Menikmati Jajanan Asal Jepang di Kedai Ling Ling, Bandung

Beberapa yang lalu, secara tiba-tiba Momi pengen banget makan Takoyaki. Rasanya udah lama sekali gak makan ini. Gak sengaja pas berkunjung ke rumah teman, ada Kang Takoyaki keliling lagi beberes. Pikirku, ntar aja deh ke rumah temen dulu pulangnya baru beli. Tapi ternyata nasib buruk datang, Kang Takoyakinya keburu ilang. Huhu.

Tidak mau berlarut-larut dalam kesedihan, akhirnya kita memutuskan pergi ke Kedai Ling-Ling (KLL) yang menjual jajanan khas Jepang. Cus!

Kedai terbaru dan terluas dari KLL ini terletak di Jl. Sukajadi, sejajaran dengan mal PVJ. Beruntung saat itu gak macet, karena biasanya daerah sana suka macet.

Pas kita datang suasanya sepiii banget. Sepertinya pamor KLL Sukajadi mulai menurun semenjak kedai di Jl. Sultan Agung mulai direnovasi. Saat itu pengunjung yang datang hanya kita dan sekelompok pengunjung yang gak lebih dari 5 orang.

Gak pakai lama, kita langsung pesan Ramen dan Okonomiyaki. Saat itu kita datang dengan keadaan perut lapar sekali. Beruntung waktu itu lagi ada program beli Okonomiyaki buy one get one. Ihiy!

Suasana di KLL Sukajadi ini sebenarnya sangat enak. Luas dan adem, gak perlu desek-desekan kayak di KLL Sultan Agung. Area makan terbagi menjadi dua, indoor dan outdoor. Waktu itu kita datang pas lagi hujan. Padahal suasana dibagian outdoor-nya nyaman sekali ya?

Untuk pelanggan yang cuma kita ini, menurut Momi pelayanannya cukup lama. Kita menunggu hampir setengah jam untuk ketiga makanan itu hadir di meja. Hmm..

Setelah menunggu cukup lama akhirnya pesanan kita jadi juga.

Ramen KLL

Saat itu pilihan kita pertama jatuh ke Ramen KLL. Ramen ini beneran enak lho! Bisa pilih level kepedasannya. Seperti biasa Momi pilih level paling tinggi. Penambahan level pedas pada ramen membawa rasa tersendiri. Makin wenaaak!

Porsinya juga banyak banget! Kenyang makan ramen berdua. Harga untuk satu porsi ramen KLL ini sebesar Rp 38.000 belum termasuk pajak. Worth it lah malah terbilang murah, kalau mau nyobain ramen authentic Jepang dengan modif dikit.

Baca juga: Ramen Hakata Ikkousha ada di Bandung

Okonomiyaki

Yang ini kayaknya menu favorit sepanjang masa. Perpaduan dari sayuran, telur, adonan terigu dan isiannya yang disesuaikan dengan selera, mengembalikan kenangan waktu kuliah dulu. Walau jauh dari kampus, Momi dan kawan-kawan suka makan ke sini.

Ada beraneka ragam pilihan isi untuk okonomiyaki seperti keju, octopus, crab stick, salmon, dll. Waktu itu kita pesan okonomiyaki keju dan octopus. Penampakan dari luar sih gak keliatan ya isinya apa, tapi KLL ini gak pelit isi kok.

Saus khas okonomiyaki-nya ini enak banget loh! Bikin ketagihan. Harga seporsi Okonomiyaki Rp.

Baca juga: Makan Dimsum Sepuasnya di Bamboo Dimsum

Takoyaki

Bola-bola dengan isian Octopus ini memang menarik hati. Siapa yang bisa menolak coba camilan ini? KLL memiliki Takoyaki yang enak sejajar dengan menu Okonomiyakinya.

Isian Takoyaki mirip dengan okonomiyaki. Harga seporsi takoyaki adalah Rp.

Baca Juga: Ramen Sensei, Bandung. Murah, Meriah, Mantap!

Mango Dessert

Sebenarnya ada satu menu lagi yang jadi favorit di KLL ini. Waktu itu kita udah mulai kekenyangan dan lupa juga buat pesen ini. Mango Dessert namanya.

Dessert yang terbuat dari mangga segar yang diblender dengan es batu dan disimpan di freezer untuk menghasilkan tekstur yang sedikit padat, dengan tambahan berbagai macam topping diatasnya selalu menarik perhatian. Dimakan pas panas-panas, duh rasanya nyes sekali!

Bukan hanya Mango, ada juga rasa lain seperti Lechy, Vanilla, Berries, dan lain-lain.

***

Bandung memang layak disebut sebagai kota kuliner. Berbagai jenis makanan di Bandung pasti ada, apa aja bisa jadi makanan. Dimulai dari Cireng, Cimol, Cilung, semua per-ACI-an sampai baso tahu, batagor. Untuk restopun tersedia dari berbagai macam negara, cari makanan western, ada. Makanan Sunda, jelas. Makanan India, ada. Makanan Jepang. Pasti ada!

Yuk cobain!

Ayam SPG! Ayam Goreng Serundeng dengan Sambal Yang Menggoda

Hah? SPG? Sales Promotion Girl? Tapi jualan ayam? Gimana-gimana?

Dari namanya pasti banyak yang nebak kalau Ayam SPG ini merupakan ayam yang dijual melalui SPG, atau mungkin ada yang berpikiran SPG ini singkatan lain. Nyatanya Ayam SPG ini hanyalah ayam goreng serundeng biasa yang dijual dipinggir jalan. Denger cerita sih kenapa akhirnya disebut ayam SPG karena dari dulu yang makan di warung makan ini kebanyakan SPG Yogya Kepatihan. Iya, kedai ayam SPG ini dekat sekali dengan Grand Yogya Kepatihan.

Awalnya kenal ayam SPG ini pas pertengahan kuliah sekitar tahun 2011-an. Ada ayam goreng enak dengan sambal yang mantap. Lupa siapa yang pertama kali mengenalkan ayam SPG ini, tapi aku berterima kasih karenanya aku jadi kenal ayam goreng dengan sambel terendeus!

Sebenernya ayam ini udah terkenal dari dulu. Tahun 2011 aja kedainya punya 2 apa 3 cabang ya lupa. Uniknya, cabang mereka ini gak jauh-jauh dari tenda aslinya, masih sejajaran. Jadi kayak tetanggaan gitu. Jadi, sepanjang Jl. Balong Gede isinya didominasi sama Ayam SPG.

Ayam SPG dan cabangnya

Sekarang, ayam SPG makin banyak cabangnya. Di Balong Gede sendiri, ayam SPG udah punya tempat makan yang berbentuk rumah. Gak usah ditanya deh kalau yang berupa kedai ada berapa. Nambah banyak! Bahkan, ayam SPG mulai ekspansi ke daerah yang dekat kampus. Contohnya di UNPAD DU dan UNIKOM. Cari deh ayam SPG, pasti ada.

Yang bikin laku apa sih? Mungkin selain doa ibu dan kerja keras selama bertahun-tahun, ayam SPG ini terkenal dengan harganya yang murah dan sambalnya yang pedas. Tahun 2011 nasi+ayam dihargai cuma Rp11.000 sajaaa. Murah banget kan? Cocok buat kantong mahasiswa dan para pegawai sekitar Balong Gede.

Ayam SPG ini besar-besar lho! Kadang suka gak abis saking kegedean. Nasinya juga bebas refill, ambil sepuasnya. Mantap! Sambalnya juga! Tapi, kalau cabe lagi mahal, biasanya sambalnya dijatah. Haha.

Nasi, ayam, serundeng dan sambal udah cocok banget! Maunya lagi dan lagi. Duh, jadi ngiler. Oiya, selain ayam dan serundeng ada tambahan lainnya kayak tumisan sayur dan tempe mendoan.

Sambalnya yang pedas dan endeus banget!

Semenjak ayam SPG makin terkenal untuk khalayak umum. Jl. Balong Gede mulai dijadikan kawasan wisata kuliner Balong Gede. Seharusnya dari dulu sih! Soalnya kan lokasinya dekat kemana-mana seperti Alun-Alun Bandung, Masjid Agung Jawa Barat, Kantor Pendopo Walikota Bandung dan pusat keramaian lainnya.

Kalau kalian ke Bandung dan berencana main ke tempat-tempat itu, harus banget nyobain ayam SPG ini! Carinya ayam SPG! Mau pilih yang mana pun rasanya sama aja! Endeuuuss!

Price:

Nasi+Ayam Paha Rp20.000

Nasi+Ayam Dada Rp22.000

Sayur Rp1.000

Address: Jl. Balong Gede, Bandung

Segarnya Menikmati Garang Asem Semarang di Bandung

Selamat siaaang!

Bentar lagi udah jam makan siang nih. Biasanya kalau mendekati jam makan siang gini otak udah mulai muter mikirin mau makan apa. Seperti biasa Momi kasih rekomendasi makan siang hari ini.

Garang Asem, awalnya Momi pikir ini makanan khas Cirebon, ternyata makanan ini berasal dari Semarang. Kalau Cirebon ya empal gentong. Hehe.

Ekspektasi pertama pas diajakin makan garang asem ini masih kebayang empal gentong. Sampai akhirnya tiba di resto-nya dan mulai melihat gambar menunya. Loh, kok beda ya sama yang dibayangkan? Ya jelas..

Sebenarnya masih agak maju mundur mau pesen garang asem atau soto ayam kampung. Karena dari gambarnya kurang menarik. Memang udah rejeki Momi yang harus nyobain garang asem ini, karena pas saat itu hanya tersedia menu garang asem daging sapi.

Ketika datang, dari wanginya agak menyengat. Gimana ya? Momi kurang suka makanan yang wangi serai dan daun salam terlalu menyengat. Kurang enak aja dicium.

Tapi pas dicoba, ternyata rasanya enak banget! Segeeerrr.. kirain bakalan enek sama santan. Ternyata, gak pake santan sama sekali. Garang asem dibuat pake kemiri, jadi yang putih-putih itu kemiri. Isinya menurut Momi sih terlalu banyak rempah, apa memang seperti itu? Soalnya dari semangkuk penuh garang asem, dagingnya cuma setengah. Sisanya rempah-rempah semua. Hehe.

Rasa asam segarnya, berasal dari belimbing wuluh. Baru kali ini loh Momi makan belimbing wuluh. Ternyata, selama ini Momi belum terlalu banyak menjelajah wisata kuliner nusantara!

Baca juga: Bebek Sinjay di Bandung

Ada yang menarik dari resto garang asem ini. Mereka punya emping dengan ukuran yang besar dan dibalut gula merah. Rasanya enak banget. Gurih-gurih. Gak tahu deh ini namanya apa dan apakah khas Semarang juga atau cuma ada di resto ini aja. Yang pasti enak banget nyemilin ini.

Resto garang asem ini terletak di Jl. Indrayasa, Mekar Wangi, Bandung. Sejajaran dengan ruko jasa pengiriman.

Baca juga: Pengalaman Berkunjung ke Kampoeng Sawah Bandung

Harga:

Garang asem sapi: Rp 28.000/porsi

Nasi: Rp 5.000

Sate: Rp 4.000/tusuk

Emping: Rp 2.500/keping

Kerupuk: Rp 1.000/bh

Cooking Time: Ayam Rica-Rica Kemangi

Halo! Udah weekend lagi aja nih. Biasanya kalau weekend kayak gini enaknya diisi dengan berkumpul dengan keluarga sambil makan-makan! Nah! Pas banget kan? Hari ini aku mau share resep Ayam Rica-Rica Kemangi ala Irra!

Sedikit cerita dulu ya tentang segmen Cooking Time ini. Semua bermula ketika aku mengikuti BPN 30 day challange. Ada tema pekerjaan rumah yang paling disukai, dengan mantap aku menulis tentang hobiku, Masak! Karena seluruh kehidupanku gak jauh dari masak dan makan, oleh karena itu aku memutuskan untuk menghadirkan tema ini! Cooking time with Irra. Yaaay!!

Baca juga: Cooking time: Resep Siomay Ayam Udang dan Chilli oil

Kalau begitu mari kita sudahi prolognya dan lanjut ke resep ayam rica-rica kemangi.

Bahan-bahan:

– 1 kg Ayam

– Daun Jeruk

– 1 ikat kemangi segar

– Jeruk Nipis

– 500 ml Air atau secukupnya

– Minyak secukupnya untuk menumis

– Gula, Garam, Merica dan Penyedap secukupnya

Bumbu halus:

– 4 siung bawang merah

– 4 siung bawang putih

– 5 bh cabe merah besar atau sesuai selera

– 10 bh cabe merah keriting atau sesuai selera

– 30 bh cabe merah rawit atau sesuai selera

– 1 ruas jahe

– 1 ruas kunyit

Note:

Sengaja pakai cabe merah dan keriting yang banyak biar warnanya cantik. Untuk rasa pedas bisa diatur dari banyaknya cabe rawit merah. Makin pedas makin segarrrr..

Cara membuat:

– Cuci bersih ayam lalu diamkan. Bisa dibaluri dengan jeruk nipis agar tidak terlalu amis

– Buat bumbu halus, bisa diblender atau diulek. Kalau mau diblender, tambahkan sedikit minyak agar hasilnya jadi halus banget.

– Panaskan minyak di wajan. Kemudian tumis bumbu halus dan daun jeruk sampai matang, wangi dan bau langunya hilang. Tandanya bisa dilihat dari warnanya yang berubah jadi lebih cantik.

– Masukkan air sedikit-sedikit, tambahkan gula, garam, merica dan penyedap secukupnya sesuai selera.

– Masukkan ayam, kemudian tunggu sampai ayam matang sempurna.

– Setelah ayam matang, masukkan daun kemangi dan aduk merata. Lebih enak kalau kemanginya gak terlalu layu.

– Tada! Ayam rica-rica kemangipun sudah siap disajikan.

***

Baca juga: Ayam Goreng Nelongso

Menu ini jadi menu favorit Papi G. Dia bisa makan berkali-kali. Senang rasanya ketika lihat makanan kita dinikmati dan disantap habis. Sederhananya bahagia mamak-mamak.

Ramen Sensei, Bandung. Murah, Meriah, Mantap!

Selamat siang! Siang-siang gini suka bingung ya mau makan apa. Jangan khawatir, aku mau berbagi menu makan siang yang pasti seger banget buat menemani siang mendung ini.

Ceritanya sekitar pertengahan tahun 2018 lalu ada tempat makan Ramen baru dideket rumah. Ramen Sensei namanya! Awalnya agak pesimis, ah paling gak lama! Karena orang Inhoftank sini suka bosenan, makanan baru, aneh dan mahal suka gak bertahan lama. Maklum lah range pengeluaran buat makanan kayak gitu masih kecil, warganya suka yang murah-murah, termasuk Momi! Wkwk. Etapi ternyata pikiran itu dipatahkan dengan bertahannya si Ramen ini. Sampai sekarang tempatnya tetap rame! Setelah diselidiki ya gimana gak rame, wong menunya banyak dengan harga yang bervariasi dan terhitung murah. Seneng dong jadi punya tempat baru buat nongkrong.

Sebenernya udah sering Momi ke sini, karena suka dengan citarasa kuahnya dan tekstur mie ramennya yang mirip ramen-ramen premium. Lembut banget! Toppingnya juga banyak banget tinggal pilih!

Baca juga: Hakata Ikkousha, Ramen Asli Jepang Ada di Bandung

Ada banyak pilihan kuah di Ramen Sensei ini, lengkap dengan levelnya. Kalau lagi pusing dan pengen yang pedas-pedas bisa pilih yang level 5. Kuahnya semua enak! Biar kebayang Momi jelaskan dikit ya rasa dari masing-masing kuahnya.

Kuah Original Chicken: rasa ini mirip kayak kuah Ind*mie Ayam Bawang. Gurih kaldu ayamnya kerasa banget.

Kuah Kare: kalau yang ini rasa kari ya. Gak terlalu rempah banget kok rasanya dan gak kental. Rasanya tetap light walau namanya Kare.

Kuah Oriental: kalau kuah ini agak asam gurih gitu dan sedikit kental. Harusnya ya kalau kuah asli dikasih daging kepiting gitu ya. Disini juga ada tulisannya dikasih daging kepiting, tapi jangan terlalu berharap banyak banget. Rasanya mirip telur kocok soalnya. Hehe.

Kuah Tomyam: yang ini kayaknya kuah kesukaan semua orang deh ya. Kuah asam manis gurihnya ini kerasa banget.

Kuah Suju: nah ini kalau dilihat dari deskripsinya agak bikin enek ya. Kuah Susu Keju. Tapi kalau dicobain rasanya enak dan gak bikin enek kok. Bisa dicoba buat yang penasaran rasa Susu dan Keju.

Varian Ramen

Ramen Sensei ini memiliki 2 ukuran porsi. Ada porsi jumbo dan reguler. Sebenarnya harganya gak terlalu berbeda jauh. Hanya saja porsinya itu loooh.. banyaaak banget. Kalau lagi laper banget bisa makan Ramen Jumbo. Kalau lapar biasa, yang reguler juga cukup kok.

Ramen Jumbooooo

Selain ada menu ramen kuah, di sini juga ada ramen goreng dan menu nasi kayak donburi gitu. Tapi Momi belum pernah coba. Masih setia dengan ramen kuah kesayanganku.

Baca juga: Mie Bakso Miskam Legend!

Apakah menu ramen favorit Momi Kippo? Jawabannya adalah Ramen Akhir Bulan!! Yeay! Ramen ini yang selalu memikat hati. Toppingnya sangat sederhana, hanya tahu dadu tepung dan sosis dan tidak lupa nambah kerupuk batagor dan kuah apapun level 5. Mantap tenan! Enak! Sebenernya bukan setiap akhir bulan aja kok makan ramennya, tapi memang ramen ini yang toppingnya pas! Pernah coba topping yang lain, pasti rasanya aneh. Ada yang bau kulkas, kayak kelamaan disimpen dikulkas gitu rasanya, padahal digoreng. Ada yang rasanya asin banget+bau tanah. Duh, gak lagi deh.. mending ganti-ganti kuah aja kalo bosen. Topping tetap tahu dadu+sosis aja sama tambahan kerupuk batagor kering. Pedas dan niqmat!

Ramen Akhir Bulan Superzoom

***

Verdict: Ternyata, Ramen Sensei ini tersebar di Bandung dengan banyak nama yang berbeda-beda, diantaranya Ramen Bajuri dan Shifu Ramen. Kalau kalian berkunjung ke ketiga tempat ini, kalian akan menemukan satu kesamaan. Yaaaa! Buku menunya sama persiiissss…. Kirain ya bakalan ada beda apa gitu, ternyata sama persis plek ketiplek tiplek cuma ganti nama aja. Jadi memudahkan untuk mendapat konsumen lain.

Rumah Makan Padang Enak di Bandung Yang Harus Kamu Tahu

Halo!

Selamat tahun baru 2019!! Selamat membuka lembaran baru dari kehidupan. Semoga tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya.

Tahun baru itu selalu identik dengan yang namanya liburan, apalagi waktunya bertepatan dengan libur semester anak sekolah maupun kuliah, pasti banyak banget dong yang pergi liburan. Bandung masih merupakan tempat tujuan wisata terfavorit, lengkap banget kalau mau liburan di Bandung. Mulai dari wisata alam, wisata mall, wisata taman sampai wisata selfie ada semua. Kulinernya pun gak kalah seru! Oleh karena itu, dalam rangka menyambut wisatawan lokal maupun internasional yang sedang liburan tahun baru, Momi mau berbagi tempat makan Masakan Padang ter-enak di Kota Bandung! 😆

Siapa sih yang gak suka Masakan Padang? Kayaknya masakan Padang ini selalu bisa diterima oleh lidah manapun. Rasa makanan yang pedas dan kaya akan rempah ini selalu jadi pilihan ketika kita bingung mau makan apa. Ya kan? Dikesempatan kali ini, Momi kasih tahu nih Rumah Makan Padang mana aja yang terkenal di Bandung dan harganya bersahabat! Yuk simak!

Baca juga: 5 Tempat Makan Favorit di Bandung ala #irrajajan!

1. RM Malah Dicubo

Kayaknya semua orang udah pada tahu ya dengan rumah makan ini? Selain RM Padang (RMP) yang katanya Sederhana itu, salah satu RMP paling terkenal di Bandung adalah RM Malah Dicubo! Apa sih yang buat RMP ini terkenal? Konon ceritanya, RMP ini menggunakan rempah-rempah yang dikirim dari Padang langsung. Rasanya mencerminkan Masakan Padang yang sesungguhnya.

Ada banyak cerita yang Momi dengar dari teman-teman asli Padang, mereka yang pertama kali mencoba masakan Padang di Bandung merasa kalau Nasi Padang di tempat lain tidak seperti Nasi Padang di tempat mereka. Entahlah apa bedanya, karena Momi belum pernah ke Padang sama sekali. Tapi, lain ceritanya ketika mereka langsung diajak makan ke RM Malah Dicubo ini. Semua sepakat kalau rasa masakan Padang disini sama kayak masakan Padang di sana. Tanggapan yang sama juga datang dari keluarga besan sepupu yang orang Padang, mereka suka makan di sini. So, kalau kalian mau makan masakan Padang Asli, disini tempatnya!

Untuk ragam makanannya ada banyak khas masakan Padang, tapi yang jadi favorit Momi dan Papi G adalah Daging Cincang dan Dendeng Balado! Rendang-nya juga enak, rasanya lekoh kalo bahasa Sunda. Aduh! Bayanginnya langsung ngiler nih. Nasi yang dipiring cuma dikasih satu porsi, tapi jangan sedih, selalu disediakan satu porsi tambahan dipiring kecil. Jangan khawatir kemahalan, harga nasi tambahannya cuma Rp 1.500 sajaa, eh apa Rp 2.000 ya? Ya sekitar segituan yaa! Haha.

Setelah makan yang pedas-pedas, jangan lupa ditutup dengan Es Timun Serut. Segarnya parutan timun ditambah cincau hitam, dikasih gula dan es batu. Duh, rasanya itu segeeerr banget. Menenangkan perut dan lidah yang habis bertarung melawan pedas. Nyam!

Untuk lokasinya terletak di Terminal dekat Stasiun Bandung. Tempatnya kecil, gak terlalu besar. Biasanya pengunjung yang datang ke sini pegawai PT KAI, penumpang kereta yang kelaperan, warga yang habis berbelanja di Pasar Baru atau warganet kayak Momi yang ingin merasakan citarasa masakan Padang Asli! Kalau lagi rame suka gak kebagian tempat. Siapin camilan untuk menemani nunggu tempat tersedia! Dijamin worth the wait! Seenak itu masakanannya.

Harganya cukup terjangkau, untuk dua porsi makanan sekitar Rp 50.000-75.000 tergantung dengan lauk yang dipilih.

Vedrict: yang punya RM Malah Dicubo mirip penyanyi grup vokal Lingua!

Baca juga: Bebek Sinjay ada di Bandung

2. RM Padang Tanpa Nama

Kalau disini, RMP langganan Momi! Soalnya dekat dengan rumah dan rasanya enak banget walau warnanya tidak terlalu mencolok. Menurut Momi, RMP Tanpa Nama ini merupakan dupe-nya RM Malah Dicubo. Soalnya rasanya juga khas masakan Padang, pemiliknya orang Padang asli.

Yang bikin RMP ini masuk list RMP ter-enak karena, mereka menyediakan Telor Dadar Padang!! Terharuuu.. soalnya, selama ini Momi sudah melakukan perjalanan kuliner mencari telor dadar yang dimasak dengan cara Padang kemana-mana itu susah. Even RM Malah Dicubo-pun gak punya, eh punya deng tapi kayaknya dicampur tepung. Agak lupa, soalnya seringnya gak ada si telur dadar ini. Nah! Tau kan perbedaannya? Kebanyakan RMP lain selalu mencampur telor dadarnya dengan tepung supaya tebal, sedangkan RM Tanpa Nama ini pure telor dadar tebal yang entah bagaimana caranya dimasak dengan cara Padang. Rasanya itu enak banget!!

Ada kepala kakap juga lho! Source

Telor dadar favoritkuu.. source

Masakan di RM Tanpa Nama ini kayaknya favorit semua deh. Soalnya kalau datang kesorean atau pas jam makan siang, masakannya suka habis tak bersisa. Nunggu dimasak kloter berikutnya. Rasanya memang seenak itu. Kaya akan rempah tapi gak bikin enek. Kalau mau makan makanan Padang versi lebih light, bisa ke Tanpa Nama.

Jam 20.00 dan udah mulai abis

Lokasinya berada di Jalan Moh.Toha No. kalau keluar dari pintu tol Moh.Toha, maju terus sampai kurang lebih 200 meter sebelum lampu merah, tengok ke kanan! Posisinya ada di kanan jalan. Tempatnya kecil sebenarnya dan plang namanya juga kecil dan sering ketutup pohon besar di depannya. Jadi harus lebih teliti ya nyarinya!!

Baca juga: Segarnya Menikmati Garang Asem Semarang di Bandung

3. Kedai Padang Ajo

Yang satu ini sebenernya tidak termasuk Rumah Makan Padang, masuknya Kedai karena tempat penyajian makanannya berada roda gitu. Kedai Ajo ini merupakan rumah makan portable! Haha.

Agak susah kalau mau makan di sini. Soalnya kedai ini hanya buka setiap hari Senin-Sabtu saja dan biasanya lewat dari jam 12 suka habis. Hari Minggu dan tanggal merah tutup. Jadi cuma punya waktu hari Sabtu aja buat makan di sini. Bener-bener kejar-kejaran. Haha. Tapi Kedai Ajo ini bikin penasaran. Kakak Ipar selalu cerita betapa enaknya masakan padang di sini. Sampai akhirnya minggu lalu berhasil juga makan di sini. Setelah sebulan lamanya bolak balik ke sini tempatnya tutup terus! Haha.

Lokasinya berada tepat di samping Kobe Tepanyaki. Siang-siang Kobe tutup tapinya.

Untuk menunya standar menu nasi padang. Mereka juga menyediakan kepala ikan kakap sebagai menu andalannya. Jujur, sampai sekarang Momi belum nyobain kepala ikan kakap kayak gimana rasanya. Geli. Hiii..

Kita memesan menu standar aja, rendang, ayam sayur dan cincang. Pas pertama kali mencicipi, rasa kuat rempahnya terasa banget. Bener kata Kakak Ipar kalau rempahnya disini tuh kuat banget. Tapi lama kelamaan kok berasa kayak rasa bumbu rendang instan cap pohon mangga ya? 😂

Untuk harga rendang, ayam dan cincang seporsi Rp18.000, kalau kepala ikan kalap harga seporsi Rp45.000 kalau gak salah.

***

Kesimpulannya, nasi padang favorit masih ditempati RM Tanpa Nama yang punya telur dadar padangnya itu. Malah Dicubo ada diurutan ketiga dan ternyata Nasi Padang Ajo ada diurutan ketiga karena tidak sesuai ekspektasi.

Kalau kalian? Punya RM Padang favorit juga kah? Yuk share di komen.

Waroeng Steak n Shake Konsep Baru Yang Kekinian

“Yuth, besok sibuk gak?”

“Hmm.. gak sih kayaknya, kenapa?”

“Ke WS yang baru yuk!”

“Ooo yaa Ayok!”

Itulah sepenggal percakapan dari sepupu Momi yang ngajakin makan ke Waroeng Steak yang baru di jalan BKR, Bandung. Dimanapun kalau udah diajak makan, Momi seneng aja. Langsung hayuk-hayuk. Haha.

Sebenarnya siapa sih yang gak pernah makan Steak Waroeng Steak (WS)? Kayak ya semua pernah ya, soalnya WS ini setahu Momi sudah tersebar di berbagai kota. Bukan hal baru sebenarnya makan di WS. Steak Sirloin tepungnya dan saus khas WS itu sudah menjadi signature WS. Menu favorit sepanjang masa.

Tapi bahasan kali ini ada yang berbeda, Waroeng Steak (WS) ini ada yang baru buka di dekat rumah Momi sekitar beberapa minggu lalu. Hampir sebulananlah. Hadir dengan konsep baru yang kekinian. Terkesan lebih modern dan hype banget. Berbeda dengan konsep sebelumnya yang cuma resto steak murah aja.

Desain interior yang kekinian membuat WS jadi sedap dipandang. Betah lho lama-lama nongrong di sini. WS ini deket banget dari SMPN 11 Bandung dan SMAN 11 Bandung yang dua-duanya merupakan almamater Momi. Tau bangetlah dulunya apa tempat ini. Haha. Jadi, jangan heran kalau banyak anak sekolahan makan di sini. Selain itu juga WS punya promo khusus setiap jam 14.00-20.00 untuk Sirloin Steak Single dan Chicken Steak Single harganya jadi sekitar Rp 18.000-an sesudah pajak. Lumayan terjangkau kan untuk anak sekolahan.

Kenapa ya dulu gak ada tempat nongkrong seenak ini? Nasib.

Baca juga: Weekend Escape, Dapoernya Paberik

Untuk proses pemesanan makanannya, sebenarnya sudah berubah dari lama. Konsumen diwajibkan memilih menu sendiri dan langsung bayar di kasir.

Yang bikin gemes itu adalah tempat kasirnya. Kesannya kayak lagi pesan menu fast food terkena. Desainnya ituloh, kekinian banget!

Setelah selesai bayar, kita tinggal nunggu deh waiters-nya nganterin makanan ke meja. Simple bukan? Iya kalau sepi, kalau rame? Haha.

Jadi, selama seminggu kemarin ini Momi lagi suka-sukanya makan di WS ini, terhitung tiga kali makan di sini. Hari terakhir zonk banget! Karena orang-orang pada makan di sini dan antriannya itu panjaaaang sekali. Alhasil kita nunggu dua kali. Pas antri dan pas dianterin makanan. Alhasil menu yang dipengen habis dan seadanya. Hiks.

Tapi, tetap gak kapok kok buat makan di sini. Soalnya Momi emang suka banget sama steak WS yang pake tepung itu. Unik! Mungkin bagi beberapa orang gak suka ya steak bertepung. Yaiyalah.. apaan coba steak pake tepung? Tapi itulah uniknya WS. Gak ada steak tepung yang lebih enak selain WS, untuk saat ini.

Paduan tepungnya yang krispi diaduk dengan saus khas WS. Menciptakan citarasa yang luar biasa. Momi udah terlalu lama banget gak makan WS, mungkin ini yang dinamakan rindu.

Untuk rasa Cordon Blue (padahal harusnya Bleu ya?) menurut Momi kejunya kayak udah asem gitu. Entah karena memang seperti itu rasanya karena melalui serangkaian proses memasak yang menyebabkan ya jadi berubah rasa atau kejunya tidak dalam kondisi baik? Hmm.. gak tahu deh.

Selain konsep restonya yang baru, WS juga mengeluarkan menu baru, yaitu Wagyu Steak dan Steak Saus Keju! Wagyu steak jadi menu premium di sini. Momi belum minat sih, (selain karena harganya yang mahal) juga karena menurutku WS itu ya steak tepung! Titik! 😋

Baca juga: Konro Bakar Marannu dan Nasi Goreng Merah

Steak Chicken Double Hot Cheese ini sebenarnya menu seadaanya yang Momi ceritain sebelumnya. Steak Crispy dengan saus WS keburu habis, jadilah menu ini dipilih. Ternyata, walau ini menu pengganti, rasany enak juga! Mirip saus keju yang di Fire Chicken itu loh.

Menu barunya menempati posisi kedua dihati Momi!

So far suka banget sama konsep baru dari WS ini yang lebih kekinian. Banyak spot foto yang keren-keren. Oiya, di sini juga menyediakan meeting room yang sekelilingnya dikelilingi kaca. Jadi kalau mau kumpul bareng temen-temen bisa milih ruangan itu tanpa harus mengganggu pengunjung yang lain. Wuah! Seru!

Baca juga: Eatboss, Eat Like a Boss!

***

Habis nulis ini, malah jadi laper nih. Haha. Ntar makan WS lagi ahh.. mumpung belum bosen. Hihi.

Bakso Cantika, Bakso Tulang Rusuk Yang Menggoda

Jadi, beberapa waktu lalu gak sengaja liat ini ditwitter.

Rame banget bahasan ini di jagat twitter, Bakso Tulang Rusuk dengan harga cukup murah. Bahkan dibandingkan dengan harga Bakso tulang rusuk paling terkenal di Bandung juga jauh.

Dari penampakannya kok ya menggiurkan sekali. Tulang rusuknya tumpeh-tumpeh. Lokasinyapun gak terlalu jauh (tapi sebenernya jauh sih) dari rumah. Niatnya pas tanggal 25 Desember mau nyobain. Tapi karena satu dan lain hal, barulah bisa nyicip hari minggu kemarin.

Baca juga: 5 Tempat Makan Favorit di Bandung ala #irrajajan!

Awalnya, kita kira tempat makannya ini jauh banget di daerah situ. Tapi ternyata perjalanan kemari cuma menghabiskan waktu sekitar 25 menit total mungkin karena jalanan lancar. Jaraknya juga lumayan, gak terlalu jauh gak terlalu dekat. Sekalian jalan-jalan.

Kalau ke sini tinggal ngikutin maps aja. Lokasinya sesuai tujuan, gak pake nyasar. Tempatnya tepat dipinggir jalan sebelah kiri kalau dari arah datang. Ada plang besar sebagai petunjuknya.

Kirain tempatnya kayak gimana, ternyata kita ada di halaman rumah yang punya. Mejanya pun hanya tersedia lesehan saja. Lumayan santai, bisa makan sambil selonjoran kaki.

Ternyata selain tulang rusuk Bakso Cantika juga menyediakan menu lainnya seperti tulang sum-sum. Harganya beneran murah lho! Karena tujuan utama kita membuktikan kenikmatan tulang rusuknya, maka pilihan kita jatuh pada baso+tulang.

Sambil menunggu bakso tulang disiapkan, Papi G mulai bantuin foto dokumentasi untuk postingan ini. Love you deh. Hihi.

Bisa dipesen pake grab dan bayar pake OVO juga lho!

Akhirnya yang ditunggu tiba! Bakso tulang! Wah, dari wanginya aja udah enak banget. Penampilannya sungguh menggoda. Standar bakso tulang ini dikasih 3 bakso dan 4 potong tulang iga, tanpa mie. Karena kita kelaperan sekali belum makan dari pagi, kita nambah mie yamien tanpa bakso deh satu.

Mau nangis gak sih liat porsinya yang buanyak gini. Gak sabar pengen makan! Sambil ambil foto, aku cobain rasa kuahnya. Ya ampun enak banget dong! Gak paham lagi deh ini gurihnya kuah kaldu sapi ada di sini.

Baca juga: Lomie Pangsit Ayam Enak di Bandung

Gurih kaldu sapinya gak terlalu kental dan bikin pusing kayak makan mie kocok yang di jalan Banteng, Bandung. Semuanya pas! Kayaknya ada campuran daun jeruk deh dikuahnya. Soalnya ada wangi jeruk yang bikin rasa kuahnya makin seger. Kuahnya enak gak perlu ditambah apapun. Aku makan kuah sampai habis tanpa ditambah sambal, saos, kecap bahkan cuka. Karena gak mau menghilangkan citarasanya itu loh! Khas banget.

Rasa senang makan kuahnya ini berlanjut sampai ke setiap gigitan baksonya. Kayaknya ini bakso buatan sendiri, karena rasanya enak banget dan gak kayak bakso di pasaran! Sayang sendok yang disediakan tipis banget. Jadi susah motong baksonya.

Mie yamiennya juga enak lho! Walau mie yang dipakainya mie telor instan yang gambar burung itu. Tapi paduan bumbunya enak banget. Termaafkan deh untuk pemilihan mie telornya. Harganya juga murah. Mie-nya aja tanpa bakso cuma Rp5.000 ajaaa.

Namun, rasa bahagia menikmati bakso tulang rusuk ini harus berhenti ketika kita nyobain tulangnya. Ya Allah beb! Tulang rusuknya keraaaass banget. Entah karena kelamaan difoto terus gak langsung dimakan atau emang ngegodoknya kurang lama. Pokoknya tulang rusuk yang diharapkan menjadi pelengkap hidangan bakso tulang ini sangat jauh dibawah ekspektasi.

Biasanya, kalau pesen apa-apa yang berhubungan sama tulang rusuk/iga, pasti dapetnya yang tulangnya copot-copot empuk gitu. Jadi gak mubazir walaupun cuma makan tulang iga. Beneran deh sayang banget. Kalau lagi pdkt jangan makan bakso tulang, soalnya gak bisa jaim! Kalau punya gigi rapuh juga, mendingan jangan deh. Soalnya keras dan suka nyelap-nyelap di gigi. Jadinya ku tersiksa. Huhu.

Sungguhlah tulang rusuknya failed. Sorry. Gak bisa diperbaiki walau kuah dan baksonya enak! Entah lagi apes atau karena si tulang rusuk ini gak digodog terus atau kurang lama ngegodognya atau karena gak langsung dimakan atau gak pake presto pas buatnya dan atau atau alasan lainnya, yang pasti hatiku hancur. Huhu.

Papi G sempet nanya:

“Nanti mau ke sini lagi gak?”

“Mau sih, soalnya aku suka banget sama kuahnya. Tapi kayaknya jangan pesen bakso tulang lagi deh. Mending yang biasa aja”

“Setuju!”

Yaa gimana dong, rasa daging iganya nyelip masih kerasa digigi. Huhu.

Baca juga: Mie Bakso Miskam

***

Well, kalau penasaran boleh cobain siapa tau tulang rusuknya lebih empuk dan kita aja yang lagi apes. Hehe. Lokasinya di Jl.Katapang, Andir. Di google maps ada kok, tapi lokasinya yang daerah Katapang/Rancamanyar ya! Soalnya ada juga Bakso Cantika di Soreang.

Update!

Jadi, setelah postingan ini di post. Banyak komentar yang masuk terutama dari yang udah langganan banget datang ke sini. Mereka menyarankan:

  1. Datang jam 12 teng biar kebagian tulang rusuk
  2. Mintalah tulang rusuk jangan tulang iga
  3. Bakso pedasnya mantap!

Karena penasaran minggu lalu kita ke sini lagi (13 Januari 2018), dengan syarat yang diatas. Datang jam 12 teng, minta rusuk. Kita datang jam 12 kurang kayaknya, ibunya aja lagi sapu-sapu. Masih beres-beres. Kayaknya kita pelanggan pertama deh. Langsung pesen tulang rusuk, tapi kata ibunya tulangnya dicampur sama iga. Ngg.. beklah oke aja, mau ngebandingin ada perbedaan apa.

Aku pesan bakso pedas. Hmm.. kebayang isiannya cabe semua.

Makananpun datang dan taraaa!

Ini tulang iga juga. Gak ada rusuknya. Haha. Tapiiii, yang ini lebih empuk dari sebelumnya. Walau gak empuk-empuk banget, tapi masih bisa dimakan. Sebelumnya kan gak bisa.

Untuk bakso pedasnya ternyata diluar ekspektasi.

Kirain bakso isi daging cincang plus cabe. Ternyata baksonya sendiri udah dicampur cabe rawit. Mantap!

Rasa bakso pedasnya enak banget. Pedas dan seger. Kuahnya tetap favorit dicampur minyak cabe dari bakso pedasnya bikin makin seger. Bakso Cantika ini tetap jadi idola untuk saat ini.

Adios!

Pengalaman Berkunjung ke Kampoeng Sawah Bandung

Halo! Siapa yang waktu akhir pekannya suka dihabiskan dengan keluarga besar? Cung! Keluarga Momi termasuk yang selalu menjaga silaturahmi dengan saudara. Karena waktu dan kesibukan masing-masing yang berbeda-beda jadilah kita mewajibkan untuk Arisan setiap bulannya. Nominalnya sebenarnya kecil, pesertanya banyak banget! Terkadang harus sabar sampai 2 tahun lamanya sampai kebagian menang. Tapi prinsi dari arisan keluarga ini bukan nominal yang dikejar, tetapi silaturahminya, karena kalau gak gitu bakalan susah kumpul kecuali lebaran.

Baca juga: Waroeng Steak n Shake Konsep Baru Yang Kekinian

Nah, kebetulan beberapa waktu yang lalu Momi kebagian menyediakan tempat untuk arisan keluarga. Sudah menjadi tradisi yang menang bulan lalu yang harus menyiapkan tempat untuk arisan bulan depannya. Keluarga dari Mama ini termasuk keluarga besar, mereka sepuluh bersaudara dan Mama anak ke-7. Bayangkan! Banyak banget kan? Ditambah sepupu dan keponakan-keponakan. Wah, kalau lebaran gak pernah sepi deh. Tapi yang tinggal di Bandung hanya setengahnya, walau begitu yang setengahnya ini juga cukup ramai karena uwa-uwa udah pada punya anak dan cucu. Ramailah sudah.

Sebenarnya arisan bisa saja digelar di rumah. Cumaaa semenjak tahun 2017 ada banyak acara yang menyangkut keluargaku, seperti persiapan pernikahanku ditambah awal 2018 sakit Mama makin parah, jadi kita sering banget kumpul di rumah. Gak terhitung deh arisan di rumah udah sesering apa walaupun belum kebagian menang. Jadi, keluarga pada request buat arisan di luar. Cari suasana baru gitu. Bosen. Yasud..

Baca juga: Weekend Escape, Dapoernya Paberik

Awalnya Pap Ihin merekomendasikan tempat di Ciwidey, tapi kok gak kebayang ya di mananya soalnya memang jarang banget ke Ciwidey. Sampai akhirnya cari-cari info ketemu deh tempat ini, Kampoeng Sawah.

Dari gambar di google sih kok kayaknya seru ya tempatnya, ada waterboomnya juga. Anak-anak pasti suka main air dulu. Pas diumumkan respon keluargapun senang!

Kampoeng Sawah ini beralamatkan di Jl. Gandasari No. 152, Cangkuang, Soreang, Kab. Banding. Kampoeng Sawah terdiri dari banyak Joglo untuk tempat makan lesehannya. Kitapun bisa memilih joglo-nya sesuai dengan jumlah pengunjung yang datang. Karena waktu itu jumlah keluarga yang hadir sekitar 30 orang, maka kita pilih joglo yang paling besar. Konsepnya unik! Hampir semua joglo terbuat dari kayu dan bambu, ditempatkan tepat diatas kolam ikan. Anak-anak makin senang bisa makan sambil ngasih makan ikan. Gak usah khawatir takut rubuh walau banyak orang, karena struktur bangunan joglo-nya ini kokoh banget!

Untuk acara besar gini, kita memilih menu nasi timbel komplit. Sengaja udah dialasin dari sananya biar tinggal ambil aja tanpa khawatir ada yang kekurangan.

Penataan menunya sunda banget, dengan alas piring kayu yang dilapisi daun pisang, diatasnya sudah terisi penuh dengan ayam, sayur asem, tahu, tempe, ikan asin jambal roti, sambal terasi, lalapan dan nasi timbel. Hmm.. nikmat sekali. Ayamnya enak, walau sayur asemnya agak kemanisan menurutku, tapi tertolong dengan ikan asin jambal roti yang aduhay nikmat sekali dimakan cocol sambal. Bikin lauk yang lain jadi dianggurin. Haha.

Sepaket nasi timbel komplit
Jangan lupa! Karedok!

Untuk harganya cukup standar. Seporsi Nasi Timbel Komplit ini seharga Rp 36.000. Harganya sesuai dengan isi makanannya, banyak banget. Untuk karedok harganya Rp 13.500.

Walau hari Minggu kemarin ketika kita datang pas lagi ada acara nikahan. Tapi itu semua tidak mengganggu acara kita sama sekali, karena ada area khusus tamu kondangan yang gak bercampur dengan tamu yang datang. Suasananya semakin meriah dengan diiringi musik khas kondangan, kayaknya kalau hari biasa bakalan diputerin suara suling kayak di sawah gitu deh.

Kunjungan ke Kampoeng Sawah ini menyimpan kesan tersendiri. Suasanya cukup nyaman untuk melupakan kepenatan rutinitas sejenak, sambil bercengkrama dengan keluarga besar yang cuma ketemu sebulan sekali. Silaturahmi-pun terus berlanjut. Hmm.. penasaran bulan depan acaranya di mana lagi yaaa..

Baca juga: 5 Tempat Makan Favorit di Bandung ala #irrajajan!

PS: Oiya, diawal disebutkan kalau di sini ada Waterboom. Waterboomnya itu terletak disebelahnya persis, hanya saja agak tertutup. Jadi yang punya tiket aja yang boleh masuk ke dalam. Waterboom-nya tidak terlalu luas, cukup untuk menyenangkan buah hati dalam mengisi waktu liburannya. Kampoeng Sawah jadi tempat rekreasi yang komplit!

Cooking time: Resep Siomay Ayam Udang dan Chilli oil

Kalau ditanya apa sih pekerjaan rumah tangga yang paling disukai, jawabannya adalah Cooking, baking, steaming, anything I can do in kitchen. Yup! Momi suka banget menghabiskan waktu di dapur, entah bikin apa aja yang pasti suka ngeberantakin dapur. Yang gak suka adalah beresinnya. Haha.

Beruntungnya punya suami yang suka beberes, jadinya melengkapi keluarga ini yang istrinya doyan banget ngeberantakin. Sadar punya istri suka masak dan makan yang menjadikan ritual memasak itu sebagai stress healing istrinya ini. Papi G selalu bantu sedikit-sedikit, apalagi ketika istrinya ini tiba-tiba tengah malam pengen bikin Nasi Padang. Seolah sudah yakin kalau didebat gak akan bikin perut kenyang, jadilah ia mengalah dan memilih untuk mengantarkan belanja ke Pasar Andir yang buka malam-malam demi memenuhi keinginan istrinya ini. Duh, makin sayang deh jadinya. Haha.

Sebenernya kalau disebut jago, Momi ini gak jago-jago amat masak. Cuma suka aja. Kadang sukses dalam sekali coba, tapi juga suka gagal dan harus berkali-kali bikin sampai akhirnya nemu takaran yang pas. Ya kayak bikin Siomay Ayam Udang ini. Penuh eksperimen sampai akhirnya dapat komposisi yang pas, perfecto, ngeunah, mantul!

Belakangan ini lagi seneng bikin Dimsum/Siomay Ayam Udang lengkap dengan Chilli Oil nya. Perpaduan mayonaise dan chilli oil itu udah paling pas disantap bareng sama siomay panas! Bisa habis berpuluh-puluh buah dalam sekali makan.

Penasaran gak sama resepnya apa aja? Nih Momi kasih bocoran ya! Semoga suka!

Siomay Ayam Udang

Bahan:

  • 2 bungkus kulit pangsit kuah
  • 1 kg Ayam Fillet
  • 1/2 kg udang
  • 1/2 kg wortel
  • 100 gram bawang daun (pre-nya, tapi kalau mau hemat sampai daun-daunnya juga boleh kok)
  • 1 butir bawang bombay ukuran sedang
  • 1 butir telur kocok lepas
  • 5-6 sdm tepung tapioka
  • 3-4 sdm tepung terigu
  • 2 sdm minyak wijen
  • 2 sdm saos tiram
  • Garam secukupnya
  • Gula secukupnya
  • Penyedap rasa secukupnya

Cara membuat:

  • Siapkan kukusan yang tutupnya sudah dilapisi dengan kain lap
  • Campur semua bahan menjadi satu
  • Tes rasa
  • Kalau sudah mantap bisa langsung dibentuk ke kulit pangsit.
  • Kukus selama kurang lebih 15-20 menit.

Tips!

Pastikan kulit pangsit untuk pangsit kuah. Karena ketebalan kulit pangsit berpengaruh terhadap tekstur dan rasa.

Chilli Oil

Bahan:

  • Cabe rawit merah/cengek domba kering
  • 1 siung bawang putih besar, iris tebal
  • 5-10 butir biji lada hitam, geprek
  • Batang bawang daun secukupnya, potong sepanjang satu buku jari
  • 150 ml/1 gelas Minyak goreng
  • 1 sdm minyak wijen
  • Penyedap rasa secukupnya
  • Siapkan clear area (karena sesi ini terdiri dari minyak panas dan cabe bubuk pedas)

Cara membuat:

  • Blender cabe rawit kering sampai halus
  • Simpan di wadah anti panas
  • Panaskan minyak sampai benar-benar panas
  • Masukkan bawang putih, lada hitam dan bawang daun ke dalam minyak panas. Proses ini akan sebentar karena bahan-bahan yang dimasukkan akan cepat gosong. Pastikan jangan sampai gosong ya!
  • Setelah panas dan bahan-bahan mulai menguning, langsung masukkan minyak ke wadah anti panas yang berisi cabe rawit bubuk. Hati-hati karena minyaknya akan muncrat-muncrat dan asap cabe akan menyesakkan dada.
  • Tunggu sampai dingin sekitar 10 menit, setelah itu masukkan minyak wijen dan bumbu penyedap. Biar wangi dan ada rasa.
  • Voila! Jadi deh.
  • Simpan diwadah tertutup/dikulkas agar chilli oil tahan lama

Tips!

  • Gunakan teflon untuk memanaskan minyak, agar memudahkan untuk memindahkan minyak ke wadah anti panas.
  • Bahan pelengkap bisa dibuang atau tetap disatukan, it’s up to you! Kalau aku sih disatukan terus dimakan. Enak.. haha
  • Chilli oil akan berasa banget chilli-nya setelah didiamkan semalaman. Biasanya chilli oil yang baru jadi rasanya masih seperti minyak biasa. Mulai terasa pedas setelah hari kedua atau ketiga.

Kalau pernah makan di Duck King, pasti tahu kan kalau chilli oil-nya tuh juara banget! Setidaknya chilli oil home made ini mendekatilaah…

Baca juga: Niqmatnya Bebek Sinjay Madura ada di Bandung!!

Sudah lihat tips dan cara buat siomay Ayam Udang ini kan? Gimana? Mudah bukan? Semua resepnya sudah ada di highlight Instagram @irraoctavia lho! Boleh ceki-ceki dan follow sekalian.

Bisa buka highlight #irramasak buat yang penasaran Momi udah masak apa aja sih. Kalau mau request nanya resep masakan juga boleh. Masak itu mudah lho, yuk masak!