Working Mom vs Full Time Mommy, mana yang lebih baik?

Sebagai orang tua tumbuh kembang anak merupakan hal yang paling diperhatikan, setiap perkembangkan dicatat dan direkam baik dalam memory maupun jurnal, rasa-rasanya setiap orang tua tidak ingin ketinggalan golden age anaknya. Sebisa mungkin dilakukan demi anak. Full Time Mommy (FTM) memiliki kesempatan besar itu. Tapi, bagaimana dengan Working Mom (WM)? Ibu yang harus bekerja baik karena kebutuhan keluarga atau karena tidak betah tinggal di rumah dan terbiasa aktif semenjak sebelum menikah? Lalu, mana yang lebih baik bagi seorang Ibu? Menjadi FTM atau WM?

Berawal dari curhatan salah satu Mommy di grup Menyusui yang Momi ikuti, tentang keresahan hatinya yang menjadi WM tetapi memiliki anak yang masih membutuhkan perhatiannya membuat dirinya menjadi risau dan ingin melepas karir, tetapi dia juga sadar betul bahwa dia belum siap untuk hidup tanpa rutinitas yang biasa dia lakukan. Dari kegelisahan itu maka muncullah pembahasan mengenai lebih baik mana antara FTM atau WM. Momi mau berbagi rangkuman hasil diskusi semalam ya.

Pada dasarnya, seorang ibu memiliki peran yang sangat penting dalam keluarga. Seperti yang sering disebut, Ibu adalah Madrasahnya anak, guru pertama bagi anak, apa yang anak lakukan, akan menjadi apa, bagaimana anak berperilaku dan karakter anak ditentukan oleh ibu. Betapa mulianya jadi seorang ibu. Tapi, apakah tanggung jawab dalam mengurus dan mengatur tumbuh kembang anak harus dibebankan pada Ibu saja? Tentu tidak jawabannya. Ayah memiliki peran yang tak kalah pentingnya, ibarat Ibu yang mengajari anak dan jadi Madrasah pertama, Ayah memiliki peran sebagai Kepala Sekolah. Seseorang yang mengarahkan dan menentukan akan kemana dan bagaimana strategi yang dipakai dalam membesarkan anak. Itulah makna sesungguhnya dari pernikahan, saling melengkapi satu sama lain. Apalagi dalam urusan anak.

Source: pixabay

Menurut Momi, menjadi WM ataupun FTM mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sebagai WM, pasti tidak perlu kesulitan dalam mengatur keuangan keluarga, semua pasti terpenuhi. Sedangkan menjadi FTM, harus lebih pintar lagi dalam mengatur keuangan keluarga, karena penghasilan hanya dari satu dompet kan! Karenanya harap sabar ibu-ibu, belanja skin care-nya nunggu diskon yaa! Walau begitu, jadi WM sebeneranya jadi bekerja dua kali, selain kerja 9-5 WM juga harus dilanjut kerja di rumah dengan tidak meninggalkan kewajibannya sebagai seorang istri. Sedangkan FTM, walaupun tidak memiliki jam kerja yang terikat dan tidak perlu bekerja dua kali, FTM tetap memiliki jam kerja, yaitu 24 jam!

Source: Pixabay

Pada hakikatnya wanita memang ditakdirkan untuk kembali ke dapur, ranjang dan sumur. Mengutip dari penyataan seorang teman yang memiliki arti sebagai berikut: Dapur, Ibu harus memastikan seluruh anggota keluarganya dalam kondisi yang kenyang sehingga dapat menjalani hari-hari dengan baik dan tenang. Ranjang, jangan langsung berpikiran kotor ya! Maksud ranjang disini adalah, ibu harus memastikan seluruh anggota keluarganya nyaman ketika tidur, kenyamanan ini yang senantiasa menjadikan keluarga lebih harmonis. Yang terakhir Sumur, artinya Ibu harus memperhatikan penampilan seluruh keluarganya, enak dilihat. Kurang lebih seperti itu. Rasanya teori itu paling cocok bagi para FTM ya, karena mereka sudah mendedikasikan hidupnya demi keluarga. Tidak terbebani dengan pikiran yang terbagi dua antara urusan rumah atau pekerjaan. Tapi, WM juga bisa kok menerapkan teori itu.

Lalu, bagaimana dalam urusan mencari nafkah sambil mengasuh anak? Dalam agama, mencari nafkah bagi seorang wanita hukumnya tidak wajib. Uang yang dihasilkan dari seorang wanita termasuk ke dalam sedekah bagi keluarga. Tetapi, zaman sekarang rasanya tidak cukup apabila hanya suami saja yang bekerja, kebutuhan yang semakin tinggi, membuat banyak wanita yang memutuskan untuk bekerja. Keputusan ini yang harus dibayar oleh WM dengan kehilangan masa golden age anak, tidak 100% kehilangan, tapi jadi tidak maksimal. Dipenuhi rasa bersalah ketika meninggalkan anak sendirian dengan pengasuh, harus belajar mempercayai orang lain dalam merawat anak. Sedangkan menjadi FTM, bisa 100% mengikuti masa golden age anak tetapi mengorbankan gelar dan ijazah yang sudah dicari selama 4-5 tahun ditambah kesempatan-kesempatan lainnya. Belum lagi komentar nyinyir netizen-keluarga yang nambah-nambahin beban dengan bilang sayang gelar ini itu dan lainnya.

WM atau FTM semua ada konsekuensinya ya! Baik atau tidaknya semua kembali ke kebijakan Mommy dan Daddy-nya anak-anak. Komunikasi dalam pernikahan merupakan hal yang krusial. Satu hal yang perlu digaris bawahi adalah Apapun pekerjaan seorang Ibu, WM ataupun FTM, Ibu harus tetap bahagia. Karena anak hanya memerlukan Ibu yang bahagia, dengan Ibu yang bahagia anakpun akan bahagia. Sesederhana itu.

Source: Pixabay

Best regards,

Momi Kippo

18 thoughts on “Working Mom vs Full Time Mommy, mana yang lebih baik?

  1. Bener banget mba setiap pikihan ada konsekuensinya. Saya walaupun Working mom tapi alhamdulillah bisa memperthatikan anak dan anak pun deket banget sama saya hingga segede ini. Semua balik lagi bagaimana perhatian kita kepada anak. Karena kita adalah orangtua

  2. Yang penting punya tanggung jawab ya sehingga semua bisa berjalan seimbang. Jaman sudah berubah dan kita memang harus mengikutinya karena kalau tidak maka kita yang akan diam di tempat atau justru sama sekali tertinggal.

    Salam
    Okti (mfahminhk)

  3. Sama-sama baik hehe. Kalau saya memilih menjadi ibu rumah tangga karena trauma masa lalu, dan gak mau terjadi juga ke anak-anak saya. Merasa kesepian saat ditinggal kerja.

  4. Menurut aku semuanya memiliki kelebihan masing-masing. Jadi sesama Para Mom, aku pengen mereka ini tdk ada yg membully sesama para Mom baik yg Working Mom atau Fulltime mom

  5. Saya pilih freelancer karena cuma sesekali aja ninggalin anak. Dan dulu udah khatam dari full time mom, memang harus sabar banget menahan diri dari belanja belanji. tapi hasilnya sekarang walaupun udah punya tambahan penghasilan, saya gak bisa boros wkwk

  6. Setuju..apapun pilihan ada konsekuensi yang harus diemban. Ada tanggung jawab yang mengikuti. Jadi kembali pada masing-masing individu. Yang penting hepiiiii

  7. Pada akhirnya memang kesepakatan dengan suami yang bisa jadi solusi. Karena mau jadi WM ataupun FTM, harus bisa saling backup supaya pengasuhan anak juga ga keteteran.

  8. apapun pilihannya tetap ada konsekuensi dan tanggung jawab, semua pilihan ada pada diri masing-masing termasuk mempertanggung jawabkan kepada sang Pemilik.

  9. Gak ada yang lebih baik, gak ada yg lebih buruk. Semuanya punya tantangan masing2 emang ya mbak. Jd sebaiknya bersyukur dan jalani 😀

  10. Betul itu, semua ada konsekuensinya. Belum tentu ibu bekerja nggak bisa mengurus kedua hal tersebut dengan baik dan belum tentu juga Ibu Rumah Tangga dapat mengurus rumah tangga dengan baik. Ya aku blm nikah sih nggak tahu yang baik dan buruk semoga saja nanti bisa menentukan prioritas terbaik.

  11. saya pernah merasakan jadi keduanya
    ya…memang yang penting anak bahagia
    saat ini meski kembali bekerja saya terus membahagiakan sang anak yang sekolah bisa dikatakan hampir fullday
    jam istirahat saya ke sekolahnya
    menemani makan siang
    dia senang banget dan lahap makannya
    hari libur juga selalu full untuknya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *