Opsi terakhir ini kita pakai ketika Ilya harus vaksin tambahan (diluar vaksin wajib), pernah juga vaksin DPT-2 di sini. Kalau di Rumah Vaksin, kita cukup bayar harga vaksinnya saja sekitar Rp 275.000 sudah termasuk jasa dokternya. Yang jaga dokter umum.

Baca selengkapnya: Rumah Vaksinasi Bandung

Begitulah pengetahuan dasar mengenai 5 vaksin wajib bagi bayi yang baru lahir. Semoga bermanfaat khususnya bagi ibu baru yang segalanya diurus sendiri. Cek lagi jadwalnya Moms, jangan sampai kelewatan yaa! Yuk lengkapi imunisasinya demi mewujudkan Indonesia Sehat!

Mitos Seputar ASI dan Ibu Menyusui

Halooo Mommies!

Pernah gak sih denger mitos-mitos seputar ASI? Dulu, sewaktu Aku masih gadis, sering banget denger mitos-mitos ASI, dimulai dari jangan makan pedes, ASI itu sekeut (alias tajam, jahat) jadi ga boleh kena muka, kalau muka bruntusan ASI yang disalahin dan sebagainya. Pasti sering banget kan denger yang kayak gitu? Tapi apa benar ASI itu sebegitunya? Secara ASI merupakan makanan pokok penuh dengan nutrisi yang dibutuhkan bayi sampai 6 bulan lamanya dilanjutkan sampai 2 tahun. Kok bisa ya ASI banyak ‘jelek’nya karena mitos orang tua zaman dulu.

Sebagai ibu yang baru saja punya anak udah sering banget denger mitos-mitos tentang ASI. Tante-tante paling lantang melarang ini itu buat Busui. Maklum, mereka merasa bertanggung jawab karena Mam Ella (Ibuku) meninggal tepat 21 hari sebelum Baby Kippo lahir. Baru ditinggal Ibu, tiba-tiba lahiran (prematur), dengan segala ilmu yang belum sempurna Aku harus menyambut sang buah hati. Belum sempet mikir ini itu untuk produksi ASI, harus mikirin dulu anak di NICU ditambah ceramah dari sana- sini. Haduuh…. Pusing kan ya pasti. Tapi karena aku dan suami berkomitmen untuk mengurus semua sendiri berdasarkan ilmu yang masuk akal dan ada dasar teorinya (kita gak percaya mitos), makanya banyak mitos yang kita coba untuk patahkan yang terkadang menimbulkan reaksi dari orang sekitar.

Tapi sebenernya mitos tentang ASI dan Ibu Menyusui (Busui) itu bener gak sih? Yuk kita bahas beberapa mitos tentang ASI yang dirangkum dari Ayah Asi.

1. Ibu menyusui gak boleh makan pedas!

Mitos ini pasti sering banget dengerkan? Busui gak boleh makan pedas karena nanti ASI-nya jadi pedas terus anaknya jadi mencret-mencret. Salah! Busui boleh kok makan pedas. Soalnya rasa pedas dari makanan yang dikonsumsi Ibu hanya sampai dilidah ibu saja, ASI tidak akan pernah ikutan jadi pedas. Jadi buat Mommies yang suka banget makan pedes, boleh kok makan pedes tapi tetap batasi yaa konsumsi makanan pedasnya. Soalnya sistem pencernaan bayi masih sensitif, senyawa capsaicin pada cabai yang terbawa ASI bisa menyebabkan bayi rewel.

Prinsipnya, nikmati, batasi, amati reaksi bayi.

2. ASI bikin mandul!

Pernah denger gak katanya kalau ASI gak boleh kena kulit? Kalau kena alat kelamin itu bikin mandul? Aduh! Jahat banget ya ini yang bikin mitosnya.. Jelas-jelas ini mitos ya! Soalnya ASI itu 90% kandungannya adalah air. Jadi aman banget kalau kena kulit.

“Tapi kulit bayiku bruntusan karena kena ASI.”

Coba deh dicek dulu, beneran karena ASI apa karena tempat tidur, baju, udara yang kurang higienis? Atau coba cek apakah bayi nya ada alergi? Kulit bayi masih sangat sensitif. Baiknya kita tetap menjaga kebersihan lingkungan dan kulit bayi.

3. Busui gak boleh minum air panas/dingin.

Katanya kalau minum air dingin nanti anaknya jadi pilek, kalau minum air panas nanti lidahnya putih-putih kepanasan. Mommies, payudara itu bukan dispenser yaa! Apa yang masuk ke tubuh ibu mau panas/dingin, ASI yang keluar akan tetap hangat, suhunya akan tetap 37 derajat ya. Sesuai suhu tubuh ibu.

Kalau bayi pilek, bisa jadi imunnya lagi lemah dan terkena virus. Kalau lidah putih-putih itu biasanya sisa-sisa lemak dari ASI.

Jadi minum air dingin/panas gak ada hubungannya ya sama kondisi bayi!

4. ASI harus dibuang!

Ada mitos juga yang bilang kalau habis bepergian jauh dan keujanan ASI harus dibuang. Aduh… aku termasuk ibu yang bakalan nangis kalau lihat ada asi yang dibuang. Huhu. Secara gak semua orang dianugerahi ASI yang lancar dan melimpah, jadi setiap lihat atau denger ada yang buang ASI (apalagi yg dibuang ASIP fresh yang dikeluarin karena payudara keras/ngabagel/habis bepergian) aduuhh mrembes banget hatiku ini. Sedih.

Jelas-jelas ini mitos ya! ASI itu ada didalam payudara yang tertutup rapat dan tidak ada celah untuk angin masuk. Jadi ASI akan tetap steril dan hangat ya. Jangan dibuang please, langsung mimi-in sama bayi aja amaaaan!

Nah, itu sebagian kecil dari banyak mitos yang beredar disekitar kita. Sebagai ibu, kita harus mulai bijak ya dalam memilah informasi. Biasanya mitos tercipta karena dasar ilmu yang kurang. Zaman dulu kan teknologi dan ilmu pengetahuannya masih belum berkembang seperti sekarang. Maksud dari mitos biasanya baik, hanya saja penyampaiannya suka jadi berbelok dari maksud awal. Kalau ada mitos yang baik bisa kita ambil, kalau yang gak masuk akal mending dihempaskan aja ya Mommies!

Working Mom vs Full Time Mommy, mana yang lebih baik?

Sebagai orang tua tumbuh kembang anak merupakan hal yang paling diperhatikan, setiap perkembangkan dicatat dan direkam baik dalam memory maupun jurnal, rasa-rasanya setiap orang tua tidak ingin ketinggalan golden age anaknya. Sebisa mungkin dilakukan demi anak. Full Time Mommy (FTM) memiliki kesempatan besar itu. Tapi, bagaimana dengan Working Mom (WM)? Ibu yang harus bekerja baik karena kebutuhan keluarga atau karena tidak betah tinggal di rumah dan terbiasa aktif semenjak sebelum menikah? Lalu, mana yang lebih baik bagi seorang Ibu? Menjadi FTM atau WM?

Berawal dari curhatan salah satu Mommy di grup Menyusui yang Momi ikuti, tentang keresahan hatinya yang menjadi WM tetapi memiliki anak yang masih membutuhkan perhatiannya membuat dirinya menjadi risau dan ingin melepas karir, tetapi dia juga sadar betul bahwa dia belum siap untuk hidup tanpa rutinitas yang biasa dia lakukan. Dari kegelisahan itu maka muncullah pembahasan mengenai lebih baik mana antara FTM atau WM. Momi mau berbagi rangkuman hasil diskusi semalam ya.

Pada dasarnya, seorang ibu memiliki peran yang sangat penting dalam keluarga. Seperti yang sering disebut, Ibu adalah Madrasahnya anak, guru pertama bagi anak, apa yang anak lakukan, akan menjadi apa, bagaimana anak berperilaku dan karakter anak ditentukan oleh ibu. Betapa mulianya jadi seorang ibu. Tapi, apakah tanggung jawab dalam mengurus dan mengatur tumbuh kembang anak harus dibebankan pada Ibu saja? Tentu tidak jawabannya. Ayah memiliki peran yang tak kalah pentingnya, ibarat Ibu yang mengajari anak dan jadi Madrasah pertama, Ayah memiliki peran sebagai Kepala Sekolah. Seseorang yang mengarahkan dan menentukan akan kemana dan bagaimana strategi yang dipakai dalam membesarkan anak. Itulah makna sesungguhnya dari pernikahan, saling melengkapi satu sama lain. Apalagi dalam urusan anak.

Source: pixabay

Menurut Momi, menjadi WM ataupun FTM mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sebagai WM, pasti tidak perlu kesulitan dalam mengatur keuangan keluarga, semua pasti terpenuhi. Sedangkan menjadi FTM, harus lebih pintar lagi dalam mengatur keuangan keluarga, karena penghasilan hanya dari satu dompet kan! Karenanya harap sabar ibu-ibu, belanja skin care-nya nunggu diskon yaa! Walau begitu, jadi WM sebeneranya jadi bekerja dua kali, selain kerja 9-5 WM juga harus dilanjut kerja di rumah dengan tidak meninggalkan kewajibannya sebagai seorang istri. Sedangkan FTM, walaupun tidak memiliki jam kerja yang terikat dan tidak perlu bekerja dua kali, FTM tetap memiliki jam kerja, yaitu 24 jam!

Source: Pixabay

Pada hakikatnya wanita memang ditakdirkan untuk kembali ke dapur, ranjang dan sumur. Mengutip dari penyataan seorang teman yang memiliki arti sebagai berikut: Dapur, Ibu harus memastikan seluruh anggota keluarganya dalam kondisi yang kenyang sehingga dapat menjalani hari-hari dengan baik dan tenang. Ranjang, jangan langsung berpikiran kotor ya! Maksud ranjang disini adalah, ibu harus memastikan seluruh anggota keluarganya nyaman ketika tidur, kenyamanan ini yang senantiasa menjadikan keluarga lebih harmonis. Yang terakhir Sumur, artinya Ibu harus memperhatikan penampilan seluruh keluarganya, enak dilihat. Kurang lebih seperti itu. Rasanya teori itu paling cocok bagi para FTM ya, karena mereka sudah mendedikasikan hidupnya demi keluarga. Tidak terbebani dengan pikiran yang terbagi dua antara urusan rumah atau pekerjaan. Tapi, WM juga bisa kok menerapkan teori itu.

Lalu, bagaimana dalam urusan mencari nafkah sambil mengasuh anak? Dalam agama, mencari nafkah bagi seorang wanita hukumnya tidak wajib. Uang yang dihasilkan dari seorang wanita termasuk ke dalam sedekah bagi keluarga. Tetapi, zaman sekarang rasanya tidak cukup apabila hanya suami saja yang bekerja, kebutuhan yang semakin tinggi, membuat banyak wanita yang memutuskan untuk bekerja. Keputusan ini yang harus dibayar oleh WM dengan kehilangan masa golden age anak, tidak 100% kehilangan, tapi jadi tidak maksimal. Dipenuhi rasa bersalah ketika meninggalkan anak sendirian dengan pengasuh, harus belajar mempercayai orang lain dalam merawat anak. Sedangkan menjadi FTM, bisa 100% mengikuti masa golden age anak tetapi mengorbankan gelar dan ijazah yang sudah dicari selama 4-5 tahun ditambah kesempatan-kesempatan lainnya. Belum lagi komentar nyinyir netizen-keluarga yang nambah-nambahin beban dengan bilang sayang gelar ini itu dan lainnya.

WM atau FTM semua ada konsekuensinya ya! Baik atau tidaknya semua kembali ke kebijakan Mommy dan Daddy-nya anak-anak. Komunikasi dalam pernikahan merupakan hal yang krusial. Satu hal yang perlu digaris bawahi adalah Apapun pekerjaan seorang Ibu, WM ataupun FTM, Ibu harus tetap bahagia. Karena anak hanya memerlukan Ibu yang bahagia, dengan Ibu yang bahagia anakpun akan bahagia. Sesederhana itu.

Source: Pixabay

Best regards,

Momi Kippo

Seminar Awam Prematuritas oleh Komunitas Premature Indonesia

Tanggal 4 Agustus 2018 lalu, Momi sama Papi G menghadiri Seminar Awam Prematuritas yang diselenggarakan oleh komunitas Premature Indonesia. Momi sama Papi sama-sama sadar kalau kami orang tua yang masih sangat awam mengenai bayi premature. Orang tua baru yang masih banyak kekurangannya, ditambah anak pertama kami lahir secara premature. Kami yakin, seminar ini akan memberikan informasi yang dibutuhkan bagi kami, para pejuang NICU.

Dan ternyata benar, dihadiri oleh anggota komunitas area Bandung dan juga peserta umum, seminar kemarin rame dan informatif sekali! Menghadirkan narasumber yang berpengalaman dalam membantu bayi prematur. Kami pulang dengan tambahan-tambahan ilmu baru.

Awalnya Momi ragu untuk ikutan, karena biasanya kalau ikutan seminar pasti Momi suka cepet bosennya. Karena seminarnya monoton. Ternyata seminar kemarin berbeda. Dibuka oleh dr.Agung sebagai founder dari Komunitas Premature Indonesia. Beliau bercerita mengenai perjuangannya dalam menghadapi kenyataan jika anaknya harus lahir prematur dengan berat lahir 800 gram. Bisa dibayangkan gimana rasanya punya anak semungil itu, gak sampai hati Momi membayangkannya.. Ilya lahir 2065 gram aja kemudian turun ke 1700 gram aja Momi udah sedih, apalagi dr.Agung. Quotes yang diingat dari dr.Agung itu adalah “Semakin kita banyak tahu, bakalan semakin sedih” iya semakin kita pelajari, maka yang dirasa akan semakin sedih. Tapi kita perlu tahu semua itu agar bisa mempersiapkan dikemudian hari.

dr. Agung sedang bercerita sebagai orang tua dengan anak premiee

Narasumbernya juga kompeten, dilanjut oleh Dr. Eddy Fadlyana, dr., Sp.A(K), M.Kes yang merupakan dokter Ahli stimulus motorik anak, membawakan materi tentang Stimulasi Perkembangan bayi prematur. Materi dibawakan dengan cara yang menyenangkan. Kami dibuat tertawa-tawa dengan tingkah laku dr. Eddy. Para ayah juga ditantang kepeduliannya kepada ibu dengan ditanyai sederet pertanyaan mengenai waktu kehamilan ibu, bagaimana cara menghitung masa kehamilan, apa yang dimaksud dengan kehamilan prematur dan banyak lagi. Hal ini menguji seberapa berpengaruhnya dan kepedulian seorang ayah terhadap istri dan calon bayi mereka. dr Eddy mengajak para ayah agar lebih peduli lagi dan membantu ibu dalam membesarkan buah hatinya. Setuju dok! Masa bikinnya berdua yang ngurus cuma seorang? Hihi..

Materi kedua membahas mengenai Mengatasi Beran Badan Bayi Prematur yang Kurang. Materi ini dibawakan oleh dr. Tisnasari Hafsah, Sp.A(K)., kebetulan topik ini adalah topik yang ditunggu-tunggu karena Ilya menurut dsa-nya bb-nya masih kurang. Harus mengejar bb yang ketinggalan Momi sama Papi G gamau ketinggalan informasi sedikitpun. Hihi.

Dilanjut dengan pemateri terakhir dengan narasumber yang bakalan jadi dokter favorit Momi. Dr. Akhmad Yogi, dr., Sp.OG(K), M.Kes. Dulu, pas awal kehamilan Momi pernah diperiksa sekali sama dr. Akhmad Yogi. Kemudian Momi ganti dokter. Tapi sekarang kalau Momi nanti hamil lagi, maunya sama dr. Akhmad Yogi ahhh… (udah ngetag dari sekarang. Hehe) soalnya pembawaan dr. Akhmad Yogi ini menyenangkan banget. Mana suka becanda, materi yang diberikan juga langsung menempel dikepala, saking serunya. Ketika narasumber lain kekurangan waktu dalam menyampaikan materi, dr. Akhmad Yogi justru kelebihan. Karena materi yang diberikan singkat, jelas dan padat! Dulu juga pas Momi pertama dicek sama dr. Akhmad Yogi, beliau bilang “kalau ada apa-apa whatsapp aja bu.” Aduuhh.. udah fixxx mau sama beliau dikehamilan selanjutnya.. duh, jadi gak sabar mau hamil lagi. Haha.

Dr Ahkmad Yogi menyampaikan materi

Seminar kemarin berjalan dengan menyenangkan Mungkin karena kami semua adalah pejuang Nicu dan memiliki masalah yang sama, sehingga materi yang disampaikan begitu menarik untuk disimak. benar-benar pas dengan informasi yang dibutuhkan atau mungkin karena banyak doorprise kali yaaa (teteup Momi suka gratisan 😍)

Merchandise dari sponsor. sayang banget Momi gak dapet doorprise. huhuhu… 😢

Bagi Mommies yang mengalami kejadian serupa dengan Momi Kippo, bisa langsung cek ig: prematur.indonesia atau ke facebook: Komunitas Prematur Indonesia. Ada banyak informasi yang bisa dibaca untuk menambah pengetahuan kita. Stay strong Mommies, you’re not alone!