Personal Life: Decisions Determine Destiny

Halo, udah dipenghujung Maret lagi aja nih. Kali ini aku mau cerita tentang keputusan terbesar yang pernah aku ambil dan menurutku itu membawa perubahan sangat besar dalam hidupku.

Tulisan kali ini agak berbau curhat ya gaes. Ditujukan untuk seseorang yang pernah mengisi hidupku. Agak baper gak apa-apa ya. Wkwk. Kalau kamu baca dan katanya sih, dulu tapinya yaaa gatau kalau sekarang, kamu masih suka stalking media sosial aku. Ya betul, blogpost kali ini spesial buat kamu! Ihiy!

Bismillah.

Berawal dari SMA, biasalah ya cerita roman picisan, kisah cinta anak SMA yang membawa kita hingga kelulusan dan dinobatkan sebagai The Best Couple 2009. Kalau lihat buku kelulusan SMA, dihalaman belakangnya itu ada kita. Prestasi? Gak tahu sih, yang pasti couple yang mejeng disitu gak ada yang berujung hidup bersama semuanya. Haha.

Berlanjut ketika kita mulai mencari jalan menentukan masa depan kita. Masih ingat betul kenangan ketika kita memutuskan tidak mau terpisah dan memilih kuliah di kampus yang sama walau berbeda jurusan. Kamulah jodohku, pikir kita saat itu.

Tapi ternyata Tuhan menunjukkan jalan yang lain. Walau kita satu Yayasan, ternyata kita berbeda institusi. 2009 hingga 2013 merupakan masa yang cukup menguras hati. Banyak perubahan baik dalam bidang akademis maupun lainnya. Iya, sebelum melebur menjadi Telkom University kita sempet kubu-kubuan. Perihal pakai seragam pas kuliah aja jadi problematika.

Keputusan besar itu dimulai di sini. Di kampus itu. Ketika kita memutuskan memilih kampus yang sama dengan jurusan yang sama persis kita isi di formulir pendaftaran, ujian dengan nomor urut yang berdekatan, juga dengan segala daya dan upaya yang kita lakukan demi bisa satu kampus, ternyata usaha itu dijawab dengan kita yang lulus di jurusan dengan pilihan berbeda. Aku lulus di pilihan kedua S1 Institut Manajemen dan kamu lulus pilihan ketiga, D3 Politeknik.

Masa pendaftaranpun kita lalui bersama. Kamu antar aku ke Kampus Geger Kalong, aku menemanimu ke Kampus Dayeuh Kolot. Kita kompak! Walau ternyata ujian tidak sampai disitu. Kita harus terpisahkan lagi kampusnya. Aku di Suci, kamu di Dayeuh Kolot. Tapi lagi-lagi kita bisa melewati itu semua.

Hingga akhirnya saat itu tiba. Gedung kampus baruku di Dayeuh Kolot sudah rampung, kita bersatu lagi. Beberapa kali aku menemanimu kuliah, mengunjungi kantinmu, janjian denganmu.

Tapi….

Kebahagiaan kita bersatu tak berlangsung lama. Ternyata ada kakak tingkat yang mendekatiku (cie). Biasalah kegalauan anak gadis bingung pilih yang mana. Mempertahankan hubungan yang sudah berjalan 3 tahun 10 bulan atau memulai langkah baru dengan kakak kelas yang cukup eksis di kampus.

Kalau udah denger lagu barunya Tulus yang judulnya Adu Rayu, mungkin itu lagu paling relate sama hubungan saat itu.

Long story short and you know the rest, I choose to leave him alone. Ini merupakan keputusan terbesar pada hidupku yang pada akhirnya membawa aku menjadi aku yang sekarang.

Ada sedikit penyesalan sebenarnya, why I choose that way. Karena keputusanku itu aku jadi jomblo selama 3 tahun lamanya. Karma kayaknya. Tapi dari setiap penyesalan itu aku selalu mengambil hikmahnya dan memang selalu ada hikmahnya.

Mungkin ini jalan Tuhan untuk mempertemukan aku dengan orang yang sayang padaku. Mendekatkanku dengan semua sahabatku, membuka pikiranku dan membuatku belajar banyak hal lagi.

Terima kasih buat semua yang pernah terjadi dan membuatku menjadi seperti sekarang. Tanpa keputusan itu, aku tidak akan jadi diriku sekarang.

Pada akhirnya kami lulus kuliah barengan, sebagai stranger dan tanpa pendamping wisuda. Aku lulus tepat waktu dan dia lulus telat. Lalu, entah jalan Tuhan apalagi, kami dipertemukan lagi di Kampus lain. Dia ambil S1 aku ambil S2.

Tuhan juga kasih jalan cerita penutup yang aneh. Ketika aku memutuskan untuk menikah, beberapa minggu sebelum menikah, aku menerima pesan undangan pengajian dari dirinya. Tepat ditanggal hari pernikahanku dia akan mengadakan pengajian pernikahan. Iya, dia memberi kabar bahwa dia akan menikah dalam waktu dekat di luar kota. Sungguh jalan cerita yang istimewa.

***

Begitulah kisahku tentang keputusan besar yang pernah aku ambil. Ini mah bukan bau-baunya curhat, tapi beneran curhat. Haha.

Tulisan ini merupakan kolaborasiku dengan Bandung Hijab Blogger. Diperuntukkan khusus untuk kamu dalam rangka melepaskan beban masa lalu demi kejiwaan yang lebih sehat.

Semoga kamu sehat dan bahagia selalu dengan keluarga kecilmu.

You Might Also Like

13 Replies to “Personal Life: Decisions Determine Destiny”

  1. Aku jadi senyum-senyum sendiri bacanya, apalagi bagian “melepaskan beban masa lalu demi kejiwaan yang lebih sehat.” Hihihi, nampak serupa kisahnya 😛

  2. Baca yg lain juga pada nyinggung manthaan teeh wkwk

    Aku mah 5 tahun pacaran, ditinggal begitu saja teh wkwkwk
    Tapi brp bulan kmudian lgs dapet yg baru hahaha
    #tuh da jadi we curhat

  3. Ra suer ya aku baca kamu ujian bareng biar satu kampus itu effort luar biasa dulu aku sama mantan satu kampus beda kota laaah jd ikutan curhat. I feel you soal masa muda tapi intinya bukan bermaksud buat “ngenang” mantan padahal udah nikah tapi gimana proses pembelajarannya ke diri kita. Thanks for sharing ra ♥️

  4. wah jodoh siapa yang tau ya teh, yang emang kita kira jodoh kita dulu itu ternyata kalau kata Allah SWT belum baik buat kita ya beda jalannya, semoga pada bahagia dengan jalannya masing-masing ya

  5. Kadang jalan takdir itu g terduga yaa, akupun ninggalin impianquw demi seseorang, dan orang itu ninggalin aq demi impiannya. . Ehhh, kok malah tsurhatttt tsolongannn

  6. Teh iraa ihh sama juga haha. Pas SMA aku ninggalin si pacar yang udah 2tahun bareng tapi demi cowo baru disekolah baru. Hehe atuh dan masa SMA adalah masa yang indah wew. Tapi karma kayaknya diselingkuhin juga akhirnya aku hahaha. Kadang hidup selucu itu yah. Eh maaf teh kok aku jd nyampah disini sih hihi

  7. MasyaAllah ya teh, perjalanan cerita kehidupan itu apabila diresapi dan dihayati serasa luar biasa. Jalan takdir yang sudah ditetapkan akan berjalan dengan indah. Barakallahu teh 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *